
"Baik kalau kamu tidak mengaku." Ucap dokter Alesandra sambil tersenyum devil.
"Aku akan menyiksanya sampai pria itu mengaku." Ucap David sambil berjalan ke arah pria tersebut.
"Dokter Doddy." panggil dokter Alesandra tanpa memperdulikan ucapan David.
"Ada apa dok?" Tanya dokter Doddy.
"Kita bawa pria ini ke tempat sinar laser untuk memotong adik kecilnya hingga menyisakan setengah." Jawab dokter Alesandra sambil memberikan kode ke arah dokter Doddy.
"Ok." Jawab dokter Doddy yang mengerti arti kode dokter Alesandra.
"Jangan! Baik Aku mengaku." Ucap pria tersebut dengan wajah ketakutan karena dirinya tidak ingin adik kecilnya di potong setengah.
"Orang yang menyuruhku adalah Tuan Black." Jawab pria tersebut.
"Tuan Black?" Tanya ulang dokter Doddy.
David, Michael dan dokter Alesandra tahu siapa Tuan Black yang di maksud pria tersebut. Tuan Black adalah musuh David, orangnya sangat licin seperti belut susah untuk di tangkap kecuali dokter Alesandra yang akan menangkapnya.
"Kalian uruslah pria ini karena Aku ingin istirahat." ucap dokter Alesandra sambil membalikkan badannya dan berjalan ke arah ruangannya.
"Dokter Alesandra tidak pulang?" Tanya dokter Doddy sambil berjalan mengikuti langkah dokter Alesandra.
"Tidak. Aku akan menginap di rumah sakit ini." Jawab dokter Alesandra sambil membalikkan badannya dan melihat salah satu bodygyuard milik David membawa pria tersebut.
"Kebetulan Aku juga menginap di rumah sakit ini, bagaimana kalau besok pagi Aku mengantarmu pulang?" tanya dokter Doddy penuh harap.
"Boleh." Jawab dokter Alesandra sambil melirik sekilah wajah tampan Michael memerah menahan amarahnya.
"Tidak boleh." Jawab Michael bersamaan namun ucapannya berbeda.
"Kenapa tidak boleh? Memang dirimu kekasihnya dokter Alesandra?" Tanya dokter Doddy.
Ketika Michael ingin bicara tiba - tiba dokter Alesandra kembali membalikkan badannya dan berjalan ke arah ruangannya. Hal itu membuat Michael tidak jadi bicara kemudian dokter Dodddy dan Michael memanggilnya.
"Mau kemana?" Tanya dokter Dodddy dan Michael dengan serempak karena melihat dokter Alesandra pergi meninggalkan mereka.
"Tidur. Aku sangat mengantuk." Jawab dokter Alesandra sambil menguap.
Dokter Alesandra masuk ke dalam ruangannya sedangkan dokter Doddy dan Michael saling membuang muka.
"Aku mau tidur." Ucap dokter Doddy.
"Terserah. Aku ingin menjaga Nyonya Karen." Ucap Michael sambil berjalan ke arah ruang tunggu ICU.
David yang malas komentar berjalan ke arah ruangan khusus untuk dirinya menginap sedangkan dokter Doddy kembali ke ruangannya.
xxxxxxxxxxxxx
Tidak terasa hari sudah mulai pagi, David perlahan membuka matanya kemudian bersandar di kepala ranjang menatap pintu yang berada di depan.
"Mommy dan daddy haruskah aku melanjutkan dendam ini?" ucap David lirih.
"Tidak aku tidak boleh lemah. Kematian orangtuaku harus di balas dengan penyiksaan. Apa yang aku lakukan tidak akan salah." Sambung David dengan nada dingin.
David bangun dari ranjangnya dan berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang lengket. Selesai mandi dan memakai pakaian kerja karena David akan pergi ke perusahaan miliknya yang berada di cabang lain.
David memiliki banyak perusahaan di mana - mana baik dalam dan luar negri. David juga memiliki orang - orang kepercayaan untuk menjalankan dan mengawasi semua perusahaan cabang miliknya.
David berjalan menuju ke ruangan icu dimana istrinya di rawat. David membuka pintu icu dan melihat dokter Karen masih menutup matanya. David duduk di samping ranjang istrinya sambil menatap wajah pucat istrinya namun masih terlihat sangat cantik.
"Aku bingung dengan diriku sendiri aku ingin menyiksamu habis - habis san tapi ketika matamu terpejam aku sangat takut kehilanganmu. Kenapa kamu membuat hatiku menjadi bimbang? Kamu bisa bela diri kenapa tidak melawanku? Kamu memberikan semua aset milik keluargaku, apakah kamu mempunyai rencana jahat padaku seperti orang tuamu?" tanya David dengan nada lirih.
