Alessandra

Alessandra
Bagian Ke 17



"Jangan membantah perintah suami." Jawab dokter Karen.


"Nah lakukanlah." ucap David.


"Baiklah mulai besok pakaian ini sudah tidak ada lagi." ucap dokter Karen dengan pasrah.


'Waduh.. semua pakaian santaiku seperti ini celana pendek dan kaos ketat. Hanya satu dres saja buat pergi masa memakai pakaian dres seperti orang mau pergi? Sisanya pakaian kantor dan lingernie.' Ucap dokter Karen dalam hati.


'Besok Aku akan pergi membeli beberapa potong baju santai dan juga baju tidur nanti kalau dapat kerjaan baru beli lagi.' Sambung dokter Karen dalam hati.


Dokter Karen mengambil piring David kemudian mengisi nasi dan lauk pauk kemudian barulah dirinya. Karen mengangkat sendoknya yang berisi nasi berserta teman - temannya dan dimasukkan ke mulut tapi dokter Karen merasa dirinya diperhatikan dan melirik ke arah suaminya yang sedang menatapnya.


"Ada apa Tuan Muda David? Kenapa Tuan Muda David tidak makan? tanya dokter Karen dengan wajah bingung sambil meletakkan kembali sendoknya ke piring.


"Makan!" perintah David dengan tegas tanpa menjawab pertanyaan dokter Karen.


Dokter Karen pun memasukkan sendoknya ke arah mulutnya dan mulai mengunyahnya.


"Aku ingin tahu, apakah makananmu ini ada racunnya atau tidak." ucap David sambil menyendokkan makanannya ke nasi berserta teman - temannya juga.


uhuk uhuk uhuk uhuk


Dokter Karen tersedak ketika mendengar ucapan David dan David tanpa sadar meletakkan sendoknya kemudian memberikan gelas berisi air agar dokter Karen tidak tersedak lalu menepuk - nepuk punggungnya dengan perlahan.


Dokter Karen menerimanya kemudian meminumnya dengan pelan - pelan karena dirinya masih terbatuk - batuk. Lagi - lagi tanpa sadar David mengusap punggung dokter Karen agar berhenti tersedak.


"Terima kasih." ucap dokter Karen sambil tersenyum bahagia karena suaminya memperhatikan dirinya walau kecil tapi sangat berarti baginya.


David sangat terkejut dan melepaskan tangannya yang tadi mengusap punggung dokter Karen.


"Lain kali kalau makan itu pelan - pelan." ucap David dengan ketus.


"Baik Tuan Muda David." jawab dokter Karen.


'Padahal aku tersedak gara - gara ucapannya. Rasanya ingin sekali piring ini kumasukkan ke dalam mulutnya yang pedas itu.' umpat dokter Karen dalam hati.


"Kamu mengumpatku?" tanya David sambil menatap tajam ke arah dokter Karen.


"Tidak." jawab dokter Karen sambil memalingkan wajahnya ke arah lain karena dirinya berbohong.


David memegang dagu dokter Karen kemudian menarik dengan perlahan wajah dokter Karen agar menatap wajahnya. David menatap wajah cantik dokter Karen hingga pandangan David tertuju pada bibir istrinya.


'Bibirnya membuat Aku ingin mengecupnya.' Ucap David dalam hati.


'Kenapa Aku dekat dengan istriku jadi mesum?' Tanya David dalam hati sambil masih menatap bibir dokter Karen yang berwarna pink.


"Jangan berbohong padaku, jika tidak maka kamu akan mendapat hukuman." ucap David sambil menatap dokter Karen dengan tatapan mesum.


Walau wajah mereka berhadapan tapi dokter Karen tidak menyadari tatapan mesum suaminya karena dirinya sedang bingung antara jawab jujur atau berbohong.


"Aku tidak mengumpat tuan. Mungkin hanya perasaan Tuan Muda David." ucap dokter Karen sambil memejamkan mata karena takut ketahuan kalau dirinya berbohong.


