Alessandra

Alessandra
Bagian Ke 39



"Si*l." umpat David dengan nada kesal.


David mengangkat tubuhnya yang polos kemudian mengambil celana boxernya untuk dipakainya. Dokter Karen hanya menutupi tubuh polosnya dengan menggunakan selimut milik David.


Dokter Karen melihat suaminya keluar dari kamarnya membuat dokter Karen menghembuskan nafasnya dengan kasar setelesah beberapa saat David kembali ke kamarnya sambil menatap istrinya.


"Aku akan pergi ke luar kota sore ini karena ada masalah besar di perusahaan. Kamu mau ikut?" tanya David penuh harap.


"Boleh." jawab dokter Karen dengan singkat tanpa banyak berpikir.


David hanya menganggukkan kepalanya kemudian berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang lengket sekaligus menidurkan wortel importnya. Hingga lima belas menit David keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang sudah segar.


"Mandilah nanti Michael akan membawakan beberapa dress buatmu." ucap David sambil berjalan ke arah lemari pakaian untuk memakai pakaian kerja.


Dokter Karen hanya menganggukkan kepalanya kemudian turun dari ranjang lalu berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Selesai mandi dokter Karen keluar dari kamar mandi menggunakan handuk milik David. David menelan salivanya dengan kasar, ingin rasanya menerkam istrinya tapi tidak mungkin karena sebentar lagi Michael akan datang.


"Tunggu di sini dan jangan keluar." Ucap David dengan nada dingin.


"Ok." jawab dokter Karen dengan singkat.


David pun keluar dari kamar pribadinya dan berjalan ke arah pintu ruangan Ceo. Hingga sampai di depan pintu David membuka pintu ruangannya dan melihat Michael menenteng 4 paper bag dan diberikan oleh David dan David pun menerima paper bag tersebut.


David berjalan ke arah ruangan pribadinya sedangkan Michael keluar menuju ruangannya untuk membawa berkas dokumen untuk di bawa keluar kota.


David membuka pintu kamarnya kemudian berjalan ke arah ranjang dan meletakkan paper bag tersebut setelah itu barulah David berjalan ke arah kamar mandi untuk mengetuk pintu kamar mandi.


"Karen." panggil David sambil mengetuk pintu.


Dokter Karen membuka pintu kamar mandi kemudian tersenyum menatap wajah tampan suaminya dan masih menggunakan handuk.


"Bukannya tadi sudah keluar dari kamar mandi tapi kenapa masuk ke kamar mandi lagi?" tanya David dengan wajah bingung.


"Tadi ingin buang air kecil makanya masuk ke kamar mandi lagi. Pakaianku mana?" tanya dokter Karen yang melihat suaminya tidak memegang paper bag.


"Ada di ranjang." Jawab David sambil menelan salivanya berulang kali.


Dokter Karen berjalan ke arah ranjang dan membuka isi paper bag dan dengan sengaja membuka handuknya di depan David.


"Karen apa yang kamu lakukan?" tanya David sambil memalingkan wajahnya karena berusaha menahan hasratnya.


"Memakai baju memangnya kenapa?" tanya dokter Karen sambil menampilkan wajahnya yang pura - pura polos.


"Kenapa tidak menggantinya di kamar mandi?" Tanya David dengan nada protes.


"Memang kenapa? Honey kan suamiku jadi tidak apa - apakan kalau aku memakai baju di depan suamiku sendiri?" Tanya dokter Karen sambil tersenyum.


Dokter Karen menahan tawa melihat David memalingkan wajahnya tapi matanya melirik ke arahnya. Dokter Karen memakai pakaiannya kemudian mengambil bedak dan lipstik yang selalu di bawanya.


"Sudah selesai honey." ucap dokter Karen.


David sama sekali tidak menjawab ucapan dokter Karen hanya menatap dokter Karen dengan tatapan kesal.


"Kenapa honey? Bukan salahku lho kalau malam pertama kita sudah 3 kali gagal." Ucap dokter Karen.


"Apalagi salah siapa ponsel honey aktif, coba kalau dimatikan pasti honey bisa merasakan apa itu malam pertama." sambung dokter Karen sambil tersenyum jahil.


"Karen!!" Teriak David dengan nada kesal.


Dokter Karen pun berlari karena melihat David ingin menghukum dirinya.


