Alessandra

Alessandra
Bagian Ke 24



Setelah para anak buah suaminya yang bernama David masuk ke dalam ruang perawatan, dokter Karen duduk di ruang tunggu perawatan. Dokter Karen sangat lelah dan ingin sekali istirahat di mansion tapi hati kecilnya tidak tega meninggalkan suaminya di ruang perawatan.


Dokter Karen berusaha menahan rasa kantuk dengan berjalan menuju ke arah kantin untuk membeli susu coklat hangat. Setelah membelinya dokter Karen berjalan kembali ke ruang tunggu perawatan.


Ketika dokter Karen ingin duduk bersamaan dirinya melihat para anak buah suaminya yang sedang ke ruang perawatan dan menatap dirinya.


"Bagaimana keadaan suamiku?" tanya dokter Karen yang tidak jadi duduk.


"Baik Nyonya. Nyonya di tunggu oleh Tuan Muda David." Jawab salah satu anak buahnya dengan ramah.


Baik. Terima kasih." ucap dokter Karen sambil tersenyum.


"Oh iya, Aku membeli kopi buat kalian, silahkan di minum." ucap dokter Karen sambil memberikan paper bag yang berisi delapan gelas yang berisi kopi panas dan cemilan.


"Maaf jadi ngerepotin Nyonya." ucap Mereka dengan serempak dan menerima pemberian dari dokter Karen.


"Aku tidak merasa repot kok. Di dalam paper bag ada delapan gelas kopi dan cemilan untuk para paman dan teman paman yang menjaga Kak Michael." ucap dokter Karen sambil tersenyum.


"Terima kasih banyak Nyonya." Ucap mereka dengan serempak.


"Sama - sama." Jawab dokter Karen sambil tersenyum.


Dokter Karen berjalan memasuki ruang perawatan dan melihat suaminya sedang menatap dirinya dengan tatapan tajam.


"Habis dari mana kamu? Apa jangan - jangan kamu cari mangsa baru?" tanya David dengan wajah sinis.


"Mangsa baru? Maksud Tuan Muda David?" tanya dokter Karen tak mengerti dengan wajah bingung.


"Mencari pria lain di saat suaminya sakit." ucap David dengan nada dingin.


Dokter Karen hanya diam tanpa menjawab ucapan suaminya hanya berjalan mendekati suaminya. Dokter Karen menundukkan tubuhnya kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah suaminya membuat ke dua jantung mereka berdetak dengan kencang sehingga David memalingkan wajahnya ke arah samping.


Dokter Karen menarik wajahnya kemudian berdiri, dokter Karen berjalan ke arah sofa kemudian meletakkan susu coklat hangatnya di meja dekat sofa lalu mendekati suaminya yang sedang berbaring di ranjang.


"Tatap mataku? Apakah Aku tipe wanita seperti itu?" tanya dokter Karen sambil ke dua tangannya memegang ke dua pipi David agar menatap dirinya.


David menatap wajah cantik istrinya kemudian pandangan makanya beralih ke bawah bibir istrinya ingin sekali merasakan bibir istrinya tapi lagi - lagi perasaan benci dan dendam merasuki hatinya.


David langsung menepis tangan dokter Karen kemudian memalingkan wajahnya ke arah samping untuk menghilangkan perasaannya terhadap istrinya.


"Jangan pernah menyentuhku kalau tidak mau menerima hukuman." ucap David dengan nada dingin.


David sebenarnya sangat senang tapi David berjuang agar tidak jatuh cinta dengan istrinya. Karena itulah sebisa mungkin David menghilangkan perasaannya walau bagaimanapun caranya.


"Maaf Tuan Muda David, ada apa Tuan Muda David memanggilku?" tanya dokter Karen berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Aku mau makan tapi tanganku lagi sakit, suapi Aku." Ucap David dengan nada masih dingin.


"Baiklah." jawab dokter Karen sambil duduk di kursi di samping ranjang suaminya.


Dokter Karen mengambil mangkok yang berisi bubur dan mulai menyuapi David namun baru saja bubur itu masuk ke dalam mulutnya langsung dimuntahkan ke wajah dokter Karen.


Dokter Karen hanya memejamkan matany sambil mengambil makanan yang menempel di wajahnya dengan menggunakan tissue yang ada di meja dekat ranjang.


"Bubur apa ini? Sama sekali tidak enak. Masakin Aku bubur!" perintah David dengan nada kesal.


"Baik Tuan Muda David." jawab dokter Karen dengan patuh.


