Alessandra

Alessandra
Bagian Ke 19



Dokter Sandra tanpa sadar menarik tangan pria itu kemudian memeluk sambil memutar tubuhnya hingga dokter Sandra lah yang terkena luka tusukan.


Jantung dokter itu berdetak kencang untuk pertama kalinya ketika dokter Sandra memeluknya. Bau harum tubuh dokter Sandra membuat dirinya tenang.


Dokter Sandra menatap wajah pria itu bersamaan ke dua tangannya melepaskan pelukannya dan tubuhnya mulai limbung. Untunglah pria itu menahan tubuh dokter Sandra agar tidak terjatuh dan tidak berapa lama matanya tertutup.


"Si*l, matilah kalian berdua." ucap pria yang tadi menusuk dokter Sandra.


Tangan pria itu merasa basah dan menarik tangan kirinya ada noda darah membuat pria itu terkejut kemudian menendang pria tersebut hingga tidak sadarkan diri.


Kemudian pria tersebut menghubungi seseorang dan sambungan pertama langsung di angkat.


("Datang ke xxxx dan bawa mereka ke markas dan tunggu aku datang. Pakailah motor wanita yang berada dekat mereka dan kuncinya tersimpan di bawah batu" ucap pria tersebut dengan nada dingin).


tut tut tut tut tut


Tanpa menunggu jawaban pria tersebut memutuskan sambungan komunikasi secara sepihak kemudian menyimpan kembali ponselnya.


Pria itu menggendong dokter Sandra yang sudah tidak sadarkan diri untuk di bawa ke mansionnya. Pria itu mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi.


Hanya membutuhkan waktu dua puluh menit pria itu sudah sampai di mansion kemudian pria itu memarkirkan mobil secara asal dan seorang bodyguard membuka pintu agar bosnya segera keluar dari mobil.


Pria itupun keluar dan memutar tubuhnya kemudian membuka pintu mobil belakang untuk menggendong dokter Sandra menuju ke kamarnya yang tidak pernah di tempati selain dirinya.


Semua penghuni mansion sangat terkejut melihat bosnya untuk pertama kalinya membawa seorang gadis yang tidak sadarkan diri.


"Ambilkan air hangat dan handuk." ucap pria itu sambil melangkahkan kakinya menaiki anak tangga dua langkah sekaligus.


"Baik tuan." ucap kepala pelayan.


Kini pria tersebut dan dokter Sandra sudah berada di kamar pribadi milik pria itu di mana dokter Sandra adalah gadis pertama yang tidur di ranjangnya.


Seorang pelayan datang sambil membawa handuk dan air hangat. Pria itupun menerimanya dan meminta kepala pelayan meninggalkan mereka berdua.


glek


Pria itu melepaskan jaket dokter Sandra hingga terlihat jelas bentuk lekuk tubuh seksinya. Berkali - kali pria itu menelan salivanya menahan hasrat yang sudah lama mati dan kini tiba - tiba muncul kembali.


Dulu sewaktu pria tersebut pacaran hanya sekedar berciuman dan terkadang melihat masing - masing tubuh polos tanpa sehelai benangpun tanpa melakukan hubungan suami istri hanya memuaskan satu sama lain.


Berkali - kali kekasihnya meminta hubungan suami istri tapi pria itu berkali - kali tidak mau atau menolak dengan tegas karena dirinya ingin menikmatinya ketika mereka sudah resmi menikah itulah mengapa kekasihnya selingkuh dan menguras hartanya untuk memenuhi gaya hidupnya yang glamour.


Sejak kekasihnya mengkhianati dirinya membuat keinginan mencari penggantinya langsung hilang begitu pula dengan hasratnya sudah mati di ganti dengan kebencian teramat sangat terhadap semua wanita.


Kekasihnya yang ingin kembali tidak diperdulikannya karena perasaan cintanya sudah lama mati ketika wanita itu mengkhianatinya.


Pria itu memiringkan dokter Sandra dan mengangkat kaos yang sangat ketat tampak luka akibat tusukan pisau.


Pria itu melap tubuh dokter Sandra kemudian mengobati dengan menggunakan ramuannya yang tidak ada efek samping. Setelah selesai Pria itu melepaskan kaos dokter Sandra hingga tampak bungkusan yang menutupi dua gunung kembarnya.


