
Tidak terasa malam berganti pagi suara burung - burung berkicau menyambut pagi hari. Dokter Karen perlahan membuka matanya dan langsung tersenyum karena dirinya tidur memeluk suaminya. Ada rasa nyaman di hati dokter Karen ketika suaminya juga memeluk dirinya.
Perlahan dokter Karen melepaskan tangan David yang memeluk dirinya. Setelah berhasil lepas dokter Karen turun dari ranjang menuju ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya kemudian menyikat gigi.
Setelah selesai dokter Karen menyiapkan air hangat dan memberikan aroma kesukaan suaminya. Setelah selesai dokter Karen berjalan keluar dari kamar mandi untuk menyiapkan pakaian suaminya dan diletakkan di sofa.
Dokter Karen perlahan membuka pintu kamarnya agar David tidak terbangun menuju ke arah dapur. Selesai masak dan dihidangkan ke meja makan dokter Karen menaiki anak tangga menuju ke arah kamarnya. Dokter Karen melihat suaminya sudah rapi hanya dasinya yang belum terpasang.
"Mau Aku pakaikan dasinya?" tanya dokter Karen dengan nada lembut.
"Memang bisa?" tanya David dengan nada meledek.
"Bisa dong." jawab dokter Karen sambil tersenyum.
Dokter Karen langsung memasangkan dasi suaminya sambil berjinjit karena tubuh suaminya lebih tinggi dari dirinya.
"Nah sudah selesai jadi tambah tampan suamiku." puji dokter Karen.
cup
David mengecup bibir dokter Karen sekilas sambil tersenyum bahagia.
"Terima kasih. Oh ya di atas meja ada kartu kredit tanpa batas dan kartu debit. Kamu boleh pakai sepuasmu dan mengenai pekerjaan kamu harus pilih salah satu sebagai sekretaris atau dokter." Ucap David.
"Kenapa?" Tanya dokter Karen.
"Aku ingin ketika Aku ada di mansion, kamu juga harus sudah ada di mansion." Jawab David.
"Jadi pikirlah dulu mau kerja sebagai sekretaris atau dokter." Ucap David.
"Baiklah akan Aku pikirkan." Ucap dokter Karen yang tidak ingin bertengkar karena dokter Karen tahu sifat suaminya yang tidak suka di tentang.
"Oh ya, kamu belajar dari mana bisa memasang dasi? Apa jangan - jangan kamu sering memasangkan sama pacarmu?" tanya David dengan nada cemburu.
"Kalau memasangkan dasi hanya dua kali belajar dan langsung bisa tapi bukan sama pacarku. Pacaran saja tidak pernah yang ada langsung menikah denganmu." Jawab dokter Karen dengan jujur.
"Terus kamu belajar memasangkan dasi sama siapa?" tanya David sedikit lega.
"Belajar sama mommy, mommy mengajariku jika nanti punya suami harus bisa memasang dasi." Jawab dokter Karen.
David yang sudah mulai lupa tentang orang tua nya di siksa dan di bunuh oleh orang tua dokter Karen membuat dirinya mengingat kembali. David menatap tajam ke arah istrinya dan dokter Karen menyadari pandangan suaminya yang menggelap secara tiba - tiba.
"Akhhhhh ..." teriak dokter Karen kesakitan.
"Jangan sekali - kali menyebut nama orang tuamu itu." ucap David sambil mendorong istrinya dengan sekuat tenaga hingga terjatuh ke lantai.
"Maaf." ucap dokter Karen sambil menahan air matanya agar tidak keluar.
David hanya membalikkan badannya dan pergi meninggalkan dokter Karen sendiri yang duduk di lantai sambil mengusap bokongnya yang sakit. Dokter Karen berusaha untuk bangun dan berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang lengket.
Selesai mandi dokter Karen berjalan ke arah lemari dan mengambil pakaian kerja.
"Maafkan ke dua orang tuaku, suamiku." ucap dokter Karen dengan nada lirih dan tidak terasa air matanya keluar.
"Aku kangen sama orang tuaku, nanti di kantor Aku akan telepon orang tuaku." sambung dokter Karen.
Dokter Karen tidak mungkin menghubungi orang tuanya di mansion atau di mobil milik suaminya karena bisa dipastikan David akan tahu dan marah besar seperti saat ini.
Dokter Karen buru - buru menghapus air matanya dan memakai pakaian kerja. Setelah selesai dokter Karen menghias dirinya dengan hanya memakai bedak dan lipstik warna pink seperti warna bibirnya.
