After Darkness

After Darkness
Episode 96



"Kamu dari mana saja seharian, Rob?"


Langkah Robin terhenti saat ia mendengar suara Mamanya, ia pun menoleh dan mendapati Mamanya yang duduk di sofa, Robin tidak menyadari keberadaannya, ia juga mengira Mamanya sudah di kamar apalagi ini sudah jam 9 malam.


"Maaf, Ma. Tadi aku banyak pekerjaan," bohong Robin sembari mendekati sang Mama.


"Pekerjaan apa? Kata Joanna, kamu tidak ada di kantor seharian, kamu juga tidak punya urusan di kampus, jadwal kamu hari ini di cancel semuanya, terus? Pekerjaan apa yang kamu lakukan?" Pertanyaan beruntun itu membuat Robin menghela napas panjang.


"Ma, tadi aku ... ini urusan pribadi," jawab Robin akhirnya yang membuat Bu Anita langsung mengernyit bingung, namun kemudian ia mencoba mengerti Robin yang sudah dewasa.


"Baiklah, maaf ya, tadi Mama cuma khawatir sama kamu," ucap Bu Anita akhirnya yang justru membuat Robin merasa bersalah.


"Tidak apa-apa, Ma. Maaf karena aku sudah membuat Mama khawatir," lirih Robin dan Bu Anita hanya tersenyum sambil mengangguk mengerti.


.........


Di apartementnya, Elsa merasa kesepian dan juga merasa sedih. Membayangkan ia akan bersembunyi di apartement itu selama 9 bulan. Tidak bertemu dengan siapapun, termasuk keluarganya.


Elsa kembali ingin menangis, namun ia sudah lelah menangisi hidupnya. Sehingga kini ia hanya bisa tersenyum getir sembari mengelus perutnya yang masih rata.


"Bapakmu itu aneh, ada apa dengan dia? Kenapa dia begitu menginginkanmu?" Monolognya. "Mungkin dia merasa bersalah, dan memang seharusnya. Aku benar-benar membenci ayahmu, nenekmu, mereka membuat hidupku seperti di neraka. Aku yakin, kamu pun akan membenci keluarga depresi itu nanti, meraka semua gila!"


Elsa tertawa hambar, ia sudah seperti orang gila juga sekarang. Dan walaupun ia merasa sudah lelah menangis, namun air mata masih menyelinap keluar dari sudut matanya tanpa permisi. Elsa segera menghapusnya dengan kasar.


"Setelah kamu lahir, aku akan pergi sejauh mungkin dari kalian semua!"


.........


Keesokan paginya, Robin berangkat pagi-pagi sekali dari rumah, karena hari ini ia akan membawa Elsa ke Dokter kandungan untuk memeriksa kandungan Elsa.


"Tumben pagi sekali berangkatnya, Den Robin. Tidak sarapan dulu?" Tanya Bi Sum.


"Iya, Bi. Aku buru-buru, kalau nanti Mama tanyain, bilang saja aku sudah pergi," ujar Robin dan Bi Sum hanya mengangguk patuh.


Sebelum pergi ke apartment Elsa, Robin membeli roti terlebih dahulu dan mengingat Elsa hanya mau makan roti, Robin membeli lebih banyak lagi.


Sesampainya di apartement Elsa, Robin langsung mematikan lampu yang masih menyala itu, menandakan Elsa pasti masih tidur.


Robin menyusun rotinya di meja makan, kemudian ia naik ke lantai dua untuk membangunkan Elsa.


"Elsa...!"


"Sudah bangun belum?" Robin mengetuk pintu kamar Elsa beberapa kali, namun masih tak ada jawaban.


"Elsa!"


Elsa yang masih sangat mengantuk itu mengerang kesal saat mendengar suara Robin yang mengganggunya. Ia menutup telinganya dengan bantal, namun Robin terus mengetuk pintu dan memanggilnya.


"Isshhh, dasar anak itu!" Geram Elsa kemudian ia melempar bantal dengan kesal, ia pun segera merangkak turun dari ranjang sambil menguap.


Elsa membuka pintu kamarnya dan ia langsung memelototi Robin. "Apa?" ketusnya.


