
David mengikuti dokter Karen yang berbaring di brangkar sampai di depan pintu UGD.
"Maaf Tuan Muda, harap menunggu di sini." ucap perawat itu dengan nada sopan.
David diam kemudian duduk dekat ruangan UGd sambil menatap ke arah pintu ruangan UGD dengan pikiran berkecamuk. David menutup wajahnya dan tanpa disadari air mata David keluar.
Tidak berapa lama Michael datang dan duduk di samping tuan David. Mereka berdua terdiam tanpa ada yang bicara sedikitpun di mana keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing.
Tiba - tiba ada brangkar di dorong oleh dua orang perawat dan seorang dokter cantik berjalan bersama pasangan suami istri menuju ke ruang operasi dan melewati mereka.
"Tuan dan Nyonya berdoa saja semoga operasi putri Nyonya dan Tuan berjalan dengan lancar." ucap dokter cantik itu.
"Iya Dok. Tolong selamatkan putri kami." mohon wanita paruh baya itu.
Michael yang merasa familiar dengan suara wanita itu mengangkat wajahnya dan menatap wajah gadis cantik tanpa berkedip. Jantungnya berdetak sangat kencang sedangkan dokter cantik itu tahu kalau ada Michael yang sedang memperhatikan dirinya namun dirinya pura - pura tidak tahu sambil mengobrol dengan pasien.
"Dokter... dokter adikku sudah sadar dari komanya." Ucap pria tampan yang tiba - tiba datang sambil memegang tangan dokter cantik itu.
"Maaf Untuk sementara di periksa dokter jaga dulu karena dokter satunya lagi cuti. Nanti setelah saya selesai operasi Saya akan cek kondisi adik Tuan." ucap dokter cantik itu dengan nada lembut.
"Baik dokter, Saya tunggu." ucap pria tampan itu sambil melepaskan tangan dokter itu kemudian membalikkan badannya menuju ke ruang perawatan.
Michael menatap tajam ke arah dokter itu yang sedang berjalan ke arah ruang operasi. Siapa lagi kalau bukan dokter Alesandra yang di tatap oleh Michael.
'Si*l ... Kenapa Aku merasa cemburu dengan pria itu ya? Padahal pria itu hanya memegang tangan Alesandra tapi kenapa hatiku sangat marah dan ingin memotong tangan pria itu yang telah berani memegang tangan Alesandra padahal setiap kali kita bertemu, kita berdua selalu bertengkar." ucap Michael dalam hati.
Setelah hampir satu jam akhirnya dokter yang memeriksa dokter Karen keluar, David berdiri dan berjalan menuju ke arah dokter tersebut.
"Dokter, bagaimana kondisi istriku?" tanya David dengan nada kuatir.
"Nyonya Karen dan janinnya baik - baik saja, untunglah janinnya kuat dan cepat di bawa ke rumah sakit jika tidak ...." ucap dokter tersebut menggantungkan kalimatnya.
"Janin? Maksudnya?" tanya David terkejut begitu pula dengan Michael.
"Nyonya Karen hamil. Selamat Tuan Muda sebentar lagi menjadi seorang Ayah." Jawab dokter itu memberikan selamat dengan menepuk bahu David.
"Hamil? Michael Aku akan menjadi seorang Ayah." ucap David membalikkan badannya menatap Michael dengan senyum kebahagiaan.
"Selamat ya Tuan Muda." ucap Michael ikut bahagia.
"Untuk mengetahui usia kehamilan Nyonya Karen, Tuan bisa memeriksakan di bagian dokter kandungan. Sebentar lagi Nyonya Karen akan dipindahkan ke ruang perawatan." Ucap dokter tersebut.
"Maaf Tuan Muda, Saya tinggal dulu mau cek kondisi pasien lainnya." ucap dokter tersebut berpamitan karena David diam saja.
"Baik dokter, terima kasih." Jawab David tersenyum bahagia sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
Dokter dan Michael sangat terkejut dengan perubahan David namun berusaha bersikap biasa saja. Dokter itupun membalas uluran tangan David kemudian tidak berapa lama dokter itupun pergi meninggalkan David bersama Michael.
Tidak berapa lama pintu UGD terbuka dengan lebar membuat David dan Michael menatap ke arah pintu dan melihat dua orang perawat keluar dari ruangan ugd sambil mendorong brankar dimana dokter Karen sedang berbaring di ranjang dengan mata masih terpejam.
"Michael, kamu mau ikut denganku ke ruang perawatan?" tanya David.
"Saya menunggu di sini Tuan Muda." Jawab Michael.