Dokter Karen berdiri dan berjalan ke arah kamar mandi namun baru beberapa langkah David memanggilnya dengan nada kesal.


"Mau kemana?" tanya David.


"Mau membasuh wajahku dulu setelah itu baru Aku akan masak bubur nya." jawab dokter Karen dengan nada lembut sambil tersenyum.


"Cepatlah." ucap David dengan nada singkat.


"Baik." jawab dokter Karen dengan singkat.


Dokter Karen masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan wajah dan pakaiannya. Setelah bersih dokter Karen berjalan keluar ruang perawatan suaminya menuju ke kantin untuk meminjam dapur.


Setengah jam kemudian buburnya sudah matang, Karen sudah sangat lelah dan tubuhnya sudah mulai lemas. Hal itu dikarenakan dokter Karen belum sarapan di tambah tidurnya hanya beberapa jam karena David terkadang bermimpi buruk membuat dokter Karen sering terbangun.


Dokter Karen mengusap bahu David agar tidurnya tenang setelah tenang barulah dokter Karen tidur dengan posisi duduk dan menyandarkan kepalanya di ranjang samping suaminya.


Kejadian itu tidak hanya sekali tapi berkali - kali namun dokter Karen dengan sabar melakukannya. Seperti saat ini dirinya berusaha untuk bersabar dan memaksakan dirinya untuk mengikuti perintah suaminya tanpa banyak mengeluh.


Singkat cerita kini dokter Karen duduk di samping suaminya dan mulai meniup bubur itu setelah tidak begitu panas barulah dokter Karen mengarahkan sendok nya ke mulut David tapi tangan David menahan sendok nya agar tidak masuk ke mulutnya.


"Cobain dulu siapa tahu ada racunnya." ucap David dengan nada dingin.


Dokter Karen tanpa banyak komentar mengikuti keinginan suaminya sendok nya dimasukkan ke dalam mulutnya dan memakannya tanpa ragu sedikitpun.


"Maaf Tuan Muda David, Aku akan ambil sendok lagi karena sendok ini bekasku." ucap dokter Karen.


"Tidak perlu karena Aku sangat lapar." Ucap David.


Dokter Karen mulai menyuapi bubur sesendok demi sesendok hingga tidak terasa sudah habis. Dokter Karen meletakkan mangkok kosong kemudian mengambil gelas di meja dan diberikan ke suaminya yang sudah ada sedotannya.


"Ada lagi yang lainnya?" tanya dokter Karen dengan nada lembut.


"Buatkan Aku bubur lagi." Ucap David.


"Baik Tuan Muda David." jawab dokter Karen sambil tersenyum tanpa protes walau tubuhnya sangat lelah dan kepalanya sudah mulai pusing.


'Kamu harus kuat dan jangan sampai pingsan.' Sambung dokter Karen dalam hati.


Dokter Karen berdiri sambil ke dua tangannya memegang sisi ranjang sambil memejamkan matanya untuk menghilangkan rasa pusing. Dokter Karen yang tidak ingin David marah membuat dokter Karen memaksakan untuk berjalan dengan perlahan sambil menahan kepalanya yang terasa pusing di tambah ketik menatap ruangan seperti berputar - putar.


Dokter Karen memijat kepalanya yang terasa pusing sambil berjalan namun baru beberapa langkah dokter Karen ambruk dan tidak sadarkan diri.


"Karen!!!" teriak David dengan wajah panik.


David sangat terkejut ketika melihat dokter Karen tubuhnya ambruk ke lantai membuat David memanggilnya namun dokter Karen tidak menjawab teriakan David.


David langsung bangun kemudian menarik selang infusnya lalu turun dari ranjang. David berjalan ke arah dokter Karen kemudian menggendong dokter Karen ala bridal style lalu berjalan ke arah ranjang. Sampai di ranjang David meletakkan perlahan tubuh dokter Karen di ranjang yang tadi digunakannya.


David menekan tombol yang berada di atas kepalanya yang menempel di dinding. David menekan berulang - ulang setelah agak lama dokter dan perawat membuka pintu ruang perawatan.


"Ada apa Tu..." ucapan dokter tersebut terpotong oleh David.


"Istriku tidak sadarkan diri, tolong di cek kondisinya." pinta David sambil menunjuk ke dokter Karen yang masih tidak sadarkan diri.


Untuk pertama kalinya David mengucapkan kata tolong dan menyebut kata istriku.


"Baik Tuan Muda David." jawab dokter tersebut.


