
"Cuma segitu kekuatan mu, Els?" desis Robin "Kamu mau aku buat teriak sampai terdengar ke kampung halaman mu? Berteriak nikmat, tentunya" mendengar ucapan Robin yang sangat kurang ajar itu tentu membuat Elsa semakin marah, ia kembali mengangkat tangannya untuk menampar Robin namun kali ini dengan cepat Robin menangkis tangan Elsa. Tak hanya itu, Robin mendorong tubuh Elsa hingga punggung Elsa menabrak dinding, Robin mengunci kedua tangan Elsa di atas kepala Elsa kemudian ia menyerang bibir Elsa dengan brutal. Membuat kedua mata Elsa langsung melotot sempurna karena kejadian itu begitu cepat.
"Emmph..." Elsa berusaha menghindari bibir Robin yang kini seolah ingin memakan bibirnya, namun Robin justru menekan tubuh Elsa dengan tubuhnya membuat Elsa tak berkuti. Ia hanya bisa menggelengkan kepalanya ke kanan ke kiri, seolah ingin melarikan diri dari bibir Robin namun usahanya sungguh sia sia. Apalagi saat Robin dengan sengaja menekan dada Elsa dengan dadanya, tak hanya itu, satu tangan Robin kini mulai bergerlya nakal di pinggul Elsa, menekan dan meremasnya dengan gemas. Robin bukan hanya mencium bibir Elsa, namun ia menghisapnya dengan kasar, menggigitnya dengan gemas.
Elsa merasa begitu rendah, ia merasa di lecehkan. Air mata Elsa bahkan meluncur bebas dengan sendirinya meskipun hati Elsa berteriak meminta Elsa tak meneteskan air mata.
Sementara Robin, entah kenapa ia merasakan suatu kenikmatan saat bibirnya menyentuh bibir Elsa. Untuk pertama kalinya, Robin mencicipi bibir seorang wanita dan itu membuat darah Robin berdesir. Seluruh tubuhnya bahkan seperti di sengat listrik, otaknya seperti blank dan yang ia inginkan saat ini hanyalah terus merasakan lembutnya bibir Elsa. Tangan Robin dengan sendirinya meluncur ke pinggang Elsa, meremas dan menekannya. Dadanya berdebar hebat saat menyatu dengan dada Elsa yang begitu lembut.
Namun Robin langsung menghentikan aksinya saat ia merasakan air mata Elsa di pipi nya. Robin langsung melangkah dengan nafas yang memburu, tatapannya gelap sarat akan gairah yang tertahan.
Ia memang masih muda, belum pernah menjalin hubungan dengan wanita, dan bahkan wanita yang ada didepannya adalah wanita yang paling ia benci namun ia tetaplah laki-laki normal. Yang memiliki hasrat indah apalagi bibir Elsa terasa begitu menggairahkan.
Sementara Elsa, ia menatap Robin dengan pandangan yang berapi-api. Ia kembali mengangkat tangannya ingin kembali menampar Robin namun lagi lagi Robin mampu menangkisnya.
"Hush, huhs, Baby..." geram Robin sambil berseringai licik bak iblis yang sudah kekenyangan.
"Bagaiamana jika dua tamparan? Aku bisa membuat perutmu bengkak karena menyimpan benihku" desis Robin yang membuat Elsa semakin meradang.
"Jaga mulut mu, bocah tengil!" seru Elsa sembari menyentak tangannya hingga terlepas dari tangan Robin.
"Berhenti memanggil ku bocah tengil, Els. Karena pria didepan mu ini berhasil membuat kamu kehabisan nafas tadi, itu bukan keahlian bocah" Robin tersenyum mengejek dan ia menyentuh bibir nya sendiri.
"Not bad!" seru Robin lagi "Sayangnya, pasti sudah banyak pria yang mencicipi bibir mu. Ck, menjijikan" kata Robin sembari mengusap bibirnya seolah ia benar benar merasa jijik pada Elsa.
Elsa enggan menanggapi, ia hanya menatap Robin dengan tajam dan bibir yang berkatup rapat. Dalam hati ia bersumpah, akan membalas setiap perlakuan Robin padanya.
"Bekerja, Els. Aku membawa mu kesini untuk melayani Mama!" seru Robin kemudian sebelum akhirnya ia meninggalkan Elsa yang masih diam mematung dengan dada yang bergemuruh.
"Bukan hanya Mama mu, Bocah. Kamu pun akan aku layani!"