"Marah nih Yee.." ledek dokter Karen sambil berlari-lari agar David tidak menangkapnya.


"Awas ya. "ucap David dengan nada kesal sambil berlari mengejar dokter Karen sambil memutari ranjangnya.


Dokter Karen terus berlari hingga akhirnya David berhasil menangkap tangan kanan dokter Karen sambil memeluknya dari arah belakang karena dokter Karen sudah mulai ngos - ngos-ngosan membuatnya lelah habis berlari-lari. David mencium bau aroma tubuh istrinya yang membuatnya tenang.


"Maaf Tuan sudah waktunya kita berang.." ucap Michael tidak melanjutkan kata - katanya karena melihat pemandangan yang romantis membuat jiwa jomblonya meronta-ronta.


David dan dokter Karen langsung terdiam dan menengok ke arah samping. David langsung melepaskan pelukan dokter Karen kemudian merapikan jasnya lalu berjalan ke arah Michael.


"Kenapa tidak mengetuk pintu?" Tanya David dengan nada kesal.


"Maaf Tuan Muda David, tadi saya juga berulang-ulang mengetuk pintu tapi Tuan Muda David tidak mendengarnya karena itulah saya berani masuk ke sini." Jawab Michael menjelaskan.


"Ada apa?" tanya David dengan nada dingin mengalihkan pembicaraan.


"Sudah waktunya kita berangkat Tuan Muda David. Oh ya Tuan Muda David, klien kita malam ini akan mengadakan pesta ulang tahun pernikahan di hotel xxxx." ucap Michael sambil membalikkan badannya untuk keluar dari ruangan David.


"Kamu tahu bukan Michael kalau Aku harus berhenti minum alkohol. Jadi Aku tidak mungkin datang ke pesta itu." ucap David sambil berjalan mengikuti Michael dari belakang begitu pula dengan dokter Karen.


"Hmm.. baiklah." jawab David dengan nada pasrah.


"Tuan minumlah dikit untuk menghargai mereka." ucap Michael sambil membuka pintu ruangan David.


David hanya menganggukkan kepalanya kemudian David dan dokter Karen berjalan berdampingan melewati Michael. Michael yang melihat mereka sudah keluar dari ruangan membuat Michael menutup pintu dengan rapat. Kini Michael mengikuti David dan dokter Karen dari arah belakang menuju ke tempat lift.


Ketika pintu lift terbuka David, dokter Karen dan Michael keluar dari dalam pintu lift khusus petinggi. Banyak pasang mata menatap dokter Karen dengan sangat heran sekaligus iri hati.


Hal itu dikarenakan dokter Karen bisa berjalan dengan bos yang banyak digilai para karyawannya tapi sangat sulit didekati oleh para gadis dan para wanita manapun dan hanya dokter Karen wanita pertama yang bisa berjalan berdampingan dengan bosnya.


Michael membuka pintu mobil belakang pengemudi agar David masuk ke dalam sedangkan dokter Karen membuka pintu depan dan duduk di samping pengemudi.


Hal itu tentu saja mendapatkan tatapan tajam suaminya yang bernama David. Michael memutar tubuhnya untuk membuka pintu belakang samping pengemudi kemudian menghembuskan nafasnya dengan perlahan.


"Maaf Nyonya, silahkan pindah ke belakang." pinta Michael.


"Tidak, nanti Saya dimarahin sama Tuan Muda David lagi." tolak dokter Karen secara halus.


"Pindah atau tidak usah ikut." ucap David dengan nada dingin.


"Baiklah." Jawab dokter Karen dengan pasrah.


Dokter Karen pun membuka pintu mobil nya kemudian turun dari mobil lalu menutup pintu mobil dengan rapat kemudian dokter Karen duduk di samping suaminya.


"Sudah puas?" Tanya dokter Karen sambil menaikan salah satu alis matanya.


David hanya menatap dokter Karen dengan tatapan tajam sedangkan dokter Karen hanya tersenyum manis membuat David memalingkan wajahnya ke arah samping.


Michael menutup pintu secara perlahan kemudian memutar tubuhnya kembali menuju ke kursi pengemudi. Michael mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang menuju ke arah bandara.


Singkat cerita kini mereka sudah berada di luar kota dan mereka menginap di hotel xxxx. Dokter Karen dan David sekamar sedangkan Michael di kamar sebelahnya.


