
"Sandra." panggil Federick sambil mengetuk pintu sebanyak tiga kali.
"Sandra." panggil ulang Federick sambil masih mengetuk pintu sebanyak tiga kali.
Suara ketukan pintu sebanyak enam kali membuat tetangga sebelah membuka pintu dan melihat Federick yang masih mengetuk pintu.
"Maaf Tuan, Tuan sedang mencari dokter Sandra?" tanya seorang tetangga dokter Sandra.
"Iya benar, apakah dokter Sandra ada di rumahnya atau sedang keluar?" tanya Federick dengan nada ramah.
"Dokter Sandra sedang keluar mengobati pasien di desa sebelah karena desa sebelah kekurangan dokter." Jawab tetangga sebelahnya yang juga ramah.
"Kira - kita lamakah pulangnya?" tanya Federick.
"Biasanya jam 9 malam sudah sampai di sini. Maaf apakah Tuan suaminya atau saudaranya atau temannya?" tanya tetangga sebelahnya.
"Kami pasangan suami istri, Aku ingin membuat kejutan ke istriku dengan datang ke sini tanpa memberitahukan kedatanganku." Jawab Federick berbohong.
"Kalau begitu lebih baik Tuan masuk ke dalam rumahnya. Apakah Tuan ada kuncinya?" tanya tetangga sebelahnya.
"Maaf karena tadi terburu - buru datang dan memberikan kejutan Aku sampai lupa membawa kunci." jawab Federick sambil tersenyum.
"Kalau begitu sebentar dulu, Saya akan ambil kunci rumahnya karena kebetulan Saya pemilik rumah tempat istri Tuan menyewa rumahku." ucap tetangga sebelahnya sambil tersenyum membalas senyuman Federick.
"Baik Saya akan tunggu." ucap Federick dengan ramah.
Tetangga itupun pergi meninggalkan Federick sendirian sedangkan Federick berdiri di depan pintu sambil mengamati rumah sekitarnya yang sangat sepi dan tenang.
'Huff ... Untung Dia percaya kalau kami sepasang suami istri.' Ucap Federick dalam hati sambil tersenyum.
Tidak berapa lama tetangga itu keluar dari rumahnya dan berjalan ke arah Federick sambil membawa kunci rumah.
"Maaf, Tuan ini kunci rumahnya." ucap tetangga tersebut sambil menyerahkan kunci rumah.
"Terima kasih." Jawab Federick sambil menerima kuncinya.
"Sama - sama Tuan." Jawab tetangga itu kemudian meninggalkan Federick seorang diri.
'Untung pemilik rumah seorang wanita paruh baya kalau pria sudah pasti akan Aku jadikan kelinci percobaanku.' Ucap Federick dalam hati.
Federick mengatakan hal itu karena pemilik kontrakkan mempunyai duplikat kunci milik dokter Sandra. Federick tidak ingin kalau pemilik rumah melakukan sesuatu yang merugikan dokter Sandra, gadis yang sangat dicintainya.
Federick pun membuka pintu kemudian masuk ke dalam rumah sambil menyalakan lampu karena suasana rumahnya gelap gulita. Setelah ruangan menyala barulah Federick mengunci pintunya lalu melihat sekeliling ruangan.
Federick memasukkan kunci nya ke dalam sakunya kemudian Federick melihat ada dua kamar. Federick masuk ke dalam salah satu kamar dokter Sandra namun sebelumnya menyalakan lampu kamarnya dan berjalan ke arah lemari lalu membuka lemari pakaian.
"Sepertinya ini kamar khusus tamu karena lemarinya kosong." ucap Federick.
Federick melepaskan sepatunya kemudian berlanjut seluruh pakaiannya dan hanya meninggalkan celana boxernya saja. Pakaian dan celananya di simpan di lemari yang kosong itu sedangkan sepatunya diletakkan di bawah ranjang. Setelah selesai Federick mematikan lampu kamar tamu dan berjalan ke arah kamar dokter Sandra.
Federick masuk ke kamar dokter Sandra dan menyalakan lampunya dan melihat tempat tidur yang rapih. Di mana tempat tidur tersebut hanya bisa untuk tidur dua orang kemudian Federick melihat isi lemari pakaian dokter Sandra.
"Benar kataku di sini adalah kamar Sandra karena isi lemarinya pakaian Sandra." ucap Federick yang sangat hapal dengan aroma dokter Sandra.
Federick masuk ke kamar mandi milik dokter Sandra untuk membasuh wajahnya agar terasa segar. Selesai membasuh wajahnya Federick keluar dari kamar mandi bertepatan dengan pintu depan ada yang membukanya.
Federick yang mendengar pintu depan ada yang membukanya dengan menggunakan kunci yang di pegang dokter Sandra membuat Federick langsung mematikan lampu kamarnya kemudian bersembunyi di samping pintu lemari.
Gadis cantik tersebut berjalan ke arah kamar dokter Sandra kemudian masuk ke dalam sambil menyalakan lampu kamar dokter Sandra. Gadis cantik tersebut meletakkan tasnya dan tanpa curiga sedikitpun membuka seluruh pakaiannya hingga tubuhnya polos tanpa sehelai benangpun kemudian masuk ke dalam kamar mandi.