Dokter Karen mengambil tasnya dan tanpa sengaja dokter Karen melihat dua kartu yang terdiri dari kartu debit dan kartu kredit serta selembar kertas membuat dokter Karen mengambilnya lalu membacanya.
"Semalam Aku mengatakan pilih salah satu kerja sebagai dokter atau kerja sebagai sekretaris tapi kamu malah tidur. Aku tidak suka ketika Aku pulang kerja kamu belum pulang."
"Baiklah tapi Aku akan coba dulu kalau gajinya lebih besar dari gajiku sebagai dokter maka Aku akan bekerja sebagai sekretaris tapi jika lebih besar gajiku sebagai dokter maka Aku akan bekerja sebagai dokter." Ucap dokter Karen.
"Karena jika suatu saat nanti suamiku menceraikan Aku dan menemukan penggantiku maka Aku sudah siap dengan membawa uang dari hasil kerjaku untuk pergi meninggalkan suamiku yang Aku cintai dengan setulus hati." Ucap dokter Karen.
Tidak berapa lama air matanya keluar kemudian dihapusnya secara kasar. Dokter Karen menatap sebentar kamarnya kemudian keluar dari kamarnya menuju ke arah ruang makan. Tanpa dokter Karen ketahui kalau di kamar David ada cctv tersembunyi dan David bisa melihat rekaman tersebut sewaktu - waktu.
Dokter Karen membulatkan matanya dengan sempurna karena sarapan yang di buat dokter Karen sama sekali tidak di sentuh membuat dokter Karen bertambah sedih.
"Aku sudah membuatkan makanan kesukaannya tapi sama sekali tidak di sentuh." ucap dokter Karen dengan nada lirih.
"Nyonya tidak makan?" tanya kepala pelayan dengan nada sopan.
"Tuan kemana?" tanya dokter Karen tanpa menjawab pertanyaan kepala pelayan sambil membalikkan badannya dan menjawab pertanyaan dengan pertanyaan
"Tuan sudah berangkat kerja Nyonya." Jawab Kepala pelayan.
"Oh.. Baiklah kalau begitu Aku pergi dulu Paman." Ucap dokter Karen.
"Nyonya tidak makan?" tanya kepala pelayan mengulangi perkataannya.
"Tidak Paman. Suamiku tidak makan maka Aku juga tidak ikut makan, Aku pamit dulu paman." pamit dokter Karen sambil tersenyum.
"Hati - hati Nyonya." Jawab kepala pelayan.
"Terima kasih paman." jawab dokter Karen sambil membalikkan badannya menuju pintu utama.
Setelah kepergian dokter Karen ponsel milik kepala pelayan berdering dan kepala pelayan tahu siapa yang menghubungi dirinya.
("Istriku sudah makan?" tanya David dari sebrang).
(" Nyonya Muda tidak makan Tuan." Jawab kepala pelayan).
("Kenapa tidak makan?" tanya David dengan nada terkejut).
("Karena Tuan tidak makan maka Nyonya juga ikutan tidak makan." jawab kepala pelayan menjelaskan).
("Dasar bodoh, sekarang bungkus semua makanan dan kirim ke bandara secepatnya karena Aku masih di jalan." ucap David sambil tersenyum karena istrinya memperhatikan dirinya).
("Baik Tuan." Jawab kepala pelayan).
Tut Tut Tut Tut Tut
Ponsel diputuskan oleh David secara sepihak dan kepala pelayan hanya menghembuskan nafasnya dengan perlahan. Kepala pelayan itupun menyuruh pelayan membungkus semua makanan yang berada di atas meja untuk di kirim ke David yang sedang menuju ke bandara.
David sengaja pergi tanpa berpamitan kalau dirinya akan pergi beberapa hari untuk mengurus cabang perusahaan yang sedang mengalami masalah.
"Tuan - tuan, sebenarnya Tuan sangat senang diperhatikan oleh Nyonya Karen tapi karena rasa dendamnya membuat Tuan menutupi perasaannya. Semoga Tuan segera sadar sebelum terlambat nantinya." guman kepala pelayan.
Kepala pelayan menyuruh bodyguard nya untuk mengantar makanan ke bandara. Sedangkan dokter Karen keluar dari pintu utama namun tiba - tiba seorang sopir menghentikan langkahnya.
