
("Tujuh anak buah Tuan langsung mati di tempat." Ucap anak buahnya).
("Lalu bagaimana yang satunya lagi?" tanya pria paruh baya itu).
("Di bawa sama anak buah Tuan David." Jawab anak buahnya).
("Sebelum Dia melapor siapa yang menyuruhnya bunuh Dia karena Aku tahu pasti Tuan David akan menyiksanya." perintah pria paruh baya yang tidak ingin dirinya di siksa sampai akhirnya mati mengenaskan seperti yang menimpa putri semata wayangnya).
("Baik Tuan." jawab anak buahnya dengan patuh).
("Oh iya Tuan, istri Tuan David sepertinya sedang hamil karena di sela - sela ke dua pahanya keluar darah segar dan Tuan David menggendongnya dan dibawa ke rumah sakit." lapor anak buahnya).
("Bagus, selidiki terus jika ada kesempatan bunuh istrinya agar tuan David bisa merasakan hatinya terluka karena kehilangan istrinya sama seperti Aku yang kehilangan putri kesayanganku." ucap pria paruh dengan tatapan penuh kebencian dan dendam).
("Begitu pula dengan kekasihnya Tuan Michael." Sambung pria tersebut).
("Baik Tuan." jawab anak buahnya dengan patuh).
tut tut tut tut tut tut
Tanpa menjawab pria paruh baya tersebut memutuskan sambungan komunikasi secara sepihak kemudian melemparkan ponselnya di ranjang sambil mengusap wajahnya yang kasar.
'Aku ingin Istrinya Tuan David dan kekasihnya Tuan Michael mati agar merasakan bagaimana kehilangan orang yang disayanginya.' Ucap pria paruh baya tersebut dalam hati.
xxxxxxx
Di tempat yang berbeda lebih tepatnya di dalam ruangan oprasi di mana David dan Michael menunggu dan menatap ke arah pintu sambil sesekali menghembuskan nafasnya dengan berat.
Setelah mendapat persetujuan laporan suaminya dan menandatangani surat pernyataan dokter tersebut masuk ke dalam ruangan oprasi.
"Bagaimana Dok?" tanya dokter yang ada di dalam ruangan oprasi.
"Suaminya setuju jika kandungannya digugurkan asalkan istrinya diselamatkan." Jawab dokter tersebut.
"Sebentar Aku akan bertanya dengan temanku dulu karena temanku sangat dekat dengan dokter Karen." ucap dokter cantik tersebut.
"Dokter Calista. Kondisi Nyonya David sangat kritis dan suaminya sudah setuju jadi tidak perlu menghubungi dokter Sandra yang bertugas di pedalaman." Ucap temannya yang sama - sama dokter.
"Aku tahu tapi tidak ada salahnya aku mencobanya karena siapa tahu dokter Karen mengatakan sesuatu ke dokter Sandra." ucap dokter Calista.
Dokter Calista mengambil ponselnya untuk menghubungi dokter Sandra namun ponselnya tidak aktif namun Calista tidak menyerah hingga yang ke empat kalinya barulah Calista menyerah dan menyimpan kembali ponselnya di saku jas dokternya.
"Kita selamatkan keduanya terlebih dahulu." ucap dokter Calista sebagai penanggung jawab rumah sakit.
"Baik Dok." jawab temannya dengan serempak.
xxxxxxx
David dan Michael masih menunggu dengan sabar hingga dua jam lima belas menit kemudian pintu ruang oprasi terbuka.
Seorang dokter cantik keluar dan berdiri sambil menatap ke arah David serta Michael yang sedang berjalan ke arahnya.
"Nyonya David dan kandungannya selamat. Saya hanya bisa memohon tolong agar Nyonya David di jaga dan jangan sampai keguguran." pinta dokter tersebut.
"Terima kasih dokter." Jawab David sambil tersenyum bahagia ketika mendengar anaknya tidak jadi digugurkan.
"Sama - sama Tuan. Sudah menjadi tugas kami menolong pasien. Oh ya Sebentar lagi nyonya akan dipindahkan ke ruang perawatan." ucap dokter tersebut.
"Baik, pindahkan ke ruang perawatan VVIP." Ucap David.
"Baik Tuan." Jawab dokter cantik tersebut.