Hal itu membuat Federick tidak bisa menahan dirinya. Federick memeluk gadis cantik tersebut sambil mengecup pucuk kepalanya.
'Sayang Aku sangat merindukanmu.' Bisik Federick tepat di telinga dokter Sandra sambil tangan kanannya memainkan salah satu gunung kembar milik dokter Sandra.
"Kak Federick." panggil dokter Sandra dengan wajah terkejut sambil menahan agar tidak mengeluarkan suara merdunya.
"Iya sayang Aku Federick. Aku sangat merindukanmu Sandra." ucap Federick sambil membalikkan badan dokter Sandra.
Federick menatap wajah cantik dokter Sandra yang selama ini selalu dirindukannya sedangkan dokter Sandra berjalan mundur sambil menutupi dua gunung kembar dengan menggunakan tangan kanannya sedangkan tangan kirinya menutupi bagian privasinya.
"Dari mana Kak Federick tahu Aku ada di sini? Dan kenapa bisa masuk ke dalam kamar ku?" tanya dokter Sandra sambil menarik selimutnya yang ada di ranjang untuk menutupi tubuh polosnya.
"Nanti Aku ceritakan tapi saat ini Aku ingin.." ucap Federick menggantungkan kalimatnya sambil berjalan ke arah dokter Sandra.
Federick mengecup bibir dokter Sandra kemudian mendorong tubuh dokter Sandra ke arah ranjang hingga tubuh dokter Sandra tidur terlentang. Federick menarik selimutnya dan membuangnya secara asal kemudian menaiki tubuh polos dokter Sandra kemudian mencium leher dokter Sandra hingga meninggalkan jejak kemerahan.
"Aku mohon jangan lakukan ini." pinta dokter Sandra yang berusaha menolaknya tapi sebenarnya tubuhnya menginginkannya.
"Kamu pernah berjanji akan memberikan apapun padaku karena itu Aku ingin kamu menepati janjimu." bisik Federick dengan suara berat sambil kembali mengecup salah satu gunung kembar milik dokter Sandra hingga meninggalkan tanda stempel.
"Tapi bukan ini Ahhh.." ucap dokter Sandra men x desah ketika Federick memasukkan mulutnya ke salah satu pucuk gunung kembarnya.
"Aku tidak perduli yang penting kamu harus menempati janjimu dan Kamu harus memenuhi semua keinginanku." bisik Federick sambil melepaskan celana boxernya.
"Baiklah tapi jangan dimasukkan." pinta dokter Sandra.
"Baiklah." jawab Federick sambil tersenyum menyeringai tanpa diketahui oleh dokter Sandra karena tubuhnya sangat menginginkan nya.
Federick tahu titik sensitif wanita membuat dokter Sandra kembali mengeluarkan suara merdunya dan beberapa kali mendapatkan pelepasan.
Hingga dokter Sandra tanpa sadar meminta Federick untuk menyatukan tubuhnya dan akhirnya apa yang diinginkan Federick pun terjadi. Dokter Sandra akhirnya memberikan mahkota berharga yang selama ini dijaganya ke pria yang sangat dicintainya yaitu Federick.
Setelah Federick mengeluarkan laharnya ke privasi dokter Sandra barulah Federick menggulingkan badannya dan dokter Sandra langsung tidur membelakangi Federick sambil menangis membuat Federick memeluk dari arah belakang.
"Kenapa Sayang?" tanya Federick dengan wajah bingung.
"Kalau Aku hamil bagaimana?" tanya dokter Sandra.
Federick membalikkan badan dokter Sandra agar menghadap dirinya.
"Besok kita menikah." Jawab Federick sambil menatap mata dokter Sandra.
"Secepat itukah?" tanya dokter Sandra dengan wajah terkejut.
"Lebih cepat lebih baik karena Aku tidak ingin ketika kamu hamil kamu di hina orang begitu pula dengan anak kita. Aku tidak akan pernah rela jika mereka menghina kalian berdua karena Aku sangat mencintaimu." ucap Federick sambil memeluk dokter Sandra.
"Katamu waktu itu.." ucap dokter Sandra menggantungkan kalimatnya.
"Maafkan Aku dan lupakan yang waktu itu Aku katakan. Jujur ketika kamu hilang tanpa kabar sebagian dariku juga ikut hilang." ucap Federick sambil menatap mata dokter Sandra.
Dokter Sandra menatap mata Federick untuk mencari adakah kebohongan tapi ternyata tidak ada kebohongan dimatanya. Dokter Sandra hanya tersenyum dan membalas pelukan Federick. Tubuh dokter Sandra yang sangat lelah membuat dokter Sandra tanpa membutuhkan waktu lama tidur dengan pulas.
'Maaf dengan cara seperti ini barulah kita bisa menikah karena Aku tidak ingin Kamu pergi dari sisiku.' Ucap Federick dalam hati sambil mengambil selimut yang tergeletak di lantai kemudian menyelimuti tubuh polos mereka.
Federick memejamkan matanya dan tidak berapa lama Federick tidur dengan pulas menyusul mimpi indah dokter Sandra. Mereka saling berpelukan dan memberikan kehangatan masing - masing.