After Darkness

After Darkness
Episode 141



Berdamai dengan keadaan memang sangat sulit namun juga sangat penting, selain menghapus beban dalam hidup, tentu itu akan menjadi obat paling mujarab untuk menenangkan hati.


Itu juga yang di rasakan Robin dan Elsa sekarang, setelah kejadian di hotel beberapa waktu yang lalu itu, keduanya lebih dekat dan lebih terbuka. Tak hanya itu, keduanya juga bekerja sama menjaga kandungan Elsa. Bahkan, sering sekali Elsa tidur satu ranjang dengan Robin namun tentu apa yang terjadi di kamar hotel saat itu tidak terjadi lagi.


Elsa hanya ingin di peluk dan mencium aroma Robin, dan ia selalu beralasan bahwa itu bawaan bayinya. Awalnya Robin merasa keberatan, bukan karena apa, tapi karena semalaman ia harus mati-matian menahan pusat dirinya yang terus berdenyut, apalagi Elsa yang tak bisa diam, terus bergerak dan menyenggolnya membuat Robin merasa nyeri, ngilu, dan hanya bisa menggeram tertahan.


Namun karena hal itu sering terjadi, sekarang Robin mulai terbiasa. Kini keduanya tampak seperti teman walaupun terkadang masih ada sedikit perdebatan tentang hal-hal sepele, namun perdebatan itu pasti akan berakhir dengan ucapan maaf dari Robin. Membuat hati Elsa begitu tersentuh, segala kebaikan, kesabaran dan kelembutan yang Robin berikan tak pernah ia dapatkan dari pria manapun, bahkan dari Arfan sekalipun.


Dan karena kedekatan Elsa dan Robin yang semakin hari semakin lengket, Robin mulai jarang menginap di rumahnya namun hampir setiap hari ia akan mengunjungi mamanya dan memeriksa keadaannya


Dan saat ini, keduanya duduk santai di sofa, lebih tepatnya, Robin duduk bersandar di sofa sementara Elsa meletakkan kepalanya di paha Robin. Keduanya asyik menikmati film kartun yang membuat mereka tertawa terus menerus, di temani pop corn dan segelas jus segar.


"Haha, astaga.... Kenapa bisa begitu?" Elsa kembali tertawa saat ada yang lucu di film kartun itu, bahkan wajahnya sampai memerah dan ia sampai mengeluarkan air mata.


Robin menghapus air mata Elsa sambil terkekeh. "Aku benar-benar tidak menyangka kamu suka kartun, aku fikir Elnaz yang suka kartun," kata Robin.


"Aku dan Elnaz sama-sama suka kartun, tapi Elnaz jauh lebih tergila-gila pada kartun, sampai seprei, tas, baju, dan banyak barang dia yang lalu yang bergambar kartun," kata Elsa panjang lebar.


"Bagaiamana hubungan kamu dengan Elnaz dan suaminya?" Tanya Robin kemudian.


"Kami baik-baik saja," jawab Elsa dengan senyum samar, hubungannya dan Elnaz baik-baik saja tapi tidak dengan Arfan karena Elsa masih tidak punya keberanian untuk menemui Arfan, dan pasti Arfan juga melarang Elnaz menemui Elsa, karena itulah meskipun mereka sama-sama di Jakarta, namun tidak ada yang saling menemui.


"Seiring berjalannya waktu, semuanya akan membaik dengan sendirinya." Robin berkata dengan bgitu lembut, seolah mengerti apa yang ada dalam fikiran dan hati Elsa.


"Besok waktunya cek kehamilanmu, ingat, kan?" Tanya Robin seperti bertanya pada anak-anak.


"Ingat," jawab Elsa sambil terkekeh.


"Good," ujar Robin sembari menarik hidung Elsa dengan gemas, membuat Elsa merasa kesal dan ia cemberut.


"Sakit, tahu!" Robin hanya terkekeh membuat Elsa semakin tampak kesal.


Namun tiba-tiba tawa Robin terhenti, pandangannya yang tadi berbinar kini berubah sendu, ia menatap Elsa yang masih fokus pada layar televisi.


Ingatan Robin terbayang pada apa yang ia dan Elsa lewati belakangan ini, hubungan keduanya begitu dekat, terasa begitu nyaman, dan hal itu berhasil memupuk cinta Robin lebih kuat dan lebih besar.


"Ada apa?" Tanya Elsa yang melihat raut wajah Elsa berubah drastis.


"Els, menurutmu ... hubungan kita, aku...." Robin tidak tahu harus mengungkapkan perasaan dan keinginannya seperti apa, apalagi mengingat ia pernah di tolak oleh Elsa.


"Kenapa dengan hubungan kita?" Tanya Elsa dengan gugup, padahal ia sendiri juga mulai memikirkan hubungannya dengan Robin.


"Aku rasa ... kita...."


"Kita jalani saja dulu apa adanya," sela Elsa sambil tersenyum, ia bergerak di pangkuan Robin, mencari posisi paling nyaman di pangkuan pria yang bukan siapa-siapanya itu, hanya ayah dari bayinya. "Apa yang akan terjadi nanti, biarlah terjadi."