Alessandra

Alessandra
Novel : Suamiku Seorang Psycophath 23



Waktu Berhenti


"Dua pria yang berada di ujung bersiap mengarahkan pistolnya ke arah pemilik tubuh dan Tuan Leon."


"Baik kalau begitu berikan Aku satu pak kartu domino." Ucap Alessandra.


"Pembelian satu pak kartu domino berhasil dan poin di kurangi dua ratus poin."


"Mahal banget." Ucap Alessandra.


"Karena pembelian kartu domino sangat tinggi jadi toko dengan sengaja menjual kartu domino dengan harga jual tinggi."


"Ish ... Ish ... Ish ... Nanti Aku bikin bangkrut toko nya." Ucap Alessandra dengan nada kesal.


"Penjual toko domino mendengar jadi harga domino yang di beli Nona menjadi lima ratus poin jadi poin di kurangi lagi tiga ratus poin."


"Ish ... Ish ... Ish ... nyebelin banget." Ucap Alessandra dengan nada kesal.


"Karena itulah Nona jangan memarahi sistem karena yang ada Nona rugi sendiri."


Alessandra hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan perlahan kemudian mengambil dua kartu domino.


Waktu Berjalan Seperti Semula


Ctak


Ctak


"Akhhhhhhhhhhh!" teriak ke dua pria tersebut bersamaan.


Bruk


Bruk


Alessandra melempar dua kartu domino ke arah kening ke dua pria tersebut hingga ke dua pria tersebut berteriak kesakitan sambil melepaskan pistol yang mereka pegang lalu ambruk dengan tubuh kejang-kejang dan tidak berapa lama ke duanya menghembuskan nafas terakhirnya.


Hal itu tentu saja membuat Leon dan yang lainnya sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya.


"Itulah hukuman bagi orang yang menyerang Kami secara diam-diam." Ucap Alessandra.


"Sayang lebih baik mereka di tahan di kantor polisi." Sambung Alessandra pada Leon.


"Tapi ..." Ucap Leon terpotong oleh Alessandra.


"Mereka sudah lumpuh jadi sudah cukup hukuman untuk mereka." Ucap Alessandra yang tahu kalau Leon ingin menyiksa mereka dengan sangat menyakitkan dan berakhir dengan kematian yang sangat tragis.


Grep


"Hubungi kantor polisi setelah itu Kita pergi dari sini!" Perintah Leon sambil memeluk pinggang Alessandra dari arah samping.


"Baik Tuan." Jawab bodyguard tersebut sambil mengeluarkan ponselnya.


'Semoga Tuan dan Nyonya hidup bahagia dan mempunyai anak karena berkat Nyonya membuat Tuan tidak kejam seperti dulu.' Ucap bodyguard pertama dalam hati.


'Aku sangat bersyukur berkat Nyonya Leon, Tuan Leon tidak sekejam dulu.' Ucap bodyguard ke dua dalam hati.


Bodyguard pertama menghubungi polisi setelah selesai barulah mereka pergi meninggalkan tempat tersebut.


"Bagaimana ini Tuan? Aku tidak ingin di tangkap." Ucap anak buahnya.


"Kamu pikir Aku mau di tangkap? Lebih baik Kita pergi dari sini." ucap pemimpinnya sambil menarik tubuhnya dengan menggunakan ke dua tangannya.


Ke lima anak buah nya yang masih hidup mengikuti apa yang dilakukan oleh pemimpinnya namun baru beberapa langkah datang mobil hitam dan berhenti tepat di depan mereka.


Tujuh pria keluar dari mobil tersebut kemudian menatap mereka dengan tatapan membunuh.


"Dasar Kalian tidak berguna! Lebih baik Kalian ma x ti." Ucap salah satu pria tersebut dengan nada satu oktaf.


"Tuan Mokondo, ampuni Kami." mohon pemimpin tersebut.


"Tidak ada ampunan buat Kalian." Ucap Tuan Mokondo dengan wajah datar dan nada dingin.


"Tembak mereka!" Perintah Tuan Mokondo


"Baik Tuan." Jawab anak buahnya dengan patuh.


Dor Dor Dor


Dor Dor Dor


"Akhhhhhhhhhhh !" teriak ke enam pria tersebut bersamaan.


Bruk Bruk Bruk


Bruk Bruk Bruk


Ke enam anak buah Tuan Mokondo tanpa punya rasa empati sedikitpun menembak ke enam pria tersebut tepat di keningnya membuat mereka berteriak kesakitan kemudian tubuh mereka kejang-kejang. Tidak membutuhkan waktu lama ke enam pria tersebut meninggal dunia dengan mata melotot.


"Kita pergi dari sini dan menjalankan rencana selanjutnya." Ucap Tuan Mokondo sambil berjalan ke arah mobilnya.