
Pagi hari yang cerah dokter Karen merasakan tubuhnya terasa berat membuat dokter Karen memaksakan untuk membuka matanya. Matanya membulat sempurna karena dokter Karen tertidur sambil memeluk seorang pria dan kepalanya bersandar di dadanya.
Hal itu membuat dokter Karen perlahan mengangkat kepalanya dan melihat suaminya masih setia memejamkan matanya.
'Kalau suamiku tidur seperti bayi yang sangat menggemaskan dan sangat tampan. Seandainya saja ada sedikit saja perasaan suamiku untuk mencintai ku pasti Aku sangat bahagia.' Ucap dokter Karen dalam hati.
'Sudahlah Karen, Kamu jangan terlalu banyak berharap karena yang terpenting suamimu selalu bahagia walau bukan bersamamu.' Sambung Karen dalam hati.
Dokter Karen dengan perlahan melepaskan pelukannya namun dirinya sangat terkejut karena tangannya di infus dan berusaha mengingat apa yang sudah terjadi.
'Tanganku kenapa di infus? Aku hanya ingat ketika Aku berjalan untuk membuat bubur lagi tiba - tiba tubuhku seperti tidak bertulang dan samar - samar Aku mendengar suara suamiku memanggilku dengan panik.' Ucap dokter Karen dalam hati.
'Aku tidak ingat apakah suamiku menolongku? Atau ada dokter yang datang dan melihatku jatuh terus di tolong. Sudahlah lebih baik Aku harus turun dari ranjang kalau tidak nanti aku di dorong seperti dulu." ucap dokter Karen dalam hati yang tidak ingin kejadian waktu itu terulang kembali.
Dokter Karen perlahan melepaskan pelukan David tapi pelukannya semakin erat. Dokter Karen tidak putus asa, dokter Karen berusaha melepaskan pelukan David namun David semakin erat karena tenaganya lebih besar darinya. Akhirnya dokter Karen pun menyerah dan perlahan membangunkan suaminya.
"Maaf Tuan Muda David, saya tidak bisa bernafas." ucap dokter Karen sambil menepuk pelan dada bidang David.
David pun mengendurkan pelukannya agar dokter Karen bisa bernafas kembali. Dokter Karen mencoba melepaskan tangan David tapi David tetap tidak mau melepaskan nya.
"Biarkan seperti ini aku masih mengantuk." ucap David dengan suara serak khas orang tidur dan sepasang matanya yang masih setia memejamkan matanya.
"Tapi maaf Tuan Muda David, saya ingin ke kamar mandi jadi tolong lepaskan pelukannya." Pinta dokter Karen sambil tangan kanannya menyentuh lengan David.
David pun terpaksa melepaskan pelukannya dan dokter Karen perlahan turun dari ranjang sambil membawa botol infus. Dokter Karen berjalan perlahan menuju kearah kamar mandi. Setelah selesai dokter Karen keluar dari kamar mandi dan melihat David sedang memandang dirinya tanpa berkedip namun wajahnya tidak ada ekspresi sedikitpun.
Dokter Karen hanya diam dan berjalan menuju ke arah ranjang khusus untuk menunggu pasien namun baru beberapa langkah David memanggilnya.
"Mau kemana?" tanya David penasaran.
"Mau berbaring di ranjang itu." ucap dokter Karen sambil menunjukkan ranjang khusus untuk menunggu pasien.
"Tidak boleh, buatkan aku sarapan pagi!" perintah David.
"Ok." jawab dokter Karen pasrah.
Dokter Karen menarik selang infus karena tidak mungkin dirinya memasak membawa botol dan selang infus pasti sangat ribet. David sebenarnya tidak tega dan ingin dokter Karen untuk istirahat tapi dendamnya terhadap orang tua dokter Karen membuatnya ingin menyiksanya.
Dokter Karen berjalan keluar menuju ke arah dapur meninggalkan David sendirian.
"Kenapa setiap aku menyiksanya, Karen sama sekali tidak pernah mengeluh atau protes? Menuruti semua permintaan ku padahal dia bisa saja melawan, sebenarnya apa rencana Karen untukku?" Guman David sambil berpikir.