"Si*l kenapa adikku jadi tegang terus padahal melihat gadis atau wanita tanpa sehelai benangpun adik kecilku tidak tegang tapi ini adik kecilku sudah terasa sesak." ucap Pria itu.


Karena tidak kuat menahannya Pria itu melepaskan sisa pakaian dokter Sandra yang masih melekat ditubuhnya begitu pula dengan dirinya melepas semua pakaiannya hingga tubuh mereka polos tanpa sehelai benangpun.


"Maaf, aku terpaksa melakukan ini tapi aku janji tidak akan aku masukkan adikku ke punyamu." ucap Pria itu sambil menahan tubuhnya di atas tubuh dokter Sandra.


Pria itu mencium bibir dokter Sandra kemudian meluma*nya terasa manis sambil salah satu tangannya memi**n salah satu gunung kembar milik dokter Sandra.


"Akhhhhhhhh..."


Tiba - tiba dokter Sandra yang belum tersadar mengeluarkan suara merdunya karena mendapatkan perlakuan Pria tersebut. Seperti janjinya pria tersebut tidak di masukkan ke privasi dokter Sandra hanya mengg***k - ge**kkan tombak saktinya ke bagian privasi milik dokter Sandra.


Ketika wortel importnya hendak memuntahkan laharnya, pria itu berjalan dengan langkah cepat menuju ke kamar mandi untuk melanjutkannya.


Kini Pria itu sudah membersihkan dirinya dan memakai pakaian santai. Pria itu mengambil kemeja kesayangannya kemudian diletakkan di ranjang sebelahnya.


Berkali - kali Pria itu menahan dirinya untuk tidak menerkam dokter Sandra ketika dirinya hendak membersihkan tubuh dokter Sandra.


Pria itu memakaikan dalaman dan celana panjang milik dokter Sandra kemudian dilanjutkan memakai kemeja kesayangannya di tubuh dokter Sandra.


"Hahh... Akhirnya selesai juga, sungguh sangat tersiksa." ucap Pria itu.


"Kamu cantik, apakah kamu sama seperti wanita diluaran sana yang hanya menginginkan hartaku?" sambung Pria itu sambil menatap sendu dokter Sandra.


Pria itu membelai pipi dokter Sandra karena lelah pria itu tidur di ranjang miliknya bersebelahan dengan dokter Sandra sambil memeluk dokter Sandra dari arah belakang dan menghirup wangi tubuh dokter Sandra sambil memakai selimut. untuk menutupi tubuh mereka berdua.


Tidak berapa lama pria itu tertidur dengan pulas dan tanpa sadar dokter Sandra membalikkan badannya menghadap pria tersebut kemudian kepalanya berbaring di dada kekar sambil tangan kanannya memeluk Pria itu. Mereka tidur sambil berpelukan mencari kenyaman masing-masing.


Malam berganti dengan pagi hari suara burung saling bersahutan. Perlahan dokter Sandra membuka matanya.


'Kenapa aku bisa tidur bersama pria yang menyebalkan ini?' Tanya dokter Sandra dalam hati.


Dokter Sandra mengingat kejadian semalam waktu dirinya pingsan.


'Apakah pria ini yang membawaku ketika aku pingsan.' sambung dokter Sandra dalam hati.


Dokter Sandra melepaskan pelukannya dan juga pelukan tangan kekar yang memeluk pinggangnya secara perlahan. Setelah berhasil dokter Sandra membuka selimutnya dan matanya lagi - lagi membulat sempurna karena dirinya memakai kemeja pria.


'Kenapa aku pakai kemeja pria ini? Apakah Dia melakukan sesuatu padaku tapi punyaku tidak perih.' Ucap dokter Sandra dalam hati.


'Dia memang pria baik karena tidak mengambil kesempatan dalam kesempitan. Aku akan memasaknya sebagai ungkapan terima kasih karena telah menolongku." sambung dokter Sandra dalam hati.


Dokter Sandra pun turun dari tempat tidur dan berjalan ke arah kamar mandi untuk membasuh wajahnya.


"Siapa tahu ada sikat gigi baru." ucap dokter Sandra sambil membuka isi lemari di dalam kamar mandi.


"Syukurlah ada yang baru aku akan ambil satu dan memakai odol pria itu." ucap dokter Sandra sambil membuka bungkusan sikat gigi yang masih baru.


