
"Aku akan membantu Pangeran Ke 9 jika Pangeran Ke 9 membutuhkan bantuan atau ada musuh yang tiba - tiba datang menyerang Pangeran Ke 9." Jawab Alesandra.
Sistem tersebut hanya menganggukkan kepalanya kemudian membuat Alesandra tidak terlihat dan tidak berapa lama waktu berjalan seperti biasanya.
"Hallo Selir Kemonceng." Panggil Pangeran Ke 9 dengan nada dingin.
"Eughhhhh..."
Selir Kemonceng dan pria yang berada di sebelah memaksakan membuka matanya sambil melenguh. Namun mata mereka berdua langsung membulat sempurna melihat Pangeran Ke 9 menodongkan sebuah benda ke arah Selir Kemonceng. Mereka tidak tahu kalau benda itu adalah pistol karena di jaman Mereka belum ada pistol.
"Pangeran Ke 9, apa yang Pangeran Ke 9 lakukan? Benda apa itu?" Tanya Selir Kemonceng dengan wajah terkejut.
"Pangeran Ke 9, Maafkan hamba, hamba di suruh Selir Kemonceng untuk menemani tidur." ucap pria tersebut sambil turun dari ranjang dengan tubuh gemetar.
"Memang benar Aku meminta pria itu tidur bersamaku karena Kaisar selama ini selalu tidur dengan gadis dan wanita yang berbeda." Ucap Selir Kemonceng tanpa rasa sedikitpun.
"Pangeran Ke 9 dengar sendiri bukan? Kalau hamba diperintah oleh Selir Kemonceng." Ucap pria tersebut yang tidak ingin mati di tangan Pangeran Ke 9.
"Aku tidak perduli dengan apa yang kalian katakan atau lakukan karena saat ini Aku ingin membunuh Kalian berdua dengan menggunakan pistol ini." Jawab Pangeran Ke 9 sambil menarik pelatuknya.
"Pistol?" Tanya mereka bersamaan sambil mereka berdua saling menatap.
"Pangeran Ke 9, aku ini ibumu kenapa kamu ingin membunuh ibu kandungmu?" Tanya Selir Kemonceng dengan mata berkaca - kaca sambil melirik ke arah pria tersebut seakan memberikan kode.
Tanpa sepengetahuan Mereka berdua kalau Pangeran Ke 9 melihat mereka berdua hingga Pangeran Ke 9 melihat pria tersebut menganggukkan kepalanya. Pria tersebut berjalan dengan perlahan untuk mengambil pedang yang berada di meja.
Dor
"Akhhhhhhhhhhhhh..." Teriak pria tersebut.
Bruk
Pangeran Ke 9 menembak pria tersebut dan tepat mengenai dadanya dan tembus ke jantungnya membuat pria tersebut berteriak kesakitan kemudian ambruk. Pria itupun meninggal dunia dengan mata melotot membuat Selir Kemonceng sangat ketakutan karena ternyata benda yang di pegang oleh Pangeran Ke 9 ternyata sangat berbahaya.
Bruk
Selir Kemonceng langsung turun dari ranjang kemudian berlutut sambil mengeluarkan air mata buayanya karena dirinya masih ingin hidup.
"Pangeran Ke 9, Aku ini Ibumu. Apa salah Ibumu?" Tanya Selir Kemonceng sambil masih mengeluarkan mata buayanya.
"Kamu bukan Ibuku. Orangtuaku mati dibunuh oleh orang - orang suruhanmu dan kini terimalah kematianmu." Ucap Pangeran Ke 9 sambil menarik pelatuknya.
Dor
"Aku .... Akhhhh..." Teriak Selir Kemonceng.
Bruk
Selir Kemonceng tidak jadi melanjutkan kata - katanya karena Pangeran Ke 9 menembak ke arah kening Selir Kemonceng. Hal itu membuat Selir Kemonceng berteriak kesakitan dan langsung ambruk seketika dengan mata melotot.