Karen yang sebenarnya sudah terbangun membuka matanya dan menatap wajah tampan suaminya dengan tatapan sendu.
"Jika Tuan Muda David, tidak mempercayaiku maka siksalah dan bunuhlah Aku. Aku rela hanya saja Aku minta pada Tuan Muda David, Aku adalah wanita terakhir yang di bunuh oleh Tuan Muda." ucap dokter Karen menatap sendu suaminya dan tidak terasa air matanya kembali keluar.
"Kenapa kamu hanya pasrah ketika aku menyiksamu?" tanya David sambil menaikkan salah satu alis matanya dan menatap tajam ke arah mata dokter Karen.
"Aku.." ucap Karen ragu untuk meneruskannya.
"Aku apa?... Bukankah kamu bisa melawanku? Kenapa kamu tidak melawanku?" tanya David penasaran.
"Aku tidak mungkin melawan suamiku sendiri walau suamiku menyiksaku habis - habis san. Aku hanya bisa pasrah karena ingin menebus dosa - dosa orang tuaku di masa lalu. Aku tahu Tuan Muda David sangat sulit untuk memaafkan kesalahan masa lalu ke dua orang tuaku karena itulah aku hanya bisa pasrah dan ikhlas jika seandainya Tuan Muda David menyiksa dan membunuhku." Jawab dokter Karen sambil tersenyum.
David menatap mata dokter Karen dan tidak ada kebohongan di matanya.
"Waktu aku mencambukmu, kamu mengatakan Aku mencintaimu Sayang. Apa kamu mencintaiku? Kenapa mencintaiku? Sedangkan Aku menyiksamu." tanya David dengan wajah bingung.
"Karena Tuan Muda David adalah suamiku dan sebagai seorang istri harus setia dan mencintai suaminya dengan tulus. Walau Tuan Muda David menyiksaku sampai aku mati aku rela asalkan suamiku tidak menyiksa orang lain." jawab dokter Karen dengan nada lembut
"Kenapa kamu perduli dengan orang lain padahal orang lain belum tentu perduli dengan kita?" tanya David penasaran.
"Karena Aku tidak bisa melihat orang lain menderita, hatiku terasa sangat sakit jika tidak menolongnya." Jawab dokter Karen.
"Termasuk anak pelayan dan pelayan itu makanya kamu rela di cambuk?" tanya David.
"Apakah kamu tahu bisa saja nyawamu melayang?" Tanya David sambil menatap mata dokter Karen.
"Mungkin sudah takdirku jika nyawaku melayang asalkan bukan mereka berdua." jawab dokter Karen.
deg
Jantung David berdetak kencang mendengar ucapan dokter Karen membuat hatinya ingin belajar mencintai istrinya tapi langsung di tepis perasaan itu.
ceklek
Dokter Doddy membuka pintu dan menatap sahabatnya dan pasien sekaligus istri sahabatnya untuk di periksa. David berdiri dan pindah posisi kemudian dokter Doddy mulai memeriksa keadaan dokter Karen. Selesai memeriksa dokter Doddy menatap wajah cantik istri sahabatnya sekaligus rekan kerjanya.
'Sangat cantik istri sahabatku ini tapi sayang, Dia sudah menikah dengan sahabatku. Padahal Aku sudah lama mengejarnya tapi Karen hanya menganggapku sebagai teman.' ucap dokter Doddy dalam hati.
"Jangan lama menatapnya kalau tidak mau ke dua matamu lepas dari tempatnya. Kapan Dia pulang?" tanya David dengan nada cemburu.
deg
Jantung dokter Karen berdetak kencang ketika mendengar suaminya memanggil dirinya dengan sebutan Dia bukan menyebutnya dengan sebutan istriku.
"Sepuluh hari lagi karena lukanya belum kering." Jawab dokter Doddy.
"Panggilkan dokter yang terbaik dan usahakan dia besok harus sudah pulang" ucap David dengan nada dingin.
Selesai bicara David langsung berdiri kemudian meninggalkan mereka berdua tanpa menunggu jawaban dan kini tinggallah mereka berdua di ruang icu. Hal itu membuat dokter Doddy menghembuskan nafasnya dengan kasar menatap sahabatnya yang keluar dari ruangannya.
"Dokter Karen, nanti akan dipindahkan ke ruang perawatan karena sudah sadar." ucap dokter Doddy.
"Terima kasih dokter Doddy. Maaf sudah ngerepotin dan maaf juga untuk suamiku." ucap dokter Karen yang merasa tidak enak hati sambil tersenyum.
"Kenapa kamu bertahan dengan suami seperti itu? Padahal suamimu sering menyiksamu? Lebih baik berpisah dan menikah denganku." Ucap dokter Doddy berusaha mempengaruhi dokter Karen karena tidak tega melihat rekan kerjanya di siksa oleh sahabatnya sekaligus suaminya dokter Karen.