Setelah selesai membasuh wajah dan menyikat gigi, dokter Sandra keluar dari kamar pribadi Pria tersebut kemudian berjalan menuruni anak tangga sambil berfikir.


'Aku semalam kena luka tusuk di pinggangku hari ini bersih tanpa ada bekas. Apakah pria itu memberikan obat sekaligus racun pada tubuhku? Setelah pulang dari sini Aku akan mengeceknya.' ucap dokter Sandra dalam hati.


Tidak berapa lama dokter Sandra sudah sampai di dapur banyak pelayan yang sibuk melakukan rutinitas sehari - hari.


"Selamat pagi nona." sapa mereka semua dengan ramah.


"Selamat pagi." jawab dokter Sandra sambil tersenyum.


"Ada yang bisa saya bantu nona?" tanya kepala pelayan.


"Aku ingin memasak buat tuan...." ucap dokter Sandra yang menggantungkan kalimatnya karena tidak tahu namanya.


"Maksud Nona, Tuan Muda Federick? Maaf Nona, Tuan Federick jarang sarapan pagi biasanya kopi dan nanti siang baru tuan Federick makan itupun hanya sedikit." jawab kepala pelayan menjelaskan.


"Hmm... Saya akan coba memasaknya kalau Tuan Federick tidak mau makan biar Aku saja yang makan dan bibi bisa ikut makan." ucap dokter Sandra sambil berjalan menuju kulkas.


"Maaf nona nanti tuan akan marah." ucap kepala pelayan dengan wajah ketakutan.


"Tenang saja Bi. Aku yang akan bertanggung jawab apa yang terjadi nantinya." ucap dokter Sandra.


Kepala pelayan itupun hanya bisa pasrah dan membiarkan dokter Sandra memasak.


Dokter Sandra melihat di dalam kulkas hanya ada cumi dan udang serta wortel akhirnya dokter Sandra meracik bumbu untuk membuat nasi goreng seafood.


Sebelum meracik bumbu, dokter Sandra menggulung rambut panjang dan berwarna hitam hingga menyerupai sebuah konde. Hingga tampak leher putih mulus tanpa noda membuat pria siapa saja menelan salivanya.


Di tempat yang sama hanya berbeda ruangan di mana pria tersebut atau Federick meraba tempat tidur mencari dokter Sandra tapi tidak ada membuat Federick memaksakan membuka matanya dan melihat di samping dokter Sandra sudah tidak ada.


"Kemana dia? apakah di kamar mandi?" tanya Federick.


Federick bangun dari ranjangnya dan berjalan ke arah kamar mandi dan mengetuknya karena tidak ada jawaban Federick membukanya secara perlahan.


"Mungkin dia sudah pergi, sudahlah lebih baik aku mandi dan berangkat ke kantor." ucap Federick dengan wajah kecewa.


Federick membuka seluruh pakaiannya hingga polos kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Matanya membulat sempurna melihat bathup yang sudah terisi air hangat dan sudah di campur dengan aroma wangi khas dirinya.


"Siapa yang menyiapkannya? dan airnya hangat. Apakah gadis itu?" tanya Federick.


Senyuman yang sudah lama hilang kini muncul lagi di kala dirinya diperhatikan oleh wanita yang tidak dikenalnya.


"Kenapa aku bisa sesenang ini ya? Di mana Aku pertama kalinya diperhatikan oleh seorang gadis." ucap Federick.


Federick masuk ke dalam bathup setelah 20 menit Federick menyelasaikan ritualnya kemudian memakai handuk dan keluar dari kamar mandi. Lagi - lagi dirinya tersenyum melihat pakaian kerjanya sudah disiapkan oleh dokter Sandra.


"Sayang dia sudah pergi." keluh Federick sambil memakai pakaian kerjanya.


Tinggal memakaikan dasi, Federick keluar dari kamarnya menuruni anak tangga sedangkan dasinya hanya di kalungkan dan belum di ikat. Bau harum masakan dari dapur tercium di hidung mancungnya.


"Bibi!!!" teriak Federick dengan suara menggelegar.


Kepala pelayan itupun berjalan dengan cepat menuju ke Federick karena mendengar teriakkannya di pagi hari membuat jantungnya berdetak kencang karena dirinya sangat takut terkena hukuman dari Federick.


"Iya tuan." jawab kepala pelayan dengan tubuh gemetar.


"Siapa yang masak!!" teriak Federick dengan pandangan mata yang tiba - tiba menggelap.