
Kini mereka di dalam mobil tidak ada satupun yang berbicara, dokter Karen hanya menatap jendela menyembunyikan lukanya sedangkan David hanya menatap ke depan dan tidak ingin berbicara hanya sekali kali melirik melihat wajah sedih dokter Karen.
Hingga dua puluh lima menit kemudian mereka sudah sampai di mansion milik David. David keluar dari mobil tanpa memperdulikan dokter Karen. Dokter Karen hanya bisa menghembuskan nafasnya secara perlahan dan berusaha untuk tersenyum serta tegar menghadapi semuanya.
Dokter Karen turun dari mobil dan mengikuti langkah suaminya dari arah belakang. Baru beberapa langkah David menghentikan langkahnya begitu pula dengan dokter Karen.
"Siapkan Aku makanan." ucap David tanpa membalikan badannya dan melanjutkan langkahnya.
"Baik." jawab dokter Karen dengan singkat.
David menaiki anak tangga sedangkan dokter Karen berjalan menuju ke arah dapur untuk memasak. Dokter Karen membuka kulkas untuk mencari apa yang ada di dalam kulkas. Setelah tahu dokter Karen mengeluarkan bahan - bahan yang diperlukan kemudian mengolah makanan.
Bau harum masakan membuat David yang baru saja menuruni anak tangga menuju meja makan tercium bau masakan dokter Karen membuatnya lapar. David duduk di meja makan sambil menatap dokter Karen dari arah belakang.
Rambutnya yang di gulung ke atas menampilkan leher putihnya yang sangat mulus membuat David menelan salivanya dengan kasar.
'Kenapa lihat istriku seperti ini ingin menerkamnya dan adik kecilku ikutan sesak seakan ingin merasakan nya. Tidak.... tidak... itu tidak boleh terjadi.. kalau istriku hamil Aku tidak bisa menyiksanya lagi." ucap David dalam hati.
Tidak terasa dokter Karen pun selesai memasaknya dan meletakkan di piring kemudian diletakkan di atas meja makan tanpa memperdulikan David yang menatap dirinya.
Dokter Karen tahu kalau David duduk di meja makan ketika dokter Karen sedang mengambil bumbu masakan. Dokter Karen berjalan melewati David tanpa menyapa membuat hati David kesal.
David menarik tangan Karen hingga Karen terjatuh di pangkuan David hal itu membuat dokter Karen menatap wajah tampan David dari jarak sangat dekat sedangkan David menatap bibir dokter Karen.
"Temani Aku makan." pinta David kemudian mengecup bibir dokter Karen dengan singkat.
"Badanku lengket dan Akuc ingin mandi." ucap dokter Karen dengan nada dingin.
Dokter Karen turun dari pangkuan David dan pergi meninggalkan David sendirian. Namun baru beberapa langkah David mengatakan sesuatu membuat dokter Karen terkejut.
"Habis mandi temani Aku makan, kalau tidak salah satu pelayan akan mendapatkan hukuman." ucap David dengan nada dingin juga.
Karen menghembuskan nafasnya perlahan tanpa membalikkan badannya.
"Baiklah, tunggu Aku selesai mandi." ucap dokter Karen sambil melanjutkan langkahnya.
skip
Kini dokter Karen duduk di meja makan setelah dirinya selesai mandi dan memakai pakaian santai. Dokter Karen mengambil makanan untuk David kemudian untuk dirinya sendiri. Selama makan tidak ada yang bicara sedikitpun hingga mereka sudah selesai makan mereka berdua berjalan ke arah kamar mereka tetap tidak ada satupun yang bicara.
David duduk di sofa sambil membuka laptopnya untuk melanjutkan pekerjaan yang tertunda sedangkan dokter Karen duduk dengan bersandar di kepala ranjang sambil membuka ponsel untuk mencari aplikasi yang berisi tentang komik humor setelah menemukan dokter Karen membaca komik yang berisi humor.
Dokter Karen tersenyum ketika ada ceritanya lucu bahkan tertawa lepas ketika ceritanya sangat lucu. David yang serius menatap layar laptop menjadi penasaran membuat David menutup laptopnya dan mendekati dokter Karen.
"Kamu kenapa tersenyum? Baca pesan dari pria lain?" tanya David dengan nada kesal sambil merampas paksa ponsel milik dokter Karen.
Dokter Karen berusaha menahan ponselnya hingga tubuhnya tengkurap agar tidak di rebut oleh suaminya.
"Cemburu ya?" Tanya dokter Karen dengan nada menggoda.
Dokter Karen kini tahu jika dirinya dingin maka suaminya ikutan dingin karena itulah dirinya berusaha untuk bersabar menghadapi sikap suaminya.
"Siapa yang cemburu? Kamu itu istriku, sudah menikah jangan centil " ucap David sambil berusaha merebut ponsel milik dokter Karen.
David kini berada di atas tubuh dokter Karen sedangkan posisi dokter Karen tengkurap. Wortel import milik David mulai menegang membuat dokter Karen merasakan bokongnya terasa ada yang mengganjal.
Tangan kiri David menahan tubuhnya sedangkan tangan kanannya membalikkan tubuh dokter Karen hingga dokter Karen dan David saling berhadapan.
David dan dokter Karen belum tersadar di mana dokter Karen berusaha menyembunyikan ponselnya dan tubuh bagian privasinya saling bergesekan dengan wortel import milik David membuat awortel importnya semakin terasa tegang barulah mereka tersadar.
David mencium singkat bibir dokter Karen kemudian menciumnya kembali di mana dokter Karen tidak menolaknya. Tangan David mulai membuka kancing milik dokter Karen satu persatu dan entah bagaimana tubuh mereka kini polos tanpa sehelai benangpun.
David bagai bayi menyusu dengan rakus sedangkan tangan kanannya memi**n salah satu pucuk gunung kembar milik dokter Karen.
"Sstttt .... ahhh... " Suara merdu keluar dari mulut dokter Karen.
Dokter Karen memegang tombak sakti milik David membuat David merem melek merasakan tubuhnya seperti tersetrum.
"Sayang... ahhhhhhhh.. terus... " ucap David tanpa sadar sambil ke dua tangannya me x re x mas dua gunung kembar milik dokter Karen.
David yang sudah tidak bisa menahan ha x srat x nya memegang tangan dokter Karen yang memegang tombak sakti miliknya. Tombak sakti milik David perlahan dimasukkan ke dalam goa yang paling dalam dimana belum pernah dimasuki oleh siapapun.
Dokter Karen memejamkan matanya untuk menahan rasa sakit pada bagian privasinya.
"Sstttt sakit.." rintih dokter Karen.
"Lama - lama enak sa..." ucapan David terpotong karena ponsel milik David dan dokter Karen berdering bersamaan membuat aktifitas mereka berhenti seketika.
"Si*l." umpat David dengan nada kesal.
Berbeda dengan dokter Karen yang bernafas dengan lega karena wortel import milik David hanya masuk sedikit. David bangun dari ranjangnya dan memakai celana boxernya. Kemudian David berjalan ke arah balkon sambil membawa ponselnya.
("Hallo." panggil David dengan nada kesal).
("Maaf Tuan, perusahaan cabang di luar negri bermasalah." ucap Michael menjelaskan apa yang terjadi).
("Urus keberangkatan besok pagi, cabang yang di sini ada masalah?" tanya David).
("Besok ada panggilan interview untuk lowongan sekretaris." Jawab Michael).
("Bagaimana orang kepercayaan kita yang baru, bisa di percaya?" tanya David).
("Bisa tuan." Jawab Michael).
("Bagus, ada yang lainnya?" tanya David).
("Tidak ada tuan." jawab Michael).
Tut Tut Tut
David langsung mematikan sambungan komunikasi secara sepihak sedangkan Michael sudah terbiasa dengan apa yang dilakukan oleh David.
"Si*l sudah dua kali gagal." ucap David sambil menyandar tubuhnya ke besi pembatas balkon.
"Mungkin memang tidak boleh kita melakukan itu." ucap David yang teringat dengan pesan Federick.
Ketika David pergi ke arah balkon, dokter Karen yang berbaring di ranjang langsung buru - buru bangun dari ranjang dan memakai pakaian yg yang berserakan di lantai. Setelah selesai memakai pakaian dokter Karen mengambil ponselnya yang berada di bawah lantai.
("Hallo." panggil dokter Karen).
("Dengan Nyonya Karen?" Tanya seorang wanita dari sebrang).
("Kami dari perusahaan DD memberitahukan besok jam 8 pagi ada wawancara. Silahkan bawa CV dan jangan sampai terlambat datang." ucap seorang wanita dari sebrang).
("Baik, Saya akan datang tepat waktu. Terima kasih atas informasinya." jawab dokter Karen).
("Ok." jawab wanita dari sebrang kemudian mematikan ponselnya secara sepihak)..
Dokter Karen mengecup ponselnya dan berputar putar karena dokter Karen senang dirinya mendapatkan pekerjaan. Sepasang mata yang melihatnya menatap tajam dengan ekspresi kesal ke arah dokter Karen tanpa di sadari oleh dokter Karen yang asyik memutar tubuhnya.
"Aduh, sakit.." ucap dokter Karen sambil mengelus bokongnya yang terasa berdenyut.
Karena berputar putar kepala dokter Karen menjadi pusing dan bokongnya langsung mencium lantai membuat David yang awalnya menatap tajam dengan ekspresi kesal berubah menjadi tertawa lepas karena lucu melihat dokter Karen jatuh ke lantai.
"Hahahaha..." tawa David menggema di kamarnya.
Dokter Karen yang mendengar David menertawakan dirinya membuat dokter Karen menatap tajam ke arah David yang masih menertawakan dirinya.
"Bukannya dibantuin bangun, malah tertawa." ucap dokter Karen dengan wajah cemberut.
Tanpa menjawab David berjalan ke arah doker Karen dan menggendongnya kemudian dibaringkan secara perlahan ke ranjang.
"Siapa yang menghubungimu?" tanya David sambil menatap mata istrinya.
"Aku mendapat kan panggilan kerja karena itulah aku senang." jawab dokter Karen dengan jujur.
"Di perusahaan apa? Bagian apa?" tanya David penasaran.
"Melamar di perusahaan DD besok jam 8 pagi ada wawancara dan Aku melamar sebagai sekretaris." Jawab dokter Karen.
"Oh... Ingat ya pesanku jika di luar panggil Aku Tuan Muda." ucap David.
"Ok. Berarti di luar Aku boleh cari cowok lagi." ucap dokter Karen usil.
ctak
"Aduh." Ucap dokter Karen kesakitan.
David menyentil kening dokter Karen sambil menatap tajam sedangkan dokter Karen mengelus keningnya.
"Kenapa sih di sentil? Sakit tahu." ucap dokter Karen dengan wajah cemberut.
"Apa maksudmu boleh mencari cowok lain?" tanya David dengan nada kesal.
"Cemburu ya?" Tanya dokter Karen dengan suara menggoda.
"Tidak buat apa cemburu? Aku mau tidur ngantuk. Minggir." ucap David sambil berbaring di ranjang dan membelakangi dokter Karen.
Dokter Karen yang usil memeluk David dari arah belakang sambil menyium leher suaminya dan menghirupnya.
"Karen, apa yang kamu lakukan?" tanya David.
"Menyium leher suamiku kemudian menghirupnya wangi sekali. Boleh aku hisap darah suamiku yang tampan ini?" tanya dokter Karen jahil.
David melepaskan pelukan dokter Karen dan membalikkan badannya. David menatap tajam ke arah dokter Karen sedangkan dokter Karen hanya tersenyum menyeringai membuat bulu - bulu halus David berdiri.
"Kamu vampir?" tanya David dengan wajah curiga.
"Iya, Aku ada turunan vampir." Jawab dokter Karen sambil menahan senyum.
ctak
"Aduh." Ucap dokter Karen.
David yang tahu istrinya membohonginya membuatnya kesal dan menyentil kening istrinya.
"Kenapa sich senang banget menyentil keningku." sakit tahu." ucap dokter Karen mengelus keningnya sambil bibir bawahnya maju
"Makanya jangan iseng. Sudah ah aku ngantuk." ucap David sambil membalikkan badannya.
"Hehehe..." Tawa dokter Karen.
"Karen." Panggil David sambil membalikkan badannya.
"Ya honey." Jawab dokter Karen sambil ikut membalikkan badannya.
"Kalau kamu kerja lalu bagaimana dengan pekerjaanmu yang lama?" Tanya David.
"Pekerjaan yang lama tetap." Jawab dokter Karen.
"Bagaimana membagi waktunya? Bukankah perusahaan DD masuk jam delapan pagi dan pulang jam lima sore?" Tanya David.
"Jika Aku terima kerja maka dari pagi sampai sore Aku berangkat ke kantor DD kemudian pulangnya Aku langsung ke rumah sakit bekerja sebagai dokter." Jawab dokter Karen sambil sesekali menguap.
"Apakah tidak lelah?" Tanya David.
"Tidak, Aku sudah terbiasa." Jawab dokter Karen.
"Memangnya gaji dari rumah sakit kurang?" Tanya David.
"Cukup sih, lebih malah." Jawab dokter Karen.
"Lalu kenapa ingin melamar kerja sebagai sekretaris?" Tanya David.
"Buat di tabung ingin membeli kendaraan." Jawab dokter Karen.
"Bukannya di mansion banyak mobil? Kamu tinggal pilih mana yang kamu suka." Ucap David.
"Tapi Aku lebih suka membeli dari hasil jerih payahku bekerja." Jawab dokter Karen sambil kembali menguap dan matanya tinggal setengah watt.
Aku tidak setuju kalau kamu kerja sebagai sebagai sekretaris dan dokter. Aku ingin kamu pilih salah satu kerja sebagai dokter atau kerja sebagai sekretaris." Ucap David dengan nada tegas.
Hening
David menatap dokter Karen sudah tertidur dengan lelap karena besok pagi dokter Karen harus bangun lebih pagi sedangkan David masih sulit untuk tidur.
"Cepat sekali istriku tidur." ucap David sambil menatap wajah cantik istrinya.
Dokter Karen tanpa sadar memeluk David seperti memeluk guling sambil kepalanya bersandar di dada bidang David. David hanya tersenyum dan membalas pelukan dokter Karen dan tidak berapa lama David ikut tertidur dengan pulas.