
Selesai mengatakan hal itu tangan kiri Alesandra digerakkan sedangkan tangan kanannya mengarahkan pistolnya tepat ke arah dada milik Pangeran Ke 2 hingga terdengar.
Dor
Dor
"Akhhhhhhhhhhhhhh!" teriak Pangeran Ke 2 dan pelayan tersebut bersamaan.
Bruk
Bruk
Terdengar suara letusan tembakan namun terdengar pelan karena senjata tersebut menggunakan alat peredam suara sedangkan suara teriakan ke dua orang tersebut tidak bisa di dengar oleh orang - orang yang berada di luar kamar. Hal itu dikarenakan Alesandra menggunakan ilmu sihir agar penghuni istana tidak masuk ke dalam kamar Pangeran Ke 2.
Selesai menembak Alesandra menggoyangkan pistolnya dan ajaib pistol tersebut menghilang. Alesandra memutar pergelangan tangannya dan darah segar yang keluar dari dada mereka berdua menghilang bersamaan peluru yang ada di dalam tubuh mereka berdua.
Pangeran Ke 9 yang melihat kejadian tersebut hanya menatapnya tanpa mengeluarkan suara sedikitpun dikarenakan dirinya sangat kaget dengan apa yang dilakukan oleh Alesandra.
"Apakah Mereka sudah mati?" Tanya Pangeran Ke 9 memastikan.
"Tentu saja." Jawab Alesandra sambil berjalan ke arah ranjang.
Pangeran Ke 9 yang melihat Alesandra berjalan ke arah ranjang membuat Pangeran Ke 9 mengikuti langkah Alesandra hingga Alesandra berhenti. Alesandra mengusap wajah Pangeran Ke 2 di mana sepasang matanya melotot kemudian berlanjut ke arah pelayan.
"Oh Aku tahu, kamu sengaja mengusap wajah mereka berdua agar tidak ada yang curiga." Ucap Pangeran Ke 9 yang bisa menebak apa yang dilakukan oleh Alesandra.
"Tepat sekali." Jawab Alesandra.
"Aku ingin sekali memegang senjata yang kamu pegang sekaligus menggunakannya." Ucap Pangeran Ke 9 penuh harap.
'Apakah bisa?' Tanya Alesandra dalam hati yang berbicara dengan sistem.
Tiba - tiba waktu berhenti bersamaan kedatangan sistem yang berupa kucing orange yang sangat imut dan menggemaskan.
"Sebenarnya bisa dengan menggunakan sihir tapi jika terlalu banyak digunakan akan membuat penghuni istana curiga kenapa banyak penghuni istana yang meninggal dunia dengan cara mendadak."
"Memang benar apa yang Kamu katakan terlebih sebentar lagi target selanjutnya adalah Pangeran Ke 3 dan tentu saja Pangeran Ke 9 pasti ingin membunuh Selir Kemonceng yang selama ini mengira ibu kandungnya selain itu pasti Pangeran Ke 9 juga ingin membunuh keluarga Selir Kemonceng." Ucap Alesandra.
"Tepat sekali."
"Apakah ada cara lain? Seperti contohnya mereka mati ketimpa barang atau kecebur sumur atau apa saja. Kematian yang mendadak dan berbeda - beda, aku rasa tidak masalah karena yang terpenting para penghuni kerajaan tidak curiga kalau Mereka sengaja di bunuh dengan cara di tembak." Ucap Alesandra memberikan solusi.
"Lakukan saja apa yang Nona lakukan asalkan masuk akal."
"Oke." Jawab Alesandra dengan singkat.
Sistem itupun langsung menghilang bersamaan waktu berjalan seperti biasanya.
"Baiklah, akan Aku berikan senjata dan senjata itu namanya pistol peredam suara." Ucap Alesandra.
"Pistol peredam suara?" Tanya ulang Pangeran Ke 9.
"Ya, pistol peredam suara di mana untuk menembak seseorang dari jarak jauh ataupun jarak dekat dan di dalamnya ada peluru. Aku akan memberikan sihir untuk Pangeran Ke 9 agar Pangeran Ke 9 bisa menembak tepat mengenai jantungnya agar orang itu langsung mati di tempat." Jawab Alesandra.
"Peluru?" Tanya Pangeran Ke 9.
"Ya peluru, seperti ini." Jawab Alesandra sambil menjentikkan jarinya dan muncul dua butir peluru kemudian diperlihatkan ke Pangeran Ke 9.
"Tanpa peluru ini, maka pistol itu tidak bisa digunakan." Sambung Alesandra.
