
'Dia anak pembunuh ke dua orang tuaku karena itu Aku akan menyiksanya dan Aku tidak memperdulikan kesakitanmu. Jadi tunggulah besok siksaanmu.' Ucap David dalam hati.
'Saat ini kamu boleh tidur di ranjangku tapi mulai besok kamu akan tidur di lantai." sambung David dengan senyum menakutkan.
David tidur membelakangi istrinya dan tidak berapa lama diapun tertidur pulas. Tanpa sadar David membalikkan tubuhnya dan memeluk dokter Karen begitu pula dengan dokter Karen memeluk suaminya sambil kepalanya bersandar di dada bidang suaminya.
Pagi hari yang cerah, sepasang suami istri siapa lagi kalau bukan dokter Karen dan David saling berpelukan dan memberikan kehangatan. Perlahan David membuka matanya dan melihat wajah cantik istrinya yang masih setia memejamkan matanya yang sangat dekat dengan wajahnya.
'Istriku sangat cantik dan baru kali ini Aku merasakan tidurku sangat nyenyak... Tidak... Tidak... Aku tidak boleh mencintainya dia anak pembunuh ke dua orang tuaku.' ucap David dalam hati.
Sejak David kecil melihat penyiksaan dan pembunuhan orang tuanya di depan matanya membuat David kecil sulit untuk tidur sampai dirinya belum menikah.
Sejak kecil David diberi obat penenang oleh paman dan bibinya karena setiap malam David sering berteriak histeris membuat tidur mereka terganggu.
Kemudian ketika beranjak remaja hingga David belum menikah sering mengkonsumsi alkohol agar dirinya tidak tergantung dengan obat penenang. Namun ketika dirinya menikah dengan dokter Kasandra dirinya bisa tidur dengan pulas untuk pertama kalinya.
"Akhhhhhhhhhhh!" Teriak dokter Karen kesakitan.
David dengan sengaja mendorong dokter Karen dengan sekuat tenaga hingga terjatuh dari ranjang dan kepalanya terbentur mengenai ujung meja membuat dokter Karen berteriak kesakitan.
"Bangun pemalas! Siapkan air hangat untuk aku mandi!" Bentak David.
"Baik Tuan Muda David." Jawab dokter Karen dengan lirih sambil menahan rasa sakit pada kepalanya dan bokongnya.
Dokter Karen berusaha untuk bangun kemudian berjalan sambil menahan rasa sakit menuju ke arah kamar mandi. Dokter Karen menyalakan air hangat di bathup sambil menunggu penuh dokter Karen membasuh wajahnya kemudian menyikat gigi.
"Aku harus kuat, ini tidak sebanding siksaan yang di terima oleh orang tua David. Semoga siksaan yang Aku terima ini bisa mengurangi dosa ke dua orang tuaku." ucap dokter Karen dengan nada lirih.
"Tuhan, maafkan kedua orang tuaku. Aku rela menerima siksaan ataupun harus mati di tangan suamiku sendiri asalkan bisa mengurangi dosa - dosa masa lalu ke dua orang tuaku." ucap dokter Karen dan tidak terasa air matanya mengalir.
Di rasa cukup dokter Karen mematikan kran air yang berada di bathup kemudian memberikan aroma mint setelah selesai dokter Karen keluar menemui suaminya.
"Tuan Muda David, sudah selesai." ucap dokter Karen sambil menundukkan wajahnya.
"Mengganggu jalanku saja." Ucap David sambil mendorong tubuh dokter Karen hingga terjatuh di lantai.
"Maafkan saya Tuan Muda." ucap dokter Karen sambil berusaha menahan rasa sakit pada tubuhnya.
David hanya diam dan tidak membalas ucapan dokter Karen, David masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri sedangkan dokter Karen mengambil satu set pakaian kerja milik suaminya termasuk kaos kaki dan sepatu.
Setelah selesai dokter Karen mengganti sprei dengan yang baru kemudian berlanjut memunguti pakaian milik suaminya yang berserakan di lantai.