"Alesandra." Panggil Pangeran Ke 9.
Hening
Hening
"Alesandra, Aku tahu kamu ada di sebelahku." Ucap Pangeran Ke 9.
"Hehehehe ... Bukankah Aku tidak terlihat?" Tanya Alesandra sambil tertawa sekaligus terkejut secara bersamaan karena Pangeran Ke 9 dapat melihatnya.
"Memang Kamu tidak terlihat tapi wangi parfummu tercium di hidungku karena itulah Aku tahu kamu ada di sini." Jawab Pangeran Ke 9 menjelaskan.
"Pantas saja. Oh ya Aku akan angkat Selir Kemonceng dan Pangeran Ke 9 angkat pria itu ke ranjang namun sebelumnya Aku akan mengambil peluru yang ada di kening Mereka lalu menutup lukanya agar tidak ada yang curiga." Ucap Alesandra dan perlahan Alesandra dapat terlihat oleh Pangeran Ke 9.
Alesandra menggerakan pergelangan tangannya kemudian dua peluru yang bersarang di kepala Selir Kemonceng dan pria tersebut keluar kemudian Alesandra menangkap dua selonsong peluru dengan menggunakan tangan kirinya.
Pergelangan tangan kanan Alesandra kembali digerakkan dan ajaib luka bekas tembakan dan darah yang keluar langsung tertutup seperti tidak terkena luka tembak.
Pangeran Ke 9 dan Alesandra mengangkat ke dua mayat tersebut kemudian diletakkan di ranjang setelah selesai Pangeran Ke 9 dan Alesandra menutup mata mereka agar tertutup kemudian Alesandra menyelimuti tubuh Mereka dengan selimut.
"Kalau seperti ini orang - orang tidak akan curiga kalau Pangeran Ke 9 sudah menembaknya." Ucap Alesandra.
"Betul katamu." Jawab Pangeran Ke 9.
"Target selanjutnya?" Tanya Alesandra.
"Orang tua Selir Kemonceng dan pasukan bayangan yang ada di sekitar orang tua selir kemonceng." Jawab Pangeran Ke 9.
"Lebih baik bagi dua agar cepat dan langsung menuju target selanjutnya yaitu Pangeran Ke 4." Ucap Alesandra.
"Kalau begitu Kamu pasukan bayangan dan Aku orang tua Selir Kemonceng." Ucap Pangeran Ke 9.
"Baik. Tapi ingat langsung tembak karena waktuku sangat terbatas begitu pula dengan pistol yang kita gunakan." Ucap Alesandra.
"Kenapa pistolnya ikut terbatas? Bisakah Aku gunakan ketika Kamu tiba - tiba berubah menjadi batu giok?" Tanya Pangeran Ke 9.
"Ketika Aku berubah jadi batu giok maka pistol yang Kita gunakan akan menghilang karena itulah Kita secepatnya menjalankan misi kita." Jawab Alesandra menjelaskan.
Pangeran Ke 9 hanya menganggukkan kepalanya kemudian Mereka saling berpegangan tangan dan Mereka langsung menghilang dari kamar milik Selir Kemonceng.
Dor
Dor
"Akhhhhhhhhhhhh!" teriak dua pria yang merupakan pasukan bayangan.
Bruk
Bruk
Ke dua pria pasukan bayangan langsung ambruk dan meninggal di tempat membuat ke enam temannya sangat terkejut kemudian masing - masing mengeluarkan senjatanya yang berupa pedang.
"Aku mendengar suara ledakan tapi tidak ada yang terbakar." ucap salah satu dari mereka sambil berjalan ke arah ke dua temannya yang tergeletak di lantai.
"Iya, tapi yang ada ke dua teman kita mati dengan mata melotot." sambung pria ke dua.
"Lihat keningnya berlubang." ucap pria ke tiga sambil menunjuk ke arah ke dua kening temannya yang sudah meninggal dunia.
