
"Elsa...!"
"Elsa, kamu dimana?"
"Elsa...!!!" Robin berteriak seperti orang bodoh di rumahnya sendiri dan hal itu mengundang perhatian seisi rumah termasuk Mamanya yang saat ini masih ada di kamar.
Bi Sum dan kedua dayangnya pun langsung menghampiri Robin yang saat ini sedang mencari Elsa di setiap sudut rumahnya.
"Ada apa, Den Robin?" tanya Siti heran.
"Apa kalian melihat Elsa?" tanya Robin yang kini terlihat marah, siti dan Atipun langsung menggeleng pelan, sementara Bi Sum hanya diam saja, membuat Robin mulai mencurigainya.
"Dimana Elsa, Bi?" tanya Robin dengan begitu dingin.
"Bibi tidak tahu, Den Robin," jawab Bi Sum dengan ketus.
"Jangan bohong, Bi!" seru Robin dan ia mendekati Bi Sum "Dimana Elsa?" desisnya tajam.
"Ayo..." Bi Sum menarik tangan Robin agar menjauh dari Ati dan Siti, membuat kedua dayang itu mengernyit bingung begitu juga dengan Robin, namun Robin tak menolak saat Bi Sum membawanya ke halaman belakang.
Bi Sum menoleh, memastikan tidak ada yang mengikutinya kemudian ia menatap Robin dengan tajam dan berkata "Apa yang sudah Den Robin lakukan?" desisnya antara marah, kecewa dan sedih. Sementara Robin justru terkesiap mendengar pertanyaan Bi Sum "Bibi sudah tahu apa yang Den Robin lakukan, kenapa Den Robin tega?" tanya Bi Sum dengan suara rendah "Ini bukan Den Robin yang Bibi kenal, kenapa?" tanya Bi Sum dan seketika Robin tertunduk lemas.
"Aku tidak tahu, Bi. Itu terjadi begitu saja, aku lepas kendali," ujar Robin penuh penyesalan.
"Terus Elsa dimana sekarang, Bi?" tanya Robin lagi, ia menatap Bi Sum dengan tatapan yang begitu memelas, membuat Bi Sum merasa tidak tega.
"Bibi tidak tahu, Den Robin. Dia pergi tadi malam, dan sebaiknya Den Robin biarkan saja dia pergi, setidaknya dengan begitu dia bisa sedikit mengobati luka dan traumanya," ujar Bi Sum meyakinkan Robin.
"Tapi bagaimana jika dia hamil, Bi?" tanya Robin dengan lirih dan seketika Bi Sum pun terdiam, karena sejak semalam ia pun memikirkan hal yang sama.
"Jika dia hamil, mungkin dia akan datang padamu dan meminta pertanggung jawabanmu, Den Robin," tukas Bi Sum.
"Aku akan bertanggung jawab, Bi. Karena itulah aku tidak mau dia pergi."
.........
Perlahan Elsa membuka matanya yang masih terasa berat, Elsa menggeliat malas dan saat ia teringat dimana dirinya berada saat ini, Elsa pun langsung beranjak duduk dan membuka mata lebar-lebar. Elsa mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya dan seketika ia bernafas lega saat tak melihat siapapun disana.
Semalam Rion membawanya ke sebuah hotel, awalnya Elsa merasa takut namun Rion menyerahkan kunci kamarnnn hotelnya pada Elsa, Rion juga sudah membayarkan kamar hotel itu sebelum akhirnya Rion pulang ke apartemennya sendiri. Meskipun tersentuh dengan segala kebaikan Rion, namun hati Elsa tetap menolak mempercayai Rion, mengingat Jimmy dulu juga sangat baik padanya namun ternyata itu hanya kedok belaka.
Elsa segera bergegas ke kamar mandi untuk menyegarkan diri, Elsa menggosok leher dan dadanya dengan kasar seolah Elsa ingin menghilangkan jejak yang di tinggalkan Robin, namun semua itu sia-sia membuat Elsa menggeram kesal.
"Ingin rasanya aku membalas segala perbuatanmu, bocah tengil!" geram Elsa yang masih terus menggosok leher dan dadanya dengan kasar.