"Kenapa?" tanya David dengan wajah terkejut.
"Aku ingin bertemu dengan dokter Alesandra." ucap Michael yang tidak bisa berbohong dengan bosnya karena Michael selalu berkata jujur apa adanya.
Kini David sedang duduk di ruang perawatan VVIP di samping ranjang istrinya. David memegang tangan kanan doktr Karen karena tangan kiri dokter Karen sedang di infus.
"Sayang, maafkan Aku. Gara - gara Aku tidak menahan diriku kamu dan anak kita hampir celaka." ucap David sambil mengelus perut dokter Karen dengan lembut.
"Eughh.. Tuan Muda David.." panggil dokter Karen dengan nada lirih sambil menggeliatkan tubuhnya.
"Panggil Honey jangan Tuan Muda." Ucap David dengan nada kesal.
"Maaf Honey." Ucap dokter Karen dengan patuh.
"Sayang, apakah ada yang sakit?" tanya David dengan wajah kembali kuatir.
"Tidak ada honey. Honey, Aku haus." Ucap dokter Karen.
"Baik Sayang, akan Aku ambilkan minumnya." ucap David.
David berdiri dan mengambil minuman yang sudah ada sedotannya kemudian dokter Karen meminum hingga tersisa setengahnya. David meletakkan gelasnya kembali ke atas meja dekat ranjang kemudian duduk di samping dokter Karen.
"Sayang, maafkan Aku." ucap David dengan wajah sendu.
David sangat menyesali perbuatannya karena telah membuat dokter Karen masuk ke rumah sakit terlebih dokter Karen sedang hamil yang bisa saja membahayakan nyawanya.
"Sudahlah honey lupakanlah. Honey bagaimana dengan keadaan honey masih mual perutnya?" tanya dokter Karen dengan wajah kuatir.
"Sudah tidak mual lagi Sayang. Sayang kenapa sich kamu selalu sabar menghadapi sikap kasarku?" tanya David dengan wajah bingung.
"Karena Aku sangat mencintaimu dengan tulus." Jawab dokter Karen sambil membelai pipi David dengan lembut sambil tersenyum.
"Kenapa kamu mencintaiku dengan tulus sedangkan Aku sering menyiksamu?" Tanya David dengan wajah bingung.
"Karena honey adalah suamiku, jadi apapun yang terjadi Aku akan tetap mencintai honey sampai honey memintaku untuk berhenti mencintai dan juga memintaku untuk pergi dari kehidupan honey maka Aku akan lakukan." ucap dokter Karen.
"Hatimu seperti malaikat selalu memaafkan apa yang telah Aku lakukan padamu." ucap David sambil memegang tangan dokter Karen yang memegang pipinya.
"Honey, Aku mohon sudah lupakanlah yang sudah terjadi." pinta dokter Karen.
"Sayang, di sini ada anak kita. Aku tidak sabar ingin melihat anak kita lahir." ucap David sambil mengelus perut dokter Karen yang masih rata.
"Maksud honey, Aku hamil?" tanya dokter Karen dengan wajah terkejut sambil memegang tangan David yang memegang perutnya.
"Iya sayang, kamu hamil anak kita." Jawab David sambil tersenyum menatap wajah cantik istrinya.
Dokter Karen terdiam dan menatap sendu suaminya karena dirinya mengingat akan surat perjanjian. Di mana setelah usia pernikahan mereka menginjak 3 tahun maka mereka akan resmi berpisah.
David yang melihat perubahan wajah istrinya membuat wajah David berubah menjadi gelap gulita dan sepasang warna matanya berubah menjadi merah tanpa di ketahui dokter Karen.
"Kamu tidak suka hamil?" tanya David sambil menatap tajam istrinya.
"Aku suka hamil honey tapi.." ucap dokter Karen menggantungkan kalimatnya tanpa menatap David.
"Tapi apa?... Apa karena itu dari darah dagingku makanya kamu tidak menginginkan anak kita? Ingat ya Karen jangan sekali - kali kamu menggugurkan anak kita karena Aku akan menyiksamu juga ke dua orang tuamu!!" bentak David sambil mengarahkan tangannya ke leher dokter Karen kemudian mencekiknya.
"Bukan itu tapi apakah honey tidak i... ngat de ... ngan su..rat per...jan..jian yang ho...ney... bu..at?" tanya dokter Karen dengan nada terbata karena lehernya di cengkram kuat oleh David.
David terkejut dan melepaskan tangannya membuat dokter Karen menghirup nafasnya sebanyak-banyaknya.