"Jadi dengan peluru ini bisa membunuh orang dengan cara cepat dan kecepatannya melebihi dari pedang?" Tanya Pangeran Ke 9 memastikan.
"Tepat sekali." Jawab Alesandra.
"Baik Aku mengerti." Ucap Pangeran Ke 9.
"Baik Aku mengerti, apa ada yang lainnya?" Tanya Pangeran Ke 9 .
"Sebentar Aku pikir dulu ... (sambil berpikir) ... Oh ya ada satu lagi ... Jangan buat mereka mati dengan cara yang sama." Jawab Alesandra.
"Maksudnya?" Tanya Pangeran Ke 9 tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Alesandra.
"Mereka mati karena di tembak tapi buat seolah mereka mati karena kecebur sumur atau mati karena berada di dalam ruangan yang sangat sempit dan lain sebagainya." Jawab Alesandra.
"Baik Aku mengerti." Ucap Pangeran Ke 9.
"Bagus, sekarang kita berlanjut ke istana Pangeran Ke 3." Ucap Alesandra sambil tersenyum karena Pangeran Ke 9 cepat menangkap apa yang dikatakannya.
"Baik." Jawab Pangeran Ke 9 dengan singkat.
"Kalau begitu kita terbang ke atas genteng." Ucap Alesandra sambil bersiap untuk terbang.
"Tunggu, Kita tidak usah terbang menuju ke istana Pangeran Ke 3." sambung Pangeran Ke 9 .
"Jika kita tidak terbang, lalu apakah kita berjalan kaki menuju ke istana Pangeran Ke 3?" Tanya Alesandra penasaran.
"Kita tidak berjalan kaki tapi dengan cara menghilang." Jawab Pangeran Ke 9 .
"Caranya?" Tanya Alesandra.
"Cukup pegang tanganku dan nanti kita sudah sampai di istana Pangeran Ke 3." Jawab Pangeran Ke 9 .
"Kenapa tidak bilang dari tadi?" tanya Alesandra sambil berjalan ke arah Pangeran Ke 9 kemudian berdiri tepat di sampingnya.
"Kamu tidak bertanya." Jawab Pangeran Ke 9 merasa tidak bersalah.
Alesandra hanya bisa mendengus kesal sedangkan Pangeran Ke 9 sama sekali tidak perduli. Pangeran Ke 9 dan Alesandra saling berpegangan tangan kemudian menghilang dari kamar milik Pangeran Ke 2.
Whushhhhhhhhhhhhh
Kini Pangeran Ke 9 dan Alesandra berada di kamar Pangeran Ke 3 di mana sedang tertidur dengan lelap bersama selirnya.
'Aku ingin berada di kamar Selir Kemonceng dan orang tua dari selir Kemonceng jadi berikan aku pistol.' bisik Pangeran Ke 9 tepat di telinga Alesandra.
Cup
Tindakan Pangeran Ke 9 membuat Alesandra merasa geli, hal itu membuat Alesandra memalingkan wajahnya ke arah samping dan tanpa sengaja Pangeran Ke 9 mencium pipi Alesandra.
Alesandra menatap kesal ke arah Pangeran Ke 9 sedangkan Pangeran Ke 9 hanya memalingkan wajahnya ke arah samping dengan wajah bersemu merah.
'Ini pistolnya." Ucap Alesandra sambil memutar tangannya.
Tidak berapa lama muncul di tangannya dua pistol satu untuk dirinya dan satu lagi untuk Pangeran Ke 9 namun Pangeran Ke 9 mengambil ke dua pistol tersebut tanpa menatap ke arah Alesandra.
"Cukup satu saja, tidak perlu membawa dua." Ucap Alesandra.
"Bukankah kamu bilang kalau di dalam pistol ini ada pelurunya untuk menembak seseorang?" Tanya Pangeran Ke 9 sambil menatap ke arah wajah cantik Alesandra.
'Di lihat dari dekat ternyata Alesandra sangat cantik.' sambung Pangeran Ke 9 dalam hati.
'Kenapa Aku tidak bisa membaca hatinya?' Tanya Alesandra dalam hati.
"Benar." Jawab Alesandra dengan singkat.
"Kalau pelurunya habis, bagaimana? Sedangkan Aku akan membunuh Selir Kemonceng dan keluarga dari Selir Kemonceng. Jika aku gunakan pasti pelurunya habis lalu apakah Aku harus menggunakan pedang?" Tanya Pangeran Ke 9 .