Setelah beres semuanya barulah dokter Karen duduk di sofa sambil memegangi kepalanya yang terasa pusing dan tidak berapa lama pintu kamar di ketuk seseorang membuat dokter Karen berjalan ke arah pintu.
Dokter Karen membuka pintu kamarnya dan melihat seorang pelayan membawakan nampan yang berisi dua makanan dan dua gelas minuman.
Dokter Karen menerimanya kemudian pelayan tersebut pergi meninggalkan dokter Karen. Dokter Karen berjalan ke arah sofa bersamaan David keluar dari kamar mandi.
Dokter Karen meletakkan nampan tersebut di atas meja dekat sofa kemudian berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang lengket.
"Sopir menunggumu di luar jadi jangan lama - lama mandinya." Ucap David.
"Baik Tuan Muda." Jawab dokter Karen dengan patuh sambil masuk ke dalam kamar mandi.
Dua puluh menit kemudian dokter Karen keluar dari kamar mandi dan melihat kamarnya kosong kemudian menatap ke arah nampan di mana makanan dan minuman habis tanpa sisa di mana David mengajak Michael makan bersama.
"Sabar Karen." Ucap dokter Karen.
Dokter Karen berjalan ke arah lemari kemudian mengambil dress berikut dalaman lalu memakainya.
"Hari ini Aku akan ke kantor dulu untuk menyerahkan semua aset milik ke dua orang tuaku dan semua milikku di mana sudah Aku pindahkan atas nama Tuan Muda David." Ucap dokter Karen.
Dokter Karen memakai bedak dan lisptik, walau sederhana namun terlihat sangat cantik. Dokter Karen keluar dari kamar hotel di mana sopir pribadi milik David sudah menunggunya.
"Paman, tolong antar ke perusahaan xxxx." ucap dokter Karen.
"Baik Nyonya." Jawab sopir tersebut sambil mengendarai mobil dengan kecepatan sedang.
Dokter Karen terdiam sambil menatap ke arah jalan raya hingga dua puluh lima menit kemudian mobil tersebut berhenti tepat di depan lobby perusahaan xxxx.
"Paman, ini uang buat Paman." ucap dokter Karen sambil memberikan dua lembar uang warna merah.
"Maaf Nyonya, tidak usah." Jawab sopir tersebut.
"Ini rejeki untuk Paman dan rejeki tidak boleh di tolak." Ucap dokter Karen.
"Terima kasih Nyonya. Semoga Nyonya selalu banyak rejeki, selalu sehat dan selalu bahagia." ucap sopir itu dengan nada tulus.
"Amin. Terima kasih atas doa Paman." ucap dokter Karen sambil menutup pintu mobil itu dan berjalan menuju perusahaan milik orang tuanya yang sebentar lagi akan pindah kepemilikan menjadi nama suaminya.
Dokter Karen berjalan memasuki lobby perusahaan dan banyak orang menyapanya dengan ramah. Dokter Karen pun membalas sapaan mereka dan terkadang sambil tersenyum. Selama ini perusahaan di kelola oleh Ayahnya dokter Karen dan di bantu oleh dokter Karen karena itulah para karyawan dan para karyawati mengenal dokter Karen.
ceklek
Dokter Karen masuk ke dalam ruangan meating dan melihat semua orang sudah hadir.
"Maafkan Saya terlambat." ucap dokter Karen sambil menundukkan kepalanya meminta maaf.
"Lain kali jangan terlambat, kalau bekerja itu harus profesional!" Bentak seseorang pria.
'Suara itu seperti suara tuan David." ucap dokter Karen dalam hati.
Jantung dokter Karen berdetak kencang mendengar suara bariton yang sangat familiar di telinganya membuat dokter Karen mendongakkan kepalanya dan melihat wajah suaminya yang sangat menyeramkan.
Dokter Karen hanya tersenyum kemudian menatap satu persatu para pemegang saham. Dokter Karen kemudian berdiri dari tempat duduknya sambil menatap satu persatu para pemegang saham.
