Alessandra

Alessandra
Bagian Ke 42



Michael mencari orang yang melempar kertas hingga dirinya melihat Stefanie memakai lingerie berjalan ke arah dirinya.


"Minggir!" Perintah Stefanie dengan nada ketus.


"Nona mau ngapain?" Tanya Michael sambil menahan amarahnya.


"Aku ingin membuka pintu kamar Tuan David." Jawab Stefanie sambil mendorong Michael.


Tubuhnya yang kekar sama sekali tidak pengaruh buat Michael malah Michael menarik tangan Stefanie sambil menjentikkan jarinya. Tidak berapa lama datang dua orang bodyguard berdiri di hadapan Michael.


"Bawa wanita ini ke markas!" Perintah Michael.


"Baik Tuan." Jawab ke dua bodyguard tersebut.


"Kalian tidak berhak menangkapku!" Teriak Stefanie.


Suara teriakan Stefanie yang bisa mengganggu ketenangan orang lain dan memancing orang untuk datang membuat salah satu bodyguard terpaksa memukul tengkuk Stefanie membuat Stefanie langsung tidak sadarkan diri lalu membawanya pergi dari hotel tersebut sedangkan Michael masuk ke dalam kamarnya untuk istirahat.


xxxxxxxxxxxxxx


Malam menjelang pagi, dokter Karen perlahan membuka matanya dan kepalanya di angkat ke atas karena dada bidang David digunakan untuk sandaran kepala dokter Karen. Dokter Karen menatap wajah tampan suaminya sambil tersenyum bahagia.


Dokter Karen perlahan melepaskan pelukan suaminya dan turun dari ranjangnya secara perlahan sambil menahan rasa perih di bagian privasinya. Dokter Karen mengambil selimut untuk menutupi tubuh polos suaminya kemudian dokter Karen menuju ke arah kamar mandi dengan tubuh polos tanpa sehelai benangpun.


Dokter Karen menyalakan air di bathtub dan memberikan aroma terapi agar menghilangkan rasa perih di bagian privasinya. Dokter Karen berendam memejamkan matanya sambil membayangkan kegiatan panasnya dengan suaminya waktu malam hari.


David perlahan membuka matanya kemudian duduk dengan bersandar di kepala ranjang. David sangat terkejut melihat tubuh polosnya tanpa sehelai benangpun. Hal itu membuat David berusaha mengingat-ingat apa yang telah terjadi semalam.


"Aku melakukannya bersama istriku?" tanya David pada dirinya sendiri.


"Terasa nikmat dan Aku ingin melakukannya lagi dan lagi." Ucap David sambil mengingat kejadian semalam.


"Tidak.... tidak... Aku tidak ingin dia hamil karena Aku sangat membencinya dan juga membenci orang tuanya." ucap David setelah beberapa saat dirinya teringat dengan kematian orang tuanya.


David turun dari ranjangnya kemudian mengambil celana boxernya dan memakainya. Tanpa sengaja selimutnya terjatuh ke lantai dan melihat seprei nya terdapat bercak darah tanda dokter Karen memberikan mahkota berharganya untuk dirinya. David tersenyum bahagia karena dialah pria pertama yang melakukannya.


Tidak berapa lama dokter Karen keluar dari kamar mandi menggunakan handuk sambil berjalan perlahan karena bagian privasinya masih terasa perih. David tidak memperdulikannya dan berjalan ke arah kamar mandi dengan melewati dokter Karen, hingga di depan pintu kamar mandi David membuka pintu kamar mandi.


"Aku ingin mempunyai anak dari wanita yang Aku cintai jadi setelah ini kamu minum penggugur kandungan karena Aku tidak ingin Kamu hamil." Ucap David dengan nada dingin kemudian menutup pintu kamar mandi dengan cara di banting.


Dokter Karen hanya diam dan berjalan ke arah lemari pakaian untuk mengambil pakaian. Dokter Karen memakai pakaiannya kemudian handuknya diletakkan di kursi rias karena kamar mandinya dipakai suaminya.


Dokter Karen memakai bedak dan lipstik karena dokter Karen tidak begitu suka dandan tapi walau tidak dandan tapi dokter Karen tetap cantik alami.


Dokter Karen menyiapkan pakaian untuk suaminya dan diletakkan di ranjangnya. Dokter Karen berjalan ke arah balkon kemudian duduk di kursi sambil menikmati udara pagi.


'Honey, maaf Aku tidak bisa melakukannya dan jika seandainya Aku hamil maka Aku akan pergi dari kehidupanmu tanpa perlu menunggu sampai 3 tahun.' ucap dokter Karen dalam hati dan tidak terasa air matanya keluar menghilangkan rasa sesak di hatinya.


Dokter Karen menghapus air matanya dengan kasar hingga terdengar suara pintu kamar mandinya terbuka. Dokter Karen tidak beranjak dari duduknya hanya menatap ke arah depan. Dokter Karen mendengar suaminya menutup pintu membuat dokter Karen beranjak dari duduknya dan masuk ke dalam kamarnya.


Dokter Karen menghembuskan nafasnya secara perlahan dan air matanya jatuh kembali karena pakaian yang disiapkan tidak di pakainya. Dokter Karen mengambil pakaian milik David kemudian menyimpannya kembali ke dalam lemari.


"Kalau memang ini maumu baiklah Aku akan pergi dari sini karena kehadiranku tidak di perlukan lagi." ucap dokter Karen dengan perasaan sangat kecewa.