"Maaf Nyonya, Tuan memintaku untuk mengantar Nyonya pergi." ucap sopir dengan nada ramah.
"Baik, terima kasih Paman." jawab dokter Karen dengan nada sopan.
"Sama - sama Nyonya." jawab sopir itu dengan wajah terkejut karena baru kali ini melihat majikan wanita sangat sopan terhadap seorang sopir.
Dokter Karen masuk ke dalam mobil menuju ke perusahaan DD untuk melakukan wawancara pekerjaan. Sampai di perusahaan DD dokter Karen berjalan menuju ke arah resepsionis.
"Pagi juga nona Karen. Nona Karen naik ke lantai 15 dan ada ruangan meating, Nona masuk saja ke dalam dan kebetulan sebentar lagi mau mulai tesnya." Jawab resepsionis dengan nada sopan.
"Baik terima kasih atas informasinya." jawab dokter Karen sambil tersenyum.
"Sama - sama nona." jawab resepsionis.
Dokter Karen berjalan menuju ke pintu lift, sampai di depan pintu lift Karen masuk ke dalam kotak persegi empat tersebut, begitu pula dengan para pelamar yang lainnya.
Seorang pelamar wanita datang terburu - buru dan ingin masuk ke dalam lift tapi sayang terdengar suara tanda kalau lift kelebihan muatan.
"Maaf Nona sudah penuh." ucap salah seorang pelamar.
"Tapi sebentar lagi akan di mulai saya bisa terlambat kalau menunggu lift berikutnya." ucap seorang gadis dengan wajah memelas.
"Saya juga terlambat kalau saya mengalah. Nona keluar sana atau naik tangga." usir salah satu dari mereka.
"Aku mohon salah satu dari kalian mengalah." mohon gadis itu sambil memaksa masuk dan tidak mau keluar.
"Nona jangan keras kepala nanti kami jadi terlambat." omel mereka dengan serempak kecuali dokter Karen yang merasa tidak tega.
"Biar saya saja yang mengalah." ucap dokter Karen yang sejak tadi terdiam.
"Kenapa Nona mengalah? Salah Dia sendiri kenapa datang terlambat." ucap salah satu dari mereka.
"Kalau saya tidak mengalah yang ada semuanya nanti terlambat, kan sayang kalau kalian gagal tes dan interview? Jadi lebih baik Saya naik tangga saja." ucap dokter Karen menjelaskan sambil berjalan keluar dari dalam pintu lift dan berjalan menuju ke tangga darurat.
Dokter Karen berlari namun ketika sampai di lantai 5, nafas dokter Karen tersengal - sengal dan dokter Karen tanpa sengaja melihat di pintu lift yang sedang terbuka.
Dokter Karen langsung berlari dan masuk ke dalam pintu lift yang hendak tertutup tanpa tahu kalau pintu lift itu adalah lift khusus petinggi.
"Hah... hah... Cape banget lari dari lantai 1 sampai ke lantai 5." ucap dokter Karen sambil menekan tombol lima belas kemudian ke dua tangannya memegang lutut dan mengatur nafasnya yang tidak beraturan.
"Sudah tahu capai kenapa mau mengalah sama wanita tadi." terdengar suara bariton yang dikenalnya.
Jantung dokter Karen berdetak kencang membuatnya meluruskan tubuhnya dan membalikkan badannya. Matanya membulat sempurna ketika melihat suaminya ada di hadapannya.
"Honey." panggil dokter Karen sambil tersenyum.
"Ingat kalau di kantor panggil Aku Tuan Muda David." ucap David dengan nada dingin.
"Maaf Tuan Muda David." ucap dokter Karen sambil menundukkan kepalanya.
'Kenapa suamiku ada di sini? Apa ada janji dengan pemilik perusahaan ini?' Tanya dokter Karen dalam hati tanpa mengetahui kalau perusahaan yang dilamarnya adalah milik suaminya.
"Ingat jangan pernah bilang ke mereka kalau kita adalah pasangan suami istri." ucap David mengingatkan kembali karena takut dokter Karen lupa.
"Baik Tuan Muda David." jawab dokter Karen sambil menahan agar air matanya tidak keluar.
"Satu lagi jangan coba naik lift ini karena lift ini khusus petinggi." ucap David dengan nada dingin.
"Baik, maafkan Saya Tuan Muda David." ucap dokter Karen sambil tangannya diarahkan ke tombol.
"Untuk saat ini Aku maafkan tapi tidak untuk lain kali." Ucap David.