'Sepertinya kalau Karen tidak sadarkan diri suaminya langsung perhatian dan terlihat jelas wajah kuatirnya. Kini Aku tahu kelemahan David karena dengan begini Aku akan membuat rencana agar David mengakui kalau David mencintai istrinya dan melupakan dendamnya.' sambung dokter Alesandra dalam hati.


Dokter Alesandra mendapatkan informasi dari sistem kalau dua jam lagi dokter Karen tidak sadarkan diri di ruang perawatan suaminya namun dokter Alesandra sengaja melakukannya untuk tidak datang sebelum dokter Karen tidak sadarkan diri agar David lebih perduli terhadap istrinya.


Dokter Alesandra mulai memeriksa keadaan dokter Karen setelah beberapa lama dokter Alesandra sudah selesai melakukan tugasnya.


"Kenapa istriku pingsan dok?" tanya David dengan wajah masih kuatir.


"Istri Tuan Muda David, kelelahan dan di tambah melewatkan makan malam karena itulah istri Tuan Muda David tidak sadarkan diri." jawab dokter Alesandra.


"Maaf Tuan Muda David, istri Tuan Muda David akan dipindahkan ke ranjang lain sekalian akan kami infus." sambung dokter Alesandra.


"Silahkan dan satukan di ranjang ku." pinta David.


Hal itu dikarenakan dirinya sangat kuatir dengan keadaan istrinya terlebih ranjang yang ditempati David sangat besar bisa memuat dua atau tiga orang.


Rumah sakit tersebut merupakan miliknya karena itulah ruang perawatan khusus David sangat berbeda dari ruang perawatan lainnya. Ruangan khusus milik David mirip kamarnya yang di mansion sangat luas dan komplit seperti kulkas, satu set sofa, ranjang khusus yang menunggu pasien dan televisi.


Dokter Karen sebenarnya ingin tidur di ranjang khusus yang menunggu pasien namun dirinya tidak tega jika David membutuhkan sesuatu dengan cepat.


"Baik Tuan Muda David." jawab dokter Alesandra sambil mulai memasang infus.


"Maaf Tuan Muda David, silahkan berbaring di samping istri tuan. Saya akan memasang infus milik tuan yang terlepas." pinta perawat tersebut.


David hanya diam dan langsung berbaring di samping ranjang istrinya tapi matanya tidak pernah lepas memandang wajah istrinya yang lelah dan tampak pucat. Setelah selesai dokter Alesandra dan perawat itu pergi meninggalkan mereka berdua.


Tidak berapa lama satu perawat masuk ke dalam ruang perawatan sambil membawa alat suntikan dan infus untuk dipasangkan ke pergelangan tangan dokter Karen. Setelah melakukan tugasnya perawat itu pun pergi meninggalkan mereka berdua di ruang perawatan.


"Apa yang terjadi dengan diriku? Di satu sisi Aku sudah mulai merasa nyaman denganmu, kamu membuat jantungku berdebar jika kita berdekatan tapi di sisi lain Aku sangat membencimu karena ke dua orang tua mu telah membunuh ke dua orang tua ku." ucap David sambil memandang ke arah dokter Karen.


David berbaring miring sambil memandang wajah cantik istrinya. Tanpa sadar dokter Karen pindah posisi dan memeluk suami nya seperti memeluk bantal guling membuat David terkejut.


Kepala dokter Karen yang memakai bantal kini berada di dada bidang David sebagai pengganti bantal kepala Karen.


David hanya diam sambil memejamkan matanya karena dirinya sangat mengantuk dan tidak berapa lama Davidpun tertidur dengan pulas. Terlebih pelukan dokter Karen membuat David tidak bermimpi buruk seperti malam - malam sebelum nya.


xxxxx


Di tempat yang berbeda seorang gadis cantik menerima telepon dari orang kepercayaan orang tuanya.


("Apa daddy meninggal?" tanya seorang gadis cantik tersebut).


"Benar nona Tuan di siksa dan di bunuh oleh Tuan Muda David." Jawab seorang pria dari sebrang)..


("Baik Aku akan pulang secepatnya, tunggu Aku dulu baru di kubur." perintah gadis itu dengan nada penuh amarah terhadap David).


("Baik nona, saya tunggu." ucap pria tersebut dengan patuh).


tut tut tut tut


Tanpa menjawab gadis tersebut mematikan sambungan komunikasi secara sepihak.


"Tuan Muda David, tunggu pembalasan dendamku." Ucap gadis cantik tersebut sambil me x re x mas ponselnya dengan kuat menyalurkan kemarahan dan dendam terhadap David.