Dokter Karen sudah memberikan harta berharganya yang selama ini di jaga namun David masih menyimpan dendam membuat dokter Karen menyerah. Dokter Karen mengambil secarik kertas dan menulisnya setelah selesai menulis dokter Karen meletakkannya di atas meja kemudian mengambil tas kecilnya yang berisi ponsel, uang dan atm miliknya.


Dokter Karen keluar sambil membawa kartu kamar hotel kemudian dokter Karen berjalan ke arah pintu lift dan kebetulan pintu lift sedang terbuka. Dokter Karen pun masuk ke dalam pintu lift dan menekan tombol lantai dasar.


Sampai di lantai dasar dokter Karen memberikan kartu hotel ke resepsionis bersamaan dirinya bertemu dengan dokter Alesandra.


"Kamu sudah yakin ingin pergi dari kehidupan suamimu?" Tanya dokter Alesandra sambil berjalan berdampingan dengan dokter Karen.


"Aku sangat yakin karena Aku sudah sangat lelah." Jawab dokter Karen.


"Oke kalau begitu kita pergi menyusul Sandra." Ucap dokter Alesandra.


"Ke stasiun kereta api, Pak." ucap dokter Alesandra.


"Baik nona." jawab sopir taksi tersebut.


Dokter Karen memalingkan wajahnya ke arah hotel tempat dirinya menginap dan menyerahkan kehormatannya untuk suami yang sangat dicintainya.


'Selamat tinggal honey, Aku harap kamu baik - baik saja dan selalu bahagia.' ucap dokter Karen dalam hati.


Dokter Karen memalingkan wajahnya kembali menatap ke arah depan untuk memulai hidup baru, melupakan semua yang telah terjadi sedangkan dokter Alesandra hanya terdiam sambil memeluk dokter Karen dari arah samping untuk memberikan kekuatan.


xxxxxxx


Flash Back On


David keluar dari kamar mandi dan melirik sekilas dokter Karen yang sedang duduk di balkon. David ingin memeluknya tapi rasa dendamnya membuat David mematikan perasaannya.


David melihat dokter Karen sudah menyiapkan pakaian kerja sedangkan David hari ini tidak bekerja karena hari ini David akan menyiksa wanita yang bernama Stefanie yang telah berani memberikan obat perang x sang pada dirinya karena itulah David mengambil pakaian santai dan pakaian kerjanya tidak di pakai.


David sebenarnya ingin mengatakan sesuatu ke dokter Karen tapi karena ingin menghukum Stefanie membuatnya mengurungkan niatnya dan David berfikir nanti saja kalau dirinya sudah selesai menghukum Stefanie.


David keluar dari kamarnya dan melihat Michael sedang menunggunya di depan lift. Merekapun masuk ke dalam lift menuju lobby kemudian mereka pergi ke sebuah tempat gedung yang sudah tua.


Flash Back Off


xxxxxxx


Adegan Mengandung Kekerasan Jangan Di Tiru Jika tidak suka di skip saja. Terima kasih.


Singkat cerita kini David dan Michael sudah sampai di sebuah gedung tua. David berjalan dengan santai di ikuti oleh Michael dari belakang. Bunyi suara sepatu pantofel bergema di setiap sudut lantai satu sampai mereka melihat Stefanie sedang duduk di kursi dengan ke dua tangan dan ke dua kakinya terikat dengan mulut di lakban.


David berjalan mendekati Stefanie sambil tersenyum sinis kemudian David menarik paksa lakban yang menutupi mulut Stefanie tersebut membuat Stefanie berteriak kesakitan.


"Tuan David apa salahku? Kenapa aku di ikat?" tanya Stefanie.


David mencengkeram ke dua pipi Stefanie dengan tangan kirinya hingga bibirnya mengerucut seperti ikan buntal.


"Apa maksudmu memasukkan obat perang x sang di minuman alkohol yang aku minum. Hah!!" bentak David sambil melepaskan cengkraman tangannya di mulut Stefanie.


"Aku tidak melakukannya." jawab Stefanie berbohong karena dirinya tidak ingin di hukum.


David yang tahu Stefanie berbohong membuat David mengambil pisau lipat dari saku belakang celananya. David menggores pipi kiri Stefanie hingga mengeluarkan darah segar dari pipi kirinya.


"Akhhhhhhhhh .... Sakittttttttt!!" Teriak Stefanie kesakitan.


"Mengaku atau Aku gores pipi kananmu." ancam David.


"Iya Aku melakukannya." jawab Stefanie terpaksa jujur karena Stefanie merasakan pipinya sangat perih akibat goresan pisau lipat milik David.


"Kenapa kamu melakukannya?" tanya David dengan nada dingin.


"Karena Aku sangat mencintaimu tapi kamu tidak melirikku sedikitpun!" Bentak Stefanie karena pipinya terasa sakit sekali.


David yang mendengarnya langsung menampar pipi Stefanie kanan dan kiri hingga ke dua sudut bibirnya pecah dan mengeluarkan darah segar.


"Jangan sekali - kali membentak ku." ucap David sambil menarik rambut indah Stefanie dengan keras sehingga beberapa helai rambutnya terlepas membuat Stefanie meringis menahan rasa sakit.


"Ketika Aku masuk ke kamarku kamu datang dengan memakai lingerie dan ingin membuka pintu kamarku dan orang kepercayaanku langsung menangkapmu." sambung David sambil mendorong wajah Stefanie bersamaan melepaskan rambut yang di tarik oleh David.


"Kini terimalah hukuman dariku Stefanie." ucap David dengan nada dingin.


'Kalau seandainya Aku tahu Tuan David sangat menyeramkan, Aku tidak akan melakukannya.' Ucap Stefanie dalam hati di mana hatinya sangat menyesal melakukan perbuatan bodoh.