"Maaf Tuan, Saya ingin melihat keadaan Alesandra di ruang ICU." Ucap Michael.
Sepeninggal Michael pintu ruang oprasi kembali terbuka dan David melihat brankar milik dokter Karen di dorong oleh dua orang perawat dan diikuti oleh seorang dokter cantik dan seksi menuju ke ruang perawatan diikuti oleh David.
"Dokter Calista maaf, ada pasien luka tembak di ruangan UGD." Ucap seorang perawat yang tiba - tiba datang dengan wajah ketakutan.
"Bukankah ada dokter jaga?" Tanya dokter Calista dengan wajah bingung.
"Memang benar tapi orang itu tidak mau diobati dan meminta langsung pulang." Jawab perawat tersebut.
"Baiklah Aku akan ke sana." Ucap dokter tersebut tanpa banyak bicara.
"Maaf Tuan David, saya ingin mengecek pasien yang lainnya. Nanti kalau ada apa - apa silahkan tekan tombol darurat." Ucap dokter Calista sambil tersenyum.
David hanya menganggukkan kepalanya tanpa menatap ke arah dokter Calista kemudian dokter Calista dan perawat tersebut pergi ke ruangan UGD sedangkan David berjalan ke ruang perawatan.
Secantik atau seseksi seorang gadis namun David, Michael dan Federick tidak tertarik karena di hati mereka sudah ada orang yang dicintainya dengan sangat tulus dan tidak ingin menyakiti perasaannya.
Ruangan ICU
Kini Michael berada di ruangan ICU di mana dokter Alesandra berbaring di ranjang dan matanya yang masih setia terpejam. Tubuhnya di balut perban membuat Michael merasa bersalah karena telah menyia - nyiakan orang sebaik dokter Alesandra.
"Aku mohon berikan Aku kesempatan ke dua untuk memperbaiki kesalahanku." Mohon Michael penuh harap sambil menggenggam tangan dokter Alesandra.
"Aku berjanji untuk merubah sifatku karena Aku baru menyadari kalau Akupun menyukaimu dan tidak bisa pisah denganmu." Sambung Michael dengan nada lirih.
Tiba - tiba ponsel milik Michael bergetar membuat Michael berdiri kemudian mengambil ponselnya yang di simpannya di saku jasnya.
Michael melihat siapa yang menghubungi dirinya setelah mengetahui nya Michael berjalan agak menjauh dari ranjang dokter Alesandra. Setelah dekat pintu masuk barulah Michael menggeser tombol berwarna hijau dan ponselnya ditempelkan di telinga Michael.
Michael hanya mendengarkan anak buahnya melaporkan apa yang terjadi setelah selesai Michael memutuskan sambungan komunikasi secara sepihak.
Michael menyimpan kembali ponselnya ke saku jasnya kemudian berjalan ke arah ranjang dokter Alesandra. Michael mencium kening dokter Alesandra dengan singkat kemudian menatap ke arah wajah pucat dokter Alesandra namun masih terlihat cantik.
"Aku pergi sebentar dan nanti Aku akan kembali lagi." Ucap Michael.
Selesai mengatakan hal itu Michael berjalan meninggalkan dokter Alesandra sendirian di ruang ICU. Sepeninggal Michael dokter Alesandra membuka matanya sambil tersenyum.
"Nona sangat pintar bersandiwara."
"Iya dong." Jawab dokter Alesandra.
"Kalau tidak melakukan seperti ini yang ada Kak Michael masih dingin terhadap diriku dan tidak mengakui perasaannya." Sambung dokter Alesandra.
"Nona memang benar sama seperti yang terjadi dengan Nona Karen."
"Tepat sekali dan sekarang Kak David tidak lagi egois dan berusaha untuk memperbaiki kesalahannya dengan melupakan dendamnya." Ucap dokter Alesandra.
"Nona, sebentar lagi musuh datang ke ruangan ini."
"Apakah orang itu suruhan pria paruh baya itu?" Tanya dokter Alesandra.
"Benar Nona, pria itu menyamar menjadi seorang dokter dan seorang wanita menyamar menjadi seorang perawat."
"Pasti mereka ingin membunuhku." Tebak dokter Alesandra.
"Tepat sekali, apa yang akan Nona lakukan?"
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx