Alessandra

Alessandra
Bagian Ke 65



"Aku baik - baik saja Sayang. Aku haus honey." ucap dokter Sandra dengan nada lirih.


"Sebentar ya sayang." ucap Federick.


Federick pun memberikan gelas yang sudah ada sedotannya dan dokter Sandra meminumnya. Setelah selesai minum, Federick meletakkan kembali gelasnya kemudian menggengam tangan dokter Sandra.


"Sayang, sebentar lagi kita menjadi orang tua." ucap Federick sambil membelai perut istrinya yang masih rata.


"Benarkah honey?" tanya dokter Sandra sambil tersenyum bahagia.


"Ya benar sayang, kalau kamu sudah sehat kita periksa kandunganmu karena Aku ingin tahu perkembangan anak kita." ucap Federick.


"Ya sayang. Aku juga penasaran." ucap dokter Sandra.


"Bagaimana kalau mulai sekarang panggilannya berubah menjadi Mommy dan Daddy." usul Federick.


"Baik Daddy." jawab dokter Sandra yang mengikuti suara seperti anak kecil.


Federick tersenyum mendengar ucapan dokter Sandra yang mirip suara anak kecil. Merekapun bercakap-cakap kadang serius dan kadang tertawa bersama. Kebahagian mereka bertambah dengan kehadiran anak yang dinantikan oleh mereka berdua.


Hingga tidak terasa tiga hari dokter Sandra di rawat di rumah sakit dan kini mereka berdua berada di ruangan dokter kandungan. Dokter Sandra berbaring di ranjang dan seorang perawat menarik dress ke atas milik dokter Sandra sampai ke perut berbarengan dengan menutupi kaki sampai di bawah perut.


Perawat itu memberikan gel ke perut dokter Sandra yang terasa dingin. Setelah selesai dokter itupun menaruh stick di perut dokter Sandra untuk melihat bentuk janinnya.


"Ada dua bulatan, selamat ya Tuan dan nyonya anaknya kembar." ucap dokter tersebut.


"Apa Dok kembar?" Tanya dokter Sandra dan Federick dengan serempak dengan wajah terkejut sekaligus bahagia.


"Benar Nyonya dan Tuan." Jawab dokter tersebut.


"Berapa usia kandungannya, Dok?" tanya dokter Sandra.


"Tunggu sebentar." ucap dokter tersebut sambil memainkan stick untuk mengukur janin dokter Sandra.


"Perkiraan baru empat minggu." ucap dokter tersebut.


"Oh iya hampir saya lupa, karena waktu itu nyonya mengalami luka di bagian perut jadi saya harap nyonya jangan berpergian jauh dan tidak boleh capek karena bisa membahayakan ke dua janin Nyonya." sambung dokter tersebut


"Baik dokter."Jawab dokter Sandra dengan patuh.


"Dokter kan bilang kalau istriku tidak boleh capek. Tapi bolehkah kami tetap melakukan hubungan suami istri setiap hari?" tanya Federick dengan wajah polosnya.


" Auch sakit mommy." ucap Federick sambil pura-pura mengusap pinggangnya yang di cubit oleh istrinya.


Bagi Federick cubittan dokter Sandra sama seperti dikelitikin namun Federick pura - pura kesakitan.


"Malu Daddy." ucap dokter Sandra dengan wajah bersemu merah.


"Tidak apa - apa Nyonya karena memang kebanyakan para suami menanyakan hal itu." Ucap dokter tersebut.


"Selama tiga bulan jangan dulu Tuan, agar janinnya lebih kuat." sambung dokter tersebut.


Federick hanya menghembuskan nafasnya dengan kasar sedangkan istrinya hanya tersenyum melihat wajah frustasi suaminya.


Kemudian perawat tersebut membersihkan perut dokter Sandra dengan tissue. Federick membantu istrinya untuk bangun kemudian mereka berjalan ke arah kursi dan duduk berdampingan saling berhadapan dengan dokter kandungan.


Dokter kandungan memberikan resep obat penguat kandungan kemudian merekapun keluar dari ruangan dokter kandungan.


Kini mereka berada di dalam mobil namun Federick tidak menyalakan mobil membuat dokter Sandra menatap wajah tampan suaminya.


Dokter Sandra melihat wajah suaminya terlihat frustasi dan dokter Sandra tahu ini ada hubungan dengan Federick menanyakan tentang hubungan suami istri ketika mereka berada di ruangan dokter kandungan.


Hal itu membuat dokter Sandra tidak tega melihatnya karena dokter Sandra tahu kalau suaminya mempunyai hasrat yang sangat tinggi.


"Daddy, Mommy tahu kalau Daddy frustasi." Ucap dokter Sandra.


Federick hanya diam sambil menyandarkan kepalanya di stir kemudi membuat dokter Sandra menghembuskan nafasnya dengan perlahan.


"Aku mempunyai 2 usul, apa Daddy mau mendengarkan?" tanya dokter Sandra.


"Apa itu?" tanya Federick sambil duduk dengan tegak kemudian mengarahkan wajahnya ke arah samping di mana istrinya sedang memandang dirinya.


"Usul pertama, Daddy kan bisa membuat obat untuk memperkuat janin maka buatlah agar kita bisa melakukan hubungan suami istri." Jawab dokter Sandra.


"Aku baru membuat obat ramuan memperkuat janin tapi efeknya ibunya akan meninggal dunia setelah anak itu lahir." ucap dokter Federick.


"Kalau begitu berikanlah obat itu padaku." pinta dokter Sandra.


"Apa maksudmu? Kamu ingin meminumnya?" Tanya Federick sambil menaikkan salah satu alis matanya.


"Benar sekali. Walau nyawaku akan menjadi taruhannya Mommy tidak apa-apa asalkan Daddy bahagia dan wajah Daddy tidak di tekuk lagi." Jawab dokter Sandra sambil tersenyum.