"KELUAR!" Teriak ke enam pria tersebut secara bersamaan.
'Aneh kenapa suara ledakan yang terdengar sangat keras tidak membuat penjaga dan penghuni istana bangun?' tanya ke enam pria yang merupakan pasukan bayangan dalam hati dengan wajah sangat terkejut.
Dor
Dor
"Akhhhhhhhhhhhh!" teriak dua pria yang merupakan pasukan bayangan.
Bruk
Bruk
Ke dua pria pasukan bayangan langsung ambruk dan meninggal di tempat membuat ke empat temannya sangat terkejut.
"Lebih baik kita berpencar karena musuh kali ini sangat sulit dikalahkan." Ucap salah satu pria tersebut.
Baru saja selesai berbicara dan ingin berpencar tiba - tiba terdengar dua suara tembakan dan mengenai dua orang dari ke empat pasukan bayangan.
Dor
Dor
"Akhhhhhhhhhhhh!" teriak dua pria yang merupakan pasukan bayangan.
Bruk
Bruk
Ke dua pria pasukan bayangan langsung ambruk dan meninggal di tempat. Kini tinggal mereka berdua membuat mereka berdiri namun saling membelakangi agar tahu dari mana musuh Mereka berasal.
"Jadi orang jangan pengecut! KELUAR!" Teriak ke dua pria tersebut.
Dor
Dor
"Akhhhhhhhhhhhh!" teriak dua pria yang merupakan pasukan bayangan.
Bruk
Bruk
Ke dua pria pasukan bayangan langsung ambruk dan meninggal di tempat membuat Alesandra tersenyum devil. Alesandra mengarahkan tangannya ke arah delapan pasukan bayangan hitam dan delapan peluru tersebut langsung keluar dari kepala mereka.
Hap
Alesandra membuka tangan kanannya dan dengan sekali tangkap Alesandra berhasil menangkap delapan peluru tersebut. Setelah di tangkap Alesandra memutar pergelangan tangannya dan peluru tersebut langsung menghilang dari tangan Alesandra.
"Delapan mayat ini kalau tergeletak seperti ini bisa membuat orang curiga." Ucap Alesandra sambil kembali menggerakkan pergelangan tangan kanannya.
Tidak berapa lama ke delapan kening dari pasukan bayangan yang bolong akibat luka tembak kini kembali tertutup bersamaan dengan darah segar yang keluar yang tiba - tiba menghilang entah kemana.
Alesandra menatap sekeliling tanah lapangan yang dipenuhi dengan rumput hijau yang tidak jauh dari istana Pangeran ke 3. Hingga Alesandra melihat ada beberapa gundukan di tanah lapangan tersebut.
"Lebih baik Aku pendam mereka di tanah dan mayatnya di tumpuk. Sebenarnya kasihan tapi Mereka sudah terlalu sering membunuh dan tidak pernah bertobat jadi sudah sepantasnya mereka di kubur seperti itu." Ucap Alesandra.
Alesandra terbang ke arah lapangan tersebut kemudian menjentikkan jarinya dan ajaib tanah berumput tersebut terbuka lebar mirip lubang yang menganga lebar.
Alensandra mengangkat tangannya ke arah delapan mayat dari jarak yang lumayan jauh dan ajaib ke delapan mayat tersebut terbang dan masuk ke dalam lubang besar tersebut.
Alesandra kembali menjentikkan jarinya dan tanah berumput tersebut mulai bergerak dan menutup ke delapan mayat tersebut hingga tertutup dengan rapat.
"Kalau seperti ini tidak akan ada orang yang curiga." Ucap Alesandra sambil tersenyum devil.
"Sekarang Aku ke tempat Pangeran Ke 9." Ucap Alesandra sambil bersiap - siap untuk menghilang dengan bantuan sistem.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya seorang pria yang tampan rupawan.