
"Carlo." panggil David dengan nada dingin.
Carlo yang merasa namanya di panggil langsung mendekati David kemudian menundukkan kepalanya sebentar sebagai tanda hormat.
"Iya tuan." Jawab Carlo.
"Berikan wanita ini obat perangsang dosis yang sangat tinggi kemudian lakukanlah secara beramai - ramai!" perintah David dengan nada dingin.
"Baik Tuan." jawab Carlo dengan mata berbinar karena dirinya dari tadi sudah sangat terangs**g melihat tubuh mulus Stefanie.
"Aku mohon padamu jangan lakukan itu padaku." pinta Stefanie sambil mengeluarkan air mata agar David luluh.
"Kamu pikir Aku akan luluh hah!! Kamu tahu Aku berjuang mati - matian untuk menghilangkan efek obat itu dan itu sangat menyiksaku." ucap David sambil mencengkram leher Stefanie dengan kencang
Stefanie tidak bisa bernafas akibat cekikikan David membuat wajah Stefanie memerah karena kurangnya pasokan oksigen dan tidak lama David melepaskan tangannya.
"Uhuk uhuk uhuk uhuk ..."
Stefanie terbatuk - batuk kemudian menghirup nafas dan mengeluarkan dengan cepat begitu terus secara berulang - ulang dan tidak berapa lama datang Carlo.
Carlo membawa suntikan kemudian berjalan mendekati Stefanie dengan wajah mesumnya. Carlo memberikan suntikan ke lengan Stefanie membuat Stefanie berontak tapi karena diikat membuat usaha Stefanie menjadi sia - sia malah membuat pergelangan ke dua tangan dan kedua kakinya memerah.
"Panggilkan semua anak buahku datang ke sini dan lakukan secara bergiliran." ucap David tanpa mempunyai rasa iba sedikitpun terhadap Stefanie yang wajahnya memelas.
"Baik Tuan." jawab Carlo sambil berjalan ke arah teman - temannya yang sedang berjaga.
"Tuan David, Aku mohon jangan lakukan itu padaku. Hiks... hiks... Aku janji untuk pergi jauh dari kehidupanmu hiks... hiks... Maafkan Aku hikss... hikss.." ucap Stefanie sambil menangis dan memohon pengampunan.
"Apa yang kamu lakukan padaku maka kamu harus mendapatkannya." ucap David yang tidak memperdulikan permohonan maaf maupun tangisan Stefanie.
Tidak berapa Carlo datang bersama - sama dengan teman - temannya dan berkumpul di gudang tersebut.
"Kalian berjumlah 10 orang termasuk Carlo, apakah kalian semua menginginkan wanita ini untuk partner se*s kalian?" tanya David tanpa punya rasa iba sedikitpun.
"Kami mau Tuan." jawab mereka dengan serempak termasuk Carlo sambil menatap nanar melihat tubuh mulus Stefanie yang hanya menggunakan lingerie tanpa dalaman.
"Bagus lepaskan ikatannya dan karena Carlo sebagai ketua kalian maka Carlo yang melakukan pertama kali setelah itu baru selanjutnya secara bergiliran." ucap David dengan nada santai.
"Baik Tuan." jawab Carlo tersenyum bahagia karena dialah pria pertama yang melakukannya.
Carlo membuka seluruh pakaiannya hingga polos tanpa sehelai benangpun begitupun yang lainnya.
"Lepaskan ikatannya Aku ingin bermain sambil berdiri kalian berdua pegang tangannya dan terserah kalian memegang gunung kembar, atau menyusu seperti bayi atau apapun terserah kalian." ucap Carlo.
"Baik tuan." jawab ke anak buahnya dengan serempak.
Ke dua anak buahnya melepaskan ke dua ikatan tangannya begitu pula dengan kedua kakinya.
"Tuan David aku mohon jangan lakukan itu padaku." mohon Stefanie dengan wajah sangat ketakutan.
Hal itu dikarenakan baru kali ini Stefanie melihat pria tanpa sehelai benangpun terlebih sampai 10 orang yang tidak pernah dibayangkan oleh Stefanie. David hanya menatapnya dengan tatapan datar dan tidak memperdulikan tangisan Stefanie yang menyayatkan hati.
Carlo menarik paksa lingerie milik Stefanie hingga tubuh polosnya terlihat sangat jelas membuat ke para pria menatapnya dengan tatapan lapar.
"Akh... sakit..." teriak Stefanie ketika Carlo melakukan penyatuan tanpa pemanasan terlebih dulu.
Carlo merasakan tombak saktinya terasa seperti terjepit karena Carlo pria pertama yang mengambil mahkota berharganya membuat mata Carlo merem melek merasakan kenikmatan. Carlo menggoyangkan pinggulnya dengan kasar dan cepat sedangkan ke dua anak buahnya melakukan penyatuan di belakang Stefanie membuat Stefanie berteriak merasakan sakit dan perih bagian depan dan belakangnya dan pria lainnya hanya bisa memainkan ke dua gunung kembar milik Stefanie.
Setelah lahar milik Carlo keluar barulah bergantian anak buahnya begitu seterusnya hingga Stefanie tidak sadarkan diri karena menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya.