Dokter Karen menurunkan tangannya dan kepalanya masih menunduk sedangkan David memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Tuan - tuan, Tuan sampai membatalkan rencana pergi ke bandara demi melihat Nyonya Karen melamar kerja. Setelah ketemu malah bersikap dingin dan tidak kenal.' Ucap Michael dalam hati.
'Maaf, Aku terpaksa melakukan itu karena musuhku sangat banyak dan Aku tidak ingin musuhku tahu kalau Kamu adalah istriku karena jika tahu bisa dipastikan nyawamu dalam bahaya.' Ucap David dalam hati yang tidak ingin istrinya dilukai oleh musuhnya.
Ting
Pintu lift terbuka, dokter Karen keluar dari ruang persegi empat dengan perasaan sangat sesak seakan dirinya sulit untuk bernafas. Dokter Karen berjalan menuju ke ruangan meating namun sebelumnya menundukkan kepalanya ke David.
ceklek
Semua orang memandang dokter Karen yang sedang membuka pintu, sebagian memandang dengan tatapan merendahkan dokter Karen karena terlambat datang dan sebagian tahu kenapa dokter Karen terlambat.
Dokter Karen melihat para pelamar kerja sedang menulis lembaran soal yang diberikan oleh perusahaan DD tanpa memperdulikan keberadaan dokter Karen ataupun mengucapkan terima kasih karena dirinya tidak terlambat datang.
"Maafkan saya terlambat." ucap dokter Karen sambil berjalan ke salah satu petugas interview yang berjumlah dua belas orang yang sedang berkeliling melihat para pelamar sedang menjawab soal - soal yang diberikan oleh perusahaan DD.
"Saat ini kami maafkan tapi tidak untuk ke dua kalinya. Kerjakan soal ini dan kami beri waktu dua puluh lima menit karena nona sudah terlambat lima menit." ucap salah satu petugas interview sambil menyerahkan selembar soal.
"Baik. Terima kasih." Jawab dokter Karen sambil tersenyum.
Dokter Karen duduk dan mengeluarkan alat tulisnya kemudian dokter Karen membaca soal - soal dengan sesama dan menjawabnya. Hingga tidak terasa sudah lima belas menit dokter Karen sudah selesai mengerjakannya.
"Saya sudah selesai mengerjakan nya." ucap dokter Karen sambil menyerahkan lembaran soal.
"Baik, silahkan Nona menunggu di luar." jawab salah satu dari mereka sambil menerima lembaran yang sudah di jawab oleh dokter Karen.
Semua petugas yang diperintahkan oleh Michael untuk menerima sekretaris baru dan semua pelamar kerja sangat terkejut pasalnya dokter Karen datang terlambat tapi pulang duluan. Semua orang langsung berpikiran jelek kalau dokter Karen tidak bisa menjawab soal - soal yang diberikan.
Dokter Karen pun keluar tanpa memperdulikan tatapan mereka dan di susul oleh beberapa orang yang sudah selesai mengerjakannya hingga semuanya selesai mengerjakannya.
"Hai, boleh kenalan?" tanya seorang pria ke arah dokter Karen.
"Boleh, nama Saya Karen." jawab dokter Karen dengan ramah.
"Namaku Vincent." Ucap Vincent memperkenalkan namanya.
"Kalau kamu siapa?" tanya dokter Karen.
"Saya Viona." jawab Viona.
"Kalau kamu?" tanya dokter Karen.
"Saya Mikodo." jawab Mikodo.
"Semoga kita di terima ya." ucap dokter Karen sambil tersenyum.
"Amin." Jawab mereka dengan serempak.
Setelah setengah jam menunggu salah satu orang petugas interview keluar ruangan dan memanggil orang - orang untuk tes yang ke dua termasuk dokter Karen. Tanpa sepengetahuan mereka kalau David memperhatikan dokter Karen sejak awal masuk ke ruang meating.
'Istriku memang sangat pintar.' Ucap David dalam hati dan penuh rasa bangga.
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Ayo dong Vote, like, kopi, bunga, komentar, rate bintang lima dan tip agar author semangat menulisnya. 😚😚😍😍😘😘
Terima kasih yang sudah memberikan Vote, like, kopi, bunga, komentar, rate bintang lima dan tip nya serta terima kasih juga buat para pembaca yang masih setia membaca novelku.😁😚😚😍😍😘😘
Salam Author,
Yayuk Triatmaja