"Aku mau mandi dulu." ucap David.


David masuk ke kamar mandi sedangkan dokter Karen mengeluarkan pakaian di dalam kopernya yang ternyata sudah disiapkan oleh Michael. Dokter Karen menyusun pakaiannya dan pakaian suaminya di dalam lemari hingga semuanya masuk ke dalam lemari pakaian bertepatan David sudah selesai mandi.


Dokter Karen pun masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang lengket. Hingga lima belas menit kemudian dokter Karen sudah selesai mandi, dokter Karen keluar dari kamar mandi menggunakan handuk yang menutupi sebagian dua gunung kembarnya yang menyembul keluar dan sebagian paha putih mulus terpampang jelas di mata David membuat David menelan salivanya dengan kasar.


Dokter Karen dengan santai membuka handuknya hingga menampakkan tubuhnya yang polos tanpa sehelai benang pun membuat David memalingkan wajahnya ke arah samping.


"Karen bisakah memakai baju di kamar mandi?" Tanya David sambil mengancingkan baju kemejanya.


"Sudah menjadi kebiasaanku kalau memakai baju di dalam kamar." Jawab dokter Karen dengan nada santai sambil mengambil dresnya.


"Kamu tidak malu ada pria yang melihatmu seperti ini?" Tanya David dengan nada kesal.


"Tidak, kenapa harus malu? Kan honey suamiku. Kecuali pria lain mana boleh melihat tubuh polosku ini." ucap dokter Karen dengan suara menggoda.


"Kamu tidak usah ikut pesta, biar Aku pergi sama Michael." ucap David yang tidak perduli dengan ucapan dokter Karen.


Namun dalam hatinya yang paling dalam dirinya sangat senang mendengar ucapan dokter Karen hingga akhirnya David sudah selesai memakai pakaiannya.


"Aku tahu kenapa honey tidak mengajakku? Karena honey bisa mencari penggantiku kan?" tanya dokter Karen dengan suara tercekat.


"Betul sekali. Sesuai perjanjian pernikahan kita dimana setelah 3 tahun pernikahan kita maka Aku akan menikah lagi dengan wanita lain dan wanita itu akan menjadi ibu dari anak - anakku nantinya. Selain itu semua aset hartaku akan aku berikan untuk orang yang aku cintai." ucap David sambil berjalan keluar dan tidak memperdulikan perasaan dokter Karen.


"Semoga suamiku menemukan penggantiku yang lebih baik dariku." ucap dokter Karen sambil menahan agar air matanya tidak keluar.


"Tentu saja, Dia pasti lebih baik darimu." ucap David tanpa perasaan sambil membuka pintu hotel kemudian menutupnya dengan kasar.


David sebenarnya ingin memperkenalkan dokter Karen ke rekan bisnisnya namun banyaknya musuh membuat David terpaksa mengatakan yang bertetangan dengan kata hatinya.


Mata dokter Karen menatap ke atas langit - langit kamarnya dan tidak berapa lama air matanya pun keluar.


"Tuhan, Aku sangat mencintai suamiku. Jagalah suamiku dan berikanlah suamiku kebahagiaan . Maafkan ke dua orangtuaku Tuhan, aku rela menderita asalkan orang -orang yang Aku cintai bahagia." ucap dokter Karen.


Tiba - tiba ponselnya berdering membuat dokter Karen berjalan ke arah meja di mana ponselnya diletakkan di atas meja dekat ranjang. Dokter Karen melihat di layar ponselnya tertera nama Alesandra membuat dokter Karen menggeser tombol berwarna hijau.


("Hallo." Panggil dokter Karen dengan suara serak).


("Kamu baik - baik saja?" Tanya dokter Alesandra pura - pura tidak tahu).


("Seandainya kamu dekat, ingin rasanya memelukmu untuk menangis mengurangi rasa sesak dihatiku." Jawab dokter Karen).


("Sayang sekali Aku ada di luar kota, orang tua temanku mengadakan pesta ulang tahun pernikahan di hotel xxxx dan Aku menginap di hotel xxxx." Ucap Alesandra).


("Kebetulan Aku juga ada di hotel xxxx, bisakah kamu datang?" Tanya dokter Karen penuh harap).