"Sekali lagi maafkan saya, karena saya terlambat datang." ucap dokter Karen sambil tersenyum dengan ramah.
Semua terkejut mendengar penjelasan dokter Karen termasuk David dan juga asistennya Michael. David sangat terkejut karena dirinya tidak menyangka perusahaan milik orang tuanya kembali lagi.
"Tuan Rey." panggil dokter Karen.
Rey yang di panggil langsung memberikan satu persatu dokumen ke pemegang saham.
"Berarti Nyonya sudah tidak bekerja di sini lagi?" tanya salah satu orang pemegang saham.
"Sudah tidak lagi." jawab dokter Karen sambil tersenyum.
" Kenapa diberikan kepada tuan Tuan David Aliandro?" tanya pemegang saham lainnya.
"Tuan David Aliandro berhak penuh atas perusahaan ini karena perusahaan ini milik almarhum orang tuanya." jawab dokter Karen yang tidak menjelaskan secara detail.
"Kenapa bisa?" tanya para pemegang saham dengan serempak.
Mereka tidak tahu karena orang tua dokter Karen mengganti semua para pemegang saham hal itu dikarenakan para pemegang saham dulunya satu persatu di bunuh oleh orang tua dokter Karen dan digantikan dengan orang - orang baru yang membeli sahamnya.
"Karena perusahaan ini milik orang tua Tuan Muda David Aliandro sedangkan kami hanya menjalankan perusahaan ini." Jawab dokter Karen berbohong.
Dokter karen tidak mungkin mengatakan kalau sebenarnya perusahaan yang selama ini dipimpin oleh Ayahnya dan dirinya di ambil secara paksa oleh ke dua orang tua dokter Karen.
"Menjalankan atau orang tuamu mengambilnya dengan cara licik?" tanya David sambil tersenyum sinis.
Dokter Karen hanya terdiam ketika David mengatakan yang sebenarnya, dokter Karen hanya menghembuskan nafasnya perlahan sambil menahan air matanya agar tidak keluar.
"Maaf, saya ada keperluan. Mengenai pemindahan saham sudah saya berikan ke pengacara saya tuan Rey." ucap dokter Karen mengalihkan pembicaraan.
Selesai mengatakan hal itu dokter Karen membereskan semua dokumen miliknya dengan cepat.
"Terima kasih atas kerja samanya selama ini dan maafkan keluargaku bila ada kesalahan baik di sengaja maupun tidak di sengaja. Sekali lagi saya mohon pamit dan mengundurkan diri dari perusahaan ini." ucap dokter Karen.
Dokter Karen berjalan ke arah pemegang saham kemudian menyalami satu persatu hingga di depan David, David memalingkan wajahnya membuat dokter Karen hanya tersenyum dan melewati suaminya.
"Sejak kepimpinan Nyonya Karen perusahaan ini semakin maju, sayang sekali kalau Nyonya keluar dari perusahaan ini." ucap salah satu pemegang saham.
"Iya benar." jawab mereka dengan serempak.
"Perusahaan ini maju berkat kita semua bukan karena saya. Sekali lagi terima kasih atas kerja samanya." ucap dokter Karen dengan tulus.
David dan Michael terkejut mendengar ucapan dokter Karen yang tidak sombong. Tapi mata hati David sudah tertutup karena dendam terhadap dokter Karen.
Dokter Karen berjalan menuju pintu keluar meating baru beberapa langkah David mengatakan sesuatu yang membuat hatinya semakin sakit.
"Baguslah Kamu tahu diri mengembalikan semua asset milik orang tuaku." ucap David dengan nada sarkas.
Dokter Karen hanya terdiam dan menatap wajah tampan suaminya dengan sendu sambil menahan agar air matanya tidak keluar kemudian memalingkan wajahnya ke arah depan dan berjalan menuju keluar pintu meating.
'Aku merasa Nyonya Karen bukanlah wanita mata duitan atau tamak. Nyonya Karen sangat baik mengembalikan perusahaan yang bukan miliknya." ucap Michael dalam hati.