"Astaga, Elsa. Ini sudah jam 7, kamu masih tidur?" Tanya Robin tak percaya.


"Aku ngantuk, tadi malam tidak bisa tidur," jawab Elsa dengan jujur. Elsa tidak bisa tidur karena terus meratapi nasibnya.


"Oh ya? Kenapa? Apa kamu sakit? Atau butuh sesuatu?" Tanya Robin dengan raut wajah yang tampak cemas.


"Ada apa pagi-pagi begini kamu kesini?" Tanya Elsa mengalihkan topik pembicaraan.


"Aku mau membawa kamu ke Dokter kandungan," jawab Robin.


"Untuk apa? Minggu lalu kita sudah ke Dokter kandungan."


"Calon bayimu!" Sanggah Elsa.


"Terserah! Cepat mandi, aku sudah beli roti untuk sarapanmu," tukas Robin kemudian ia meninggalkan Elsa.


"Tumben kamu baik, kesambet apa?" Teriak Elsa yang membuat Robin terkekeh.


"Kesambet calon bayiku!" Robin balas berteriak.


Tbc...


......Iklan......


Hai, Readers tercinta Sky, masih suka cerita bocah tengil yang pasti beda dari cerita lain ini?


Pasti beda dong, jika biasanya cewek yang ngemis tanggung jawab sama cowok, eh, ini kebalikannya.


Btw, sambil nunggu bocah tengil up lagi, SkySal mau merekomendasikan cerita dari Kak Erma Roviko.


Intip cuplikannya dulu.


Karya : erma _roviko


Si Cupu Untuk Tuan Samuel


Samuel menatap tajam gadis berkacamata tebal, mengepang rambut dan gigi yang di pagar membuatnya terasa geli. "Kenapa kau menatapku begitu?" tanya Eve sinis.


"Karena penampilanmu yang terlihat sangat jelek," ejek Samuel sembari menyeringai.


"Kau boleh mengejekku sekarang, tunggu saja tanggal mainnya!" seloroh Eve yang sangat kesal, ingin rasanya mencakar-cakar wajah tampan dari majikan dadakannya.


"Wah, sepertinya kau tersinggung. Tapi, itu bagus! Aku ingin lihat, bagaimana Boneka santet memperjuangkan dan membuktikan."


"Lihat saja nanti dan berhentilah memanggilku dengan boneka santet! Nama ku Eve, E-V-E." Ucapnya seraya mengeja nama.


"Aku lebih nyaman memanggilmu boneka santet," ujar Samuel acuh tak acuh.


"Sangat menyebalkan!"


"Karena kemarin kau kabur dan juga menendang tongkat sakti ku, maka kau akan dihukum," ucap Samuel dengan tajam.


"Ck, siapa kau yang berani mengaturku?"


Samuel berjalan menghampiri gadis kecil itu, menyentil kening Eve membuat empunya meringis. "Auh…kau kasar sekali," cetus Eve yang mengusap keningnya yang terasa panas.


"Itu hukuman karena kau membuat aku kesal!" sahut Samuel dengan santai.


"Apa setiap kali kau kesal akan menyentil keningku?" cetus Eve yang tak terima dengan perlakuan pria itu.


"Ya, bisa saja dikatakan begitu. Karena kemarin kau pergi terburu-buru, hari ini kau harus bekerja lembur." Ucap Samuel yang membuat Eve sangat kesal.


"Mana bisa begitu!" protesnya disertai tatapan tajam.


"Bisa, karena aku adalah majikanmu. Apa kau mengerti?" tekan Samuel yang memarahi gadis itu.


Eve menghela nafas dengan berat, dengan terpaksa dia mengangguk setuju membuat sang majikan tersenyum puas. "Baiklah."


Samuel berlalu pergi menuju kantor, sedangkan Eve mulai mengerjakan tugasnya sebagai pelayan. "Pria itu benar-benar membuat kesabaranku habis, pertama kak Niko, kedua Liam, dan sekarang Samuel. Lengkap sudah penderitaanku, ingin rasanya aku membuat ketiga pria menyebalkan itu menghilang dari muka bumi ini." Monolognya seraya bersih-bersih.


Penasaran?