David tersenyum kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah dokter Karen yang matanya masih terpejam.


cup


Ciuman singkat membuat David menginginkan kembali, tangan kiri David menahan tengkuk leher dokter Karen agar bisa puas mengecupnya semakin lama berubah menjadi *******. David menggigit bibir bawah dokter Karen agar mulutnya terbuka dan lidahnya dimasukkan ke dalam mulut dokter Karen.


Dokter Karen tanpa sadar mengalungkan ke dua tangan nya ke leher David. Tangan kanannya tidak bisa diam sibuk memegang salah satu gunung kembar milik istrinya yang pas di tangannya membuat tubuh dokter Karen seperti tersengat aliran listrik membuat dokter Karen mengeluarkan suara merdunya.


Hingga dokter Karen kehabisan pasokan oksigen membuat dokter Karen menepuk punggung David agar menghentikan ciumannya. David yang mengerti langsung melepaskan ciumannya sambil tersenyum bahagia.


"Masih tidak mau mengaku? Apa hukumannya mau di tambah?" Tanya David kemudian menjilati bibirnya bekas ciuman pertama mereka.


"Iya Aku mengumpat, Aku tersedak akibat Tuan Muda David menuduhku kalau semua makanan ini aku kasih racun." Jawab dokter Karen dengan nada cemberut


"Karena Kamu mengumpatku maka aku akan menghukummu." ucap David.


"Terserah Tuan Muda mau menghukumku karena Aku tidak takut tapi nanti saja karena Aku sangat lapar." ucap dokter Karen sambil mengambil sendoknya.


Namun ketika sendok yang sudah ada makanannya dan ingin dimasukkan ke dalam mulutnya, tiba - tiba sendoknya di tahan oleh David dan diarahkan ke mulutnya membuat dokter Karen membulatkan matanya tidak percaya.


"Itu bekas mulutku, apa Tuan Muda David tidak merasa jijik?" tanya dokter Karen dengan wajah terkejut.


"Tidak." jawab David singkat setelah selesai menghabiskan makanannya.


"Kenapa?" tanya dokter Karen dengan wajah masih terkejut.


David terdiam sambil berfikir untuk mencari jawabannya sedangkan dokter Karen menunggu jawaban David.


"Karena piringmu tidak ada racunnya maka piringnya aku tukar." ucap David dengan nada santai.


"Tapi..." ucapan dokter Karen terpotong oleh David.


"Apakah piringku ada racunnya makanya kamu tidak mau?" tanya David dengan nada curiga.


Dokter Karen hanya bisa menghembuskan nafasnya secara kasar karena melihat suaminya yang belum percaya sepenuhnya. Dokter Karen meletakkan sendoknya ke piringnya kemudian menukar dengan piring David.


"Sudah Aku tukar. Apakah Tuan Muda David sudah puas?" tanya dokter Karen sambil menatap ke suaminya dengan tatapan kesal.


Tatapan kesal istrinya membuat David tersenyum, senyuman yang sudah bertahun - tahun lamanya hilang ketika orang tuanya terbunuh dengan cara tragis.


Dokter Karen mulai makan tanpa memperdulikan tatapan David karena saat ini dirinya memang sangat lapar. Merekapun makan dalam diam tanpa ada pembicaraan sama sekali. David memakan dengan sangat lahap hingga semua makanan yang ada di atas meja habis tanpa sisa.


Hanya menyisakan piring - piring kotor, gelas - gelas kotor dan mangkok yang kotor karena tidak bisa di makan. Hehehehehe ....


Dokter Karen berdiri dan bersiap untuk membereskan piring - piring kotor, mangkok dan juga gelas tapi di larang oleh David.


"Tinggalkan saja karena ada pelayan yang akan membereskannya." ucap David.


"Tapi.." ucapan dokter Karen terpotong karena mendapat tatapan horor suaminya.