'Cih, kamu berbuat seperti ini agar mendapat simpatiku itu tidak akan, kamu sama seperti orang tuamu sangat tamak.' ucap David dalam hati.
Merekapun melanjutkan rapatnya hingga dua jam lamanya barulah rapat itu selesai kemudian Tuan Rey mendekati tuan David sambil membawa dokumen.
"Maaf Tuan. Ini dokumen pemindahan kepemilikan saham, pemindahan kepemilikan mansion Dacosta dan beberapa apartemen mewah juga tanah serta semua aset lainnya." ucap tuan Rey sambil memberikan beberapa dokumen tersebut ke David.
"Maaf tuan silahkan ditanda tangani." sambung Tuan Rey.
David membaca isi dokumen tersebut dengan sangat teliti kemudian menandatangani dokumen tersebut.
"Saya minta yang aslinya untuk berjaga - jaga dari mereka yang sangat tamak." ucap David dengan nada dingin.
"Silahkan Tuan." jawab Tuan Rey dengan patuh.
David memberikan dokumen asli tersebut ke asistennya kemudian Mereka berdua berjalan meninggalkan tuan Rey seorang diri.
'Tuan David. Anda salah besar Nyonya Karen adalah gadis baik dan bukan gadis tamak. Nyonya Karen bisa memberikan nasehat ke dua orang tuanya untuk menyerahkan semua asset yang bukan miliknya. Saya yakin suatu saat nanti Tuan akan menyesali dengan perkataan tuan barusan.' ucap Tuan Rey dalam hati.
Tuan Rey menghembuskan nafasnya dengan kasar dan berjalan keluar dari ruangan meating tersebut menuju ke kantornya.
xxxxx
Dokter Karen berjalan dan masuk ke dalam ruangan kerjanya. Dokter Karen mengambil foto - foto keluarga dan barang pribadinya kemudian dimasukkan ke dalam dus. Setelah membereskan semuanya dokter Karen berjalan mengintari ruangan kerja untuk yang terakhir kalinya dan tidak terasa air matanya mengalir.
'Semoga apa yang Aku lakukan ini bisa mengurangi dosa - dosa orang tuaku.' ucap dokter Karen dalam hati.
Setelah puas dokter Karen berjalan menuju keluar meninggalkan ruangannya dan berjalan menuju ke pintu lift khusus karyawan.
Ketika pintu lift terbuka dokter Karen masuk ke dalam kotak persegi empat tersebut. Dokter Karen menekan tombol lift lantai satu hingga beberapa saat kemudian dokter Karen keluar dari kotak persegi empat tersebut ketika pintu lift terbuka.
Dokter Karen berjalan sambil membawa 1 dus barang pribadinya dan berpamitan ke anak buahnya. Banyak yang terkejut dan menangis karena kepribadian dokter Karen dalam memimpin perusahaan sangat baik karena itu mereka sangat kehilangan. Sebab dokter Karen tidak semena - mena terhadap para karyawannya.
"Semoga kalian semua selalu bahagia dan betah bekerja di sini. Aku minta tunjukkan kinerja kalian agar bos kalian yang baru sangat puas dengan pekerjaan kalian." ucap dokter Karen dengan suara lembut sambil tersenyum manis menutupi luka hatinya.
"Baik Nyonya. Semoga Nyonya selalu bahagia." ucap mereka dengan serempak.
Mereka bersalaman membuat dokter Karen membalas uluran tangan mereka. Selesai bersalaman dokter Karen berjalan menuju keluar lobby meninggalkan perusahaan yang dipimpin selama 3 tahun lebih bersama Ayahnya.
'Aku tidak jadi mengambil mobilku walau itu hasil jerih payahku. Aku akan membeli motor sport dari uang tempat Aku bekerja sebagai dokter.' ucap dokter Karen dalam hati.
Dokter Karen keluar dari perusahaan tersebut dan bersiap untuk menghentikan taksi yang terkadang suka lewat.
Baru saja dokter Karen ingin melambaikan tangannya sebuah mobil warna putih berhenti tepat di depan dokter Karen.