Ke sepuluh pria itu melakukan secara bergiliran tanpa menunggu dan tidak memperdulikan jika Stefanie tidak sadarkan diri. Setelah ke sepuluh pria itu merasa puas barulah satu persatu memakai pakaiannya kembali dan berjaga - jaga di luar.
Kini tinggallah David, Michael dan Carlo menatap Stefanie yang masih tidak sadarkan diri sejak tadi.
"Baik tuan." jawab Carlo sambil meninggalkan mereka.
"Tuan kenapa tidak mencoba yang pertama? Kan masih ori." ucap Michael dengan wajah bingung sedangkan Michael yang melihat kejadian tersebut bersikap biasa saja dan tidak ada keinginan untuk melakukannya.
"Tidak tertarik, kamu mau Michael?" tanya David sambil menaikkan salah satu alisnya.
"Sama seperti Tuan, Saya sama sekali tidak tertarik untuk melakukannya." jawab Michael.
"Apakah kamu normal Michael?" tanya David sambil menaikkan salah satu alis matanya.
"Tentu saja Saya normal Tuan tapi saat ini Saya belum tertarik." jawab Michael.
"Oh iya Tuan, apakah semalam tuan dan Nyonya Karen melakukannya?" tanya Michael mengalihkan pembicaraan.
"Tentu saja dan Aku baru pertama kalinya melakukannya begitu pula dengan istriku." jawab David sambil tersenyum mengingat kegiatan panasnya pada malam hari.
"Bagaimana rasanya Tuan?" tanya Michael penasaran.
"Rasanya sangat enak dan ingin melakukan lagi dan lagi. Aish ... Membayangkan kami melakukan itu malah membuat adik kecilku menjadi tegang." ucap David sambil memijat keningnya yang tidak pusing.
"Apakah Tuan akan melakukannya lagi dengan Nyonya Karen?" tanya Michael kepo.
"Tentu saja, Karen istriku jadi sudah sewajarnya suami istri melakukan itu." Jawab David yang tidak mengetahui kalau istrinya sudah pergi meninggalkan dirinya.
Carlo datang sambil membawa ember berisi air dingin kemudian menyiram tubuh Stefanie membuat Stefanie memaksakan matanya untuk terbuka karena tubuhnya terasa sangat dingin.
Hal itu dikarenakan tubuh Stefanie polos tanpa sehelai benangpun, Stefanie merasakan sakit dan perih yang luar biasa secara bersamaan. Stefanie hanya bisa menangis menyesali perbuatannya di tambah dirinya merasa kotor dan ingin rasanya mati saja. Dirinya sangat menyesali karena tidak mendengarkan ucapan dokter Alesandra.
"Michael kamu sebelah kiri dan Aku sebelah kanan." ucap David sambil mengambil pisau lipatnya di saku belakangnya.
"Baik tuan." jawab Michael sambil mengambil pisau lipatnya di saku belakangnya.
David dan Michael selalu membawa pisau lipatnya di saku belakangnya. David dan Michael melukai pipi Stefanie membuat Stefanie berteriak kesakitan. Sayatan demi sayatan di kulit Stefanie membuatnya selalu berteriak kesakitan dan darah segar keluar dari ke dua pipi Stefanie.
"Michael kamu pegang mulutnya dan Aku akan tarik lidahnya kemudian aku akan memotongnya." pinta David.
"Baik Tuan." ucap Michael dengan nada santai.
Darah memenuhi lantai itu hingga Stefanie hanya bisa menangis dalam hati tanpa bisa melakukan apa - apa karena seluruh tubuhnya terasa sakit dan sulit digerakkan. Stefanie hanya bisa pasrah dan menangis hingga akhirnya Stefanie menghembuskan nafas terakhirnya.
"Sudah mati, Carlo buang mayatnya di kandang buaya!" perintah David.
"Baik Tuan." jawab Carlo sambil menggendong mayat Stefanie untuk diberikan di kandang buaya.
"Kita pulang sekarang." ucap David.
"Baik Tuan." jawab Michael.
David dan Michael membersihkan pisau lipatnya kemudian berlanjut membersihkan tangannya dengan menggunakan sapu tangannya yang selalu di bawa kemudian sapu tangannya di lempar ke jasad Stefanie.
Ke dua pria tampan tersebut pergi meninggalkan tempat tersebut tanpa mengetahui kalau dokter Alesandra dan sistem melihat kejadian tersebut membuat dokter Alesandra menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Ke dua pria itu sangat menyeramkan." Ucap dokter Alesandra.
"Betul sekali."
"Sangat sulit menundukkan Kak Michael padahal Aku sudah masakin dan mengirim ke kantor serta menolongnya tapi usahaku sia - sia bahkan Karen berusaha memberikan yang terbaik untuk suaminya juga sia - sia hingga akhirnya pergi meninggalkan Kak David." Ucap dokter Alesandra sambil memijat keningnya yang tidak pusing.
"Nona pasti bisa karena mereka bertiga pada akhirnya akan tunduk dengan pasangan yang sudah terpilih."
"Semoga saja." Ucap dokter Alesandra kemudian menghilang dari tempat tersebut begitu pula dengan sistem tersebut.