Dokter Karen pun langsung terdiam dan tidak berani protes, dokter Karen berjalan berdampingan dengan suaminya. namun tidak ada pembicaraan sama sekali membuat dokter Karen merasa bosan sehingga ada niat menjahili suaminya.


"Aku langsung ke kamar ya." ucap dokter Karen sambil melangkahkan kakinya dengan cepat ke arah anak tangga.


"Makanan yang tadi Aku masak ada racunnya, jadi Aku harus buru - buru minum obat." jawab dokter Karen sambil berlari ke arah kamarnya dan tersenyum jahil.


"Apa? Dokter Karen!!!!" teriak David dengan wajah terkejut sambil berlari mengejar istrinya.


Dokter Karen berlari dengan cepat menuju ke arah kamarnya, sampai di dalam kamar dokter Karen mengambil obat yang sebenarnya vitamin kulit.


brak


Wajah David memerah menahan amarah dan membuka pintu kamarnya dengan kasar kemudian merebut obat yang di pegang oleh dokter Karen. David mengira obat itu adalah penawar racun kemudian memasukkan ke mulutnya sambil meminum air mineral yang berada di atas meja.


"Hahaha... kena juga Aku kerjain." ucap dokter Karen sambil tertawa lepas.


"Apa maksudmu?" tanya David dengan wajah bingung.


"Tuan Muda David percaya kalau masakanku ada racunnya? Dan Tuan Muda David juga percaya kalau obat itu adalah penawarnya?" tanya dokter Karen sambil tersenyum dengan suara menggoda.


"Si*l berarti aku di ..." ucap David menggantungkan kalimatnya sambil menatap kesal ke arah dokter Karen karena dirinya dibohongi.


"Hahaha... Obat itu hanya vitamin jadi Tuan Muda David hanya minum vitamin bukan obat penawar racun." ucap dokter Karen sambil tertawa dan berjalan mundur karena suaminya berjalan mendekatinya.


"Dokter Karen!!" teriak David dengan nada kesal.


"Ada apa Tuan Muda David?" Tanya dokter Karen dengan suara menggoda sambil tersenyum jahil.


Dokter Karen berlari sambil memeletkan lidahnya membuat David mengejar dokter Karen. Dokter Karen tertawa sambil berlari memutari ranjang di mana ranjang tersebut berada di tengah - tengah.


Karena tubuh dokter Karen lelah habis berlari membuat dokter Karen berhasil di tangkap oleh David dengan cara memeluknya dari arah belakang


David kemudian mendorong tubuh dokter Karen ke arah ranjang membuat dokter Karen tidur terlentang membuat David menaiki tubuh dokter Karen.


"Karena Kamu sudah membohongiku jadi terimalah hukumanmu." ucap David yang sudah tidak bisa menahan hasratnya.


David yang sejak tadi selalu menahan hasratnya kini dirinya sudah tidak bisa menahan lagi dan ingin menuntaskan hasratnya ke dokter Karen. Apalagi dokter Karen merupakan istri sahnya, jadi wajar saja bila melakukan hubungan suami istri.


David mengecup bibir dokter Karen yang sudah mulai menjadi candunya. Sambil berciuman tangan David menarik kaos dokter Karen hingga terlepas dan entah bagaimana tubuh mereka kini polos tanpa sehelai benangpun.


Dari bibir pindah ke leher dan memberikan banyak stempel di tubuh dokter Karen. David yang ingin merasakan indahnya surgawi bersiap memasukkan wortel importnya ke milik privasi dokter Karen tapi bertepatan dengan ponsel milik David berdering membuat David kesal dan menghentikan kegiatannya.


David berdiri sambil berjalan ke arah meja dengan tubuh polos membuat dokter Karen tersenyum malu dan menutupi tubuh polosnya dengan menggunakan selimut.


("Ada apa?" tanya David tanpa basa basi)."