"Baik buruknya Dia adalah suamiku. Jadi Aku mohon sama dokter Doddy jangan berbicara seperti itu lagi karena sampai kapanpun Aku tidak akan bercerai kecuali suamiku memintaku pergi atau ada penggantiku maka Aku akan pergi sejauh mungkin." Ucap dokter Karen.
"Mengenai suamiku menyiksaku, Aku akan menerima siksaan itu karena aku tahu dosa orang tuaku teramat berat." Sambung dokter Karen.
"Kamu tidak takut mati di bunuh oleh suamimu? Jika seandainya itu terjadi di mana Tuan Muda David mempunyai kekasih dan ingin menikah lalu dokter Karen pergi. Apakah meminta harta gono gini" tanya dokter Doddy sambil melirik sekilas ke arah pintu di mana David bersembunyi di balik pintu.
"Tidak. Kalau pada akhirnya Aku harus mati terbunuh oleh suamiku maka Aku akan menerimanya karena dosa orang tuaku terlalu berat. Jika seandainya suamiku menemukan penggantiku, Aku tidak akan meminta harta gono gini." ucap dokter Karen dengan tegas.
"Kenapa?" Tanya dokter Doddy penasaran.
"Harta tidak bisa di bawa mati. Apalagi Aku seorang dokter dan bisa melamar pekerjaan di perusahaan swasta jadi Aku tidak perduli dengan hartanya." Jawab dokter Karen.
"Sejak dulu Aku sangat salut denganmu tapi sayang Kamu selalu menolakku dan tahu - tahu dirimu menikah dengan sahabatku." ucap dokter Doddy yang tidak menggunakan bahasa formal.
"Terima kasih atas pujiannya. Maaf dulu aku menolakmu karena Aku selalu menganggapmu sebagai kakak dan tidak lebih." Ucap dokter Karen.
"Tidak apa - apa mendingan seperti ini Kakak dan Adik. Oh ya kalau misalnya di balik, David yang membunuh orang tuamu apakah kamu akan membalas dendam?" tanya dokter Doddy mengalihkan pembicaraan.
"Tidak?" jawab dokter Karen dengan singkat.
"Kenapa?" tanya dokter Doddy dengan wajah terkejut.
"Jika Aku dendam padanya dan Aku membunuh Tuan Muda David ataupun orang tua Tuan Muda David, apakah orangtuaku akan kembali lagi ke dunia ini? Jawabannya pasti tidak bukan? Karena yang Aku tahu dendam yang di simpan akan membawa penyakit. Aku hanya bisa berdoa semoga orang tuaku tenang di sana dan orang yang membunuh orang tuaku cepat sadar dan menyadari akan kesalahannya." ucap Karen dengan nada tegas.
Dokter Doddy terkejut mendengar ucapan dokter Karen yang mempunyai hati baik dan tidak mempunyai rasa dendam sedikitpun. Tanpa sepengetahuan dokter Karen kalau David mendengar semua ucapan dokter Karen membuat hatinya semakin bimbang.
David yang tidak ingin berlama - lama di balik pintu membalikkan badan dan berjalan menuju keluar dari rumah sakit untuk pergi ke kantor cabang perusahaan.
David duduk di kursi belakang pengemudi sedangkan asisten yang bernama Michael duduk di kursi belakang. Michael mengendarai mobil dengan kecepatan sedang.
"Telephone anak buahku untuk bergantian menjaga wanita itu." ucap David dengan nada dingin.
"Maksud Tuan Muda David, wanita yang mana?" tanya Michael dengan wajah bingung.
"Wanita yang terluka karena Aku cambuk dan sekarang berada di rumah sakit." Jawab David yang enggan menyebutnya dengan sebutan istriku ataupun nama istrinya.
"Baik Tuan Muda." jawab Michael dengan singkat.
Tidak berapa lama mereka sudah sampai, bunyi suara sepatu pantopel berbenturan di lantai marmer lobby. Banyak para wanita menatap kagum akan ketampanan bos dan asisten bosnya.
Mereka menyapa bos dan asisten bosnya sambil berusaha menarik perhatian dengan berdandan menor dan seksi tapi David dan Michael tampak acuh tanpa menjawab sapaan mereka. Hingga akhirnya David dan Michael berjalan menuju lift khusus petinggi.
ting
Pintu lift terbuka, David dan Michael masuk ke dalam kotak persegi empat tersebut kemudian menekan tombol angka dua puluh lima.
ting
Pintu lift terbuka kemudian mereka keluar dari kotak persegi empat tersebut dan berjalan ke ruangan pribadi milik David. David duduk di kursi kebesaran sedangkan Michael berdiri di belakang David. David mengecek semua dokumen satu persatu dan tidak berapa lama dirinya sangat marah dan memukul meja dengan sangat keras.
brak