"Tidak, lebih baik Daddy menahan hasrat Daddy dari pada Daddy mesti kehilanganmu." tolak Federick dengan nada tegas.


"Yang ke dua?" tanya Federick mengalihkan pembicaraan sekaligus penasaran.


"Usul yang ke dua carilah penggantiku dan menikahlah dengannya tapi ceraikan Aku terlebih dulu." Jawab dokter Sandra.


"Justru karena Mommy mencintai Daddy, Mommy tidak ingin Daddy tersiksa karena ingin melakukan itu." Jawab dokter Sandra.


"Ke dua usulmu aku tolak, kita pulang." ucap Federick sambil menyalakan mobil.


"Apakah Daddy marah padaku?" tanya dokter Sandra dengan wajah sedih.


"Tidak. Mommy jangan berpikir macam-macam, kita pulang sekarang." Jawab Federick.


Federick mengendarai mobil dengan kecepatan sedang menuju ke arah hotel sedangkan istrinya hanya diam sambil menatap jalan raya.


FLASH BACK OFF


"Itulah yang terjadi, apakah mommy ingin meninggalkan Daddy karena sudah tahu kalau Daddy ternyata pria kejam dan tidak punya rasa iba sedikitpun?" Tanya Federick dengan wajah sendu.


"Tidak Daddy. Mommy tidak akan meninggalkan Daddy karena Mommy sangat mencintai Daddy asalkan Daddy berusaha mengontrol emosi dan jangan sampai membunuhnya karena mati dan hidup seseorang ditentukan oleh sang Pencipta." Jawab dokter Sandra.


"Baik Mommy, Daddy akan berusaha menahan sabar dan terima kasih Mommy mau menerima Daddy apa adanya." ucap Federick dengan tulus.


Dokter Sandra hanya menganggukkan kepalanya sambil menatap wajah tampan suaminya kemudian memeluk tubuh kekar suaminya .


"Daddy, sudah dua bulan lebih Daddy menahan hasrat. Apakah Daddy ingin melakukan itu?" tanya dokter Sandra.


"Tentu saja ingin tapi Daddy selalu menahannya demi anak - anak Daddy dan Mommy." Jawab Federick sambil membalas pelukan istrinya sambil tersenyum.


"Jika main satu ronde Mommy rasa tidak apa - apa Daddy." jawab dokter Sandra.


"Aku tidak mau menyakiti kalian bertiga. Kamu dan kedua anak kembar kita." ucap Federick sambil menatap sendu ke arah istrinya.


Dokter Sandra bangun dari ranjangnya kemudian duduk di pangkuan suaminya.


"Lakukan secara perlahan-lahan." bisik dokter Sandra.


"Apakah tidak apa-apa?" tanya Federick antara ingin dan tidak tapi lebih cenderung ke arah ingin.


"Iya Daddy. Apakah Daddy lupa kalau Mommy juga seorang dokter kandungan jadi lakukanlah secara perlahan." Jawab dokter Sandra kemudian mengecup bibir suaminya.


Federick yang sudah tidak bisa menahan hasratnya melakukan kegiatan suami istri di siang hari hingga terdengar suara ******* dari mulut mereka berdua.


xxxxxxx


Di tempat yang berbeda di mana dokter Karen sudah pulang ke mansion milik suaminya. Dokter Karen hanya memasak masakan kesukaan suaminya selebihnya dokter Karen istirahat dan tidak boleh melakukan apa-apa karena David tidak ingin terjadi sesuatu dengan anaknya.


"Sayang, Aku berangkat kerja dulu. Jangan kemana-mana dan jangan melakukan sesuatu yang membuat mu cape." ucap David mengingatkan istrinya.


"Tapi honey, Aku bosan." ucap dokter Karen dengan nada manja.


"Tapi sayang, di dalam perutmu ada anak kita dan Aku tidak ingin terjadi sesuatu dengan anak kita." ucap David dengan nada tegas.


"Baiklah." jawab dokter Karen dengan nada pasrah.


"Suruh sahabatmu saja datang ke sini." usul David.


"Bolehkah?" tanya dokter Karen dengan wajah berbinar.


"Iya sayang." Jawab David.


"Ingat pesanku dan jangan di langgar." ucap David kemudian mengecup bibir istrinya.


Kemudian David mendekatkan wajahnya ke perut istrinya yang sudah mulai menonjol.


"Anak Daddy jaga Mommy ya? Jangan nakal." ucap David kemudian mengecup perut istrinya.


"Baik Daddy." jawab dokter Karen sambil tersenyum dan menirukan suara anak kecil.


David hanya tersenyum kemudian David dan dokter Karen berjalan sampai depan pintu utama.


"Selamat pagi Nyonya." sapa Michael sambil membukakan pintu mobil belakang pengemudi untuk Tuan David.


"Pagi Kak Michael." jawab dokter Karen.


David melambaikan tangannya ke arah istrinya dan dokter Karen pun membalas lambaian tangan suaminya hingga mobil suaminya tidak kelihatan barulah dokter Karen membalikkan badannya dan masuk ke dalam mansion.


xxxxxxx


("Tuan. Tuan David dan Tuan Michael sudah pergi sepertinya mereka berdua ke kantor." ucap anak buahnya melaporkan apa yang terjadi di mansion).


("Bagus. Cari waktu yang tepat untuk membunuh istri Tuan David dan kekasihnya Tuan Michael." ucap pria paruh baya tersebut dengan nada dingin).


("Baik Tuan." jawab anak buahnya dengan patuh).


tut tut tut tut tut tut


Tanpa menunggu jawaban pria paruh baya tersebut memutuskan sambungan komunikasi secara sepihak.