("Tuan penjualan senjata kita saat ini gagal karena ada pengkhianat. Selain itu banyak anak buah kita yang terluka, sebentar lagi saya dan anak buah ke sana memberikan bantuan." ucap Michael menjelaskan secara singkat).


tut tut tut


"Si*l." ucap David sambil memakai pakaian kembali dan keluar meninggalkan dokter Karen sendirian di kamarnya.


"Pasti ada masalah aku akan membantunya." ucap dokter Karen sambil turun dari ranjang.


Dokter Karen mengambil laptopnya dan mulai mengutak atik laptopnya setelah selesai dokter Karen mengambil dan memakai pakaian yang agak tertutup dan jaket hitam juga tas ransel hitam di tempat tersembunyi


Dokter Karen langsung menghubungi ke dua sahabatnya untuk meminta bantuan sambil keluar dari kamarnya .


("Hallo Alessandra, aku butuh bantuanmu." pinta dokter Karen).


("Aku ada di depan mansion milik suamimu, Kamu minta bantuan apa?" tanya dokter Alesandra pura-pura tidak tahu).


("Kebetulan Kamu datang. Tunggu Aku, nanti Aku ke sana." ucap dokter Karen).


("Oke." jawab dokter Alesandra dengan singkat).


tut tut tut tut tut


Dokter Karen menghubungi sahabat satunya yang bernama dokter Sandra dan sambungan pertama langsung di angkat.


("Sibuk tidak? aku butuh bantuanmu." ucap dokter Karen tanpa basa basi).


("Tidak, bantuan apa?" tanya dokter Sandra).


("Datang ke jl. xxxx dan ikuti mobil warna hitam dengan nomer polisi xx xxxxx xx." ucap dokter Karen menjelaskan secara singkat).


tut tut tut


Dokter Karen mematikan sambungan komunikasi secara sepihak tanpa menunggu jawaban sahabatnya. Kemudian dokter Karen keluar dari mansion dengan jalan mengendap - ngendap lewat balkon yang kebetulan ada pohon tinggi yang berasal dari luar tembok hingga dirinya berhasil keluar dari mansion milik David.


"Aku tidak ingin Kamu terluka." Ucap dokter Karen.


Dokter Karen kini berada di luar tembok mansion sambil menunggu kedatangan sahabatnya. Tidak membutuhkan waktu lama sebuah motor sport berhenti tepat di samping dokter Karen.


"Kamu mengendarai motor Aku yang bonceng ya? Karena aku ingin tahu letak posisi suamiku." ucap dokter Karen.


"Dari mana kamu tahu?" tanya dokter Alesandra pura-pura tidak tahu sambil masih duduk di jok motor sport.


"Kemarin aku menempelkan alat gps ke mobil suamiku." Jawab dokter Karen sambil duduk di jok motor belakang kemudian mengutak atik ponselnya dengan menggunakan tangan kanannya sedangkan tangan kirinya memeluk pinggang dokter Alesandra.


"Ketemu, suamiku berada di daerah xxxx." kita kesana cepat ya." Ucap dokter Karen.


"Ok." jawab dokter Alesandra dengan singkat.


Ke dua gadis yang berpakaian serba hitam, kaca mata hitam dan memakai helm juga berwarna hitam sambil kaca helmnya di tutup agar tidak kelihatan wajahnya.


"Mobilnya belok ke daerah xxxx." teriak dokter Karen karena dokter Alesandra mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi.


Walau terdengar sayup - sayup suara teriakan Karen tapi telinga dokter Alesandra sangat tajam sehingga ucapan dokter Karen dapat terdengar dengan jelas.


"Itu mobil suamiku berwarna hitam, ikuti mobil warna hitam dengan nomer polisi xx xxxxx xx." teriak dokter Karen.


Dokter Alesandra hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti.


"Kurangi kecepatan nanti ketahuan." teriak Karen kembali.


Dokter Alesandra langsung mengurangi kecepatan motornya hingga mobil itu berhenti di tempat jalan yang sepi. Begitu pula dengan dokter Alesandra menghentikan motor sport miliknya dan tidak jauh dari mobil milik David.