"Kenapa setiap Aku memeluk Karen mimpi buruk ku hilang dan aku merasa nyaman ketika Karen memelukku. Apa aku sudah jatuh cinta padanya? Tidak... Tidak... Dia anak pembunuh jadi Dia harus Aku siksa agar orang tuanya merasakan sakit seperti yang dulu Aku rasakan." ucap David.
David pun sama seperti dokteer Karen menarik selang infus dan bangun dari tempat tidur. David berjalan menuju ke arah kamar mandi setelah selesai David berbaring kembali di ranjangnya.
Di tempat yang sama hanya berbeda ruangan di mana dokter Karen berjalan ke arah dapur hingga dirinya tanpa sengaja bertemu dengan dokter Alesandra.
"Mau memasak ya?" Tanya dokter Alesandra pura - pura menebak.
"Iya benar." Jawab dokter Karen.
"Aku akan temani." Ucap dokter Alesandra.
Mereka berdua berjalan ke arah dapur sambil mengobrol dengan santai hingga akhirnya mereka sampai di dapur. Dokter Alesandra meminta para koki untuk keluar dari dapur selama tiga puluh menit. Setelah Mereka keluar dokter Alesandra mengambil panci dan nasi yang sudah matang sambil berbicara dengan dokter Karen.
"Kamu duduklah, biarkan Aku yang memasaknya." Ucap dokter Alesandra.
Sambil berbicara dokter Alesandra meletakkan panci di mana di dalam panci sudah ada air dan nasi yang sudah matang lalu menyalakan kompor gas.
"Tapi ...." ucapan dokter Karen terpotong oleh dokter Alesandra.
"Kamu belum sepenuhnya sembuh jadi duduklah." Ucap dokter Alesandra sambil mengambil gelas berisi air mineral.
"Kamu minumlah obat ini." Ucap dokter Alesandra sambil meletakkan gelas kemudian mengambil plastik yang berisi sebutir obat dari saku jas dokternya.
"Obat apa ini?" Tanya dokter Karen sambil menerima kemudian meminum obat pemberian dokter Alesandra tanpa ada rasa curiga sedikitpun.
"Obat itu menyembuhkan lukamu dan juga menangkal racun." Jawab dokter Alesandra.
"Menangkal racun?" Tanya dokter Karen mengulangi perkataan dokter Alesandra dengan wajah bingung.
"Sebentar lagi ada seorang perawat memberikan bubur yang mengandung racun untuk suamimu dan racun itu sangat ganas. Tapi Kamu tenang saja bubur itu akan Aku ganti dengan yang baru dan menangkap pelakunya. Jadi tugasmu adalah ...." Ucap dokter Alesandra membisikkan sesuatu ke telinga dokter Karen.
Dokter Karen hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti kemudian dokter Alesandra melanjutkan memasak bubur untuk David sedangkan dokter Karen duduk sambil memperhatikan apa yang dilakukan dokter Alesandra.
"Kenapa Kamu bisa tahu apa yang terjadi?" Tanya dokter Karen penasaran.
"Seperti yang Aku katakan waktu itu kalau Aku meretas cctv rumah sakit ini karena itulah Aku bisa tahu apa yang terjadi nantinya." Jawab dokter Alesandra berbohong.
'Maaf untuk sementara Aku tidak bisa berkata jujur karena Aku tidak mungkin mengatakan kalau Aku adalah wanita yang bisa masuk ke dunia novel.' Sambung dokter Alesandra dalam hati.
Dokter Karen hanya menganggukkan kepalanya sedangkan dokter Alesandra memasukkan bubur ke dalam mangkok karena sudah matang. Dokter Alesandra memasukkan irisan ayam goreng berikut teman - temannya.
"Kok ada dua mangkok? Apakah untukmu? Atau untuk asisten suamiku?" Tanya dokter Karen kepo.
"Hehehe ... Untuk asisten suamimu." jawab dokter Alesandra sambil tertawa terkekeh geli.
Dokter Karen hanya tersenyum kemudian ke dua sahabat tersebut keluar dari ruangan dapur menuju ke ruang perawatan di mana David dan Michael sedang di rawat.
Di tempat yang sama namu berbeda ruangan, lebih tepatnya di ruangan di mana David berbaring di ranjang. Tiba - tiba pintu ruang perawatan terbuka membuat David pura - pura memejamkan matanya.
Seorang dokter dan perawat membuka pintu untuk mengecek kondisi David hingga wajah Mereka membulat dengan sempurna namun pura - pura bersikap bisa saja.
"Maaf Tuan Muda David, saya ingin mengecek tuan." ucap dokter itu dengan ramah.
David membuka matanya dan hanya menganggukkan kepalanya sedangkan perawat memasang kembali jarum infusnya.
"Maaf Tuan Muda David, kenapa jarum infus Tuan Muda David dan Nyonya sama - sama di lepas? Terus kemana Nyonya Muda?" tanya dokter dengan beruntun.
David hanya diam sambil berpikir untuk mencari jawaban yang pas bertepatan kedatangan dokter Karen yang membuka pintu sambil membawa mangkok berisi bubur.
Hal itu membuat dokter dan perawat menengok untuk melihat siapa yang datang sedangkan David hanya menatap dokter Karen dengan tatapan datar.
"Nyonya, habis dari mana?" tanya dokter tersebut dengan ramah.
"Buat bubur buat suamiku." Jawab dokter Karen sambil tersenyum dan meletakkan mangkok bubur ke atas meja dekat ranjang.
"Nyonya Muda, semalam tidak sadarkan diri dan seharusnya Nyonya Muda istirahat. Lagi pula di rumah sakit ini sudah disiapkan makanan buat pasien." ucap dokter tersebut.
"Maaf dokter. Saya sudah sehat kok. Apalagi suamiku sudah terbiasa menyukai masakanku terlebih sekarang suamiku sedang sakit karena itulah aku memasaknya." ucap dokter Karen sambil tersenyum.
"Bagaimana keadaan suamiku, Dok?" tanya dokter Karen mengalihkan pembicaraan.
"Hari ini bisa pulang ke rumah karena kondisinya sudah membaik." Jawab dokter tersebut.
"Syukurlah, terima kasih banyak dokter." jawab dokter Karen sambil tersenyum bahagia.
Dokter itupun membalas senyuman dokter Karen dan berjalan keluar sedang kan perawat itu mengambil suntikan dan selang infus bekas dokter Karen untuk di bawa kemudian meninggalkan mereka berdua di ruang perawatan.
"Kamu itu sudah menikah jadi jangan suka tebar pesona." Ucap David dengan nada cemburu.
"Tebar pesona maksudnya?" tanya dokter Karen dengan wajah bingung.
"Ngapain kamu senyam senyum ke dokter itu kalau bukan tebar pesona?" tanya David dengan nada sinis.
"Tuan juga kenapa selalu memasang wajah jelek? Padahal Tuan Muda David itu sangat tampan. Coba saja senyum sedikit saja pasti berkali lipat tampan nya." ucap dokter Karen.
"Kamu ..." ucap David dengan nada kesal tanpa melanjutkan perkataannya.
"Saya Karen, apa Tuan Muda David sudah lupa?" Tanya dokter Karen.
"Mana bubur nya saya lapar awas ya kalau tidak enak." ucap David dengan nada mengancam.
"Awas ya kalau tidak enak buang bubur nya di wajahku? Aku tidak akan memasak lagi." ucap Karen dengan nada ikut mengancam.
"Kenapa sekarang kamu berani membantah hah!!! bentak David dengan suara menggelegar.
Dokter Karen menghembuskan nafasnya dengan perlahan untuk mengatur emosinya kemudian menundukkan wajahnya karena sejujurnya dirinya sudah sangat lelah.
"Maaf." ucap dokter Karen.
"Cepat suapi aku!" perintah David dengan nada dingin.
"Baik." jawab dokter Karen dengan singkat.
Dokter Karen mengambil mangkok yang berisi bubur dan mengambil bubur hanya sedikit.
"Kenapa sedikit?" Tanya David dengan nada protes.
"Masih panas Tuan Muda David." jawab dokter Karen.
Dokter Karen dengan sabar menyuapi sedikit demi sedikit bubur ke mulut David hingga bubur itupun habis. Ada sisa bubur sedikit di bibir David hal itu membuat dokter Karen mencari tissue tapi tidak ada dan akhirnya tangan dokter Karen diarahkan ke mulut David dan membersihkan sisa bubur yang menempel di bibir David.
David memejamkan mata menikmati sentuhan tangan dokter Karen hingga dokter Karen menarik tangannya barulah David membuka matanya.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya David penasaran.
"Ada sisa bubur di bibir Tuan Muda David, lihatlah?" ucap dokter Karen memperlihatkan ibu jarinya ke David.
Dokter Karen menjilat ibu jarinya membuat David membulatkan matanya dengan sempurna karena tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh dokter Karen..
"Apa yang kamu lakukan?" tanya David dengan wajah terkejut.
"Menjilat ibu jariku seperti Tuan Muda David lihat." Jawab dokter Karen dengan nada santai.
"Kenapa? Kamu tidak jijik?" tanya David penasaran.
"Kenapa jijik Tuan Muda David kan suamiku." Jawab dokter Karen.
"Apalagi Aku penasaran sama rasanya karena namanya bubur rasanya pasti sama semua. Nanti kalau bubur dari rumah sakit datang aku akan mencobanya rasa nya sama atau tidak terlebih ...." sambung dokter Karen menggantungkan kalimatnya.
"Terlebih apa? Kamu tidak takut pada ku?" tanya David penasaran.
"Siapa tahu hari ini Aku terakhir memasak untuk Tuan Muda David. Mengenai Aku takut atau tidak? Kenapa Aku harus takut." Jawab dokter Karen.
"Apa maksudmu hari ini terakhir memasak untukku? Jangan bilang Kamu akan kabur dariku. Sepertinya Aku belum menghukummu lagi karena itu kamu mulai berani. Nanti kalau Aku sudah pulang dari rumah sakit Aku akan menyiksamu lagi." ucap David sambil tersenyum menyeringai membuat semua orang takut jika memandangnya.
"Aku tidak mungkin kabur jadi lakukan lah jika memang itu membuat Tuan Muda David merasa puas menyiksaku. Apalagi bisa saja ketika Tuan Muda David pulang tiba - tiba sambil membawa jasadku sebelum menghukumku." ucap dokter Karen dengan nada santai
"Kenapa Kamu berbicara seperti itu? Kamu tidak takut untuk aku siksa dan membunuh mu?" tanya David dengan wajah tanpa ekspresi.
Dokter Karen meletakkan mangkok bekas bubur yang tadi di makan oleh David di meja dekat ranjang suaminya. Dokter Karen mendekati wajahnya ke wajah David hingga jarak menyisakan 5 cm.
"Aku tahu bahwa suamiku Tuan Muda David adalah seorang psycophat di mana sangat suka menyiksa dan membunuh adalah kesenangan buat Tuan Muda David. Jika memang takdirku harus mati di tangan Tuan Muda David maka Aku rela asalkan Aku adalah wanita yang terakhir tuan siksa." Jawab dokter Karen sambil menatap wajah tampan suaminya.
"Mati dan hidup seseorang di atur sama yang di Atas, bisa saja setelah satu jam kemudian Aku pergi selama - lamanya meninggalkan suamiku." Sambung dokter Karen.
Selesai berbicara dokter Karen mengecup bibir David dengan singkat membuat David terkejut atas tindakan dokter Karen.
"Satu lagi asalkan Tuan Muda David tahu, kalau Tuan Muda David adalah pria ke dua yang mencium bibirku dan melihat tubuh polosku tanpa sehelai benang pun." Ucap dokter Karen dengan jujur.
Jantung David berdetak kencang sambil menahan amarah yang meluap dan menatap tajam ke arah dokter Karen ketika dokter Karen mengatakan yang sebenarnya. Hati kecilnya tidak terima dan sangat kecewa terhadap dokter Karen membuat David menahan amarahnya yang siap meledak.
"Siapa pria pertama itu?" tanya David dengan wajah tanpa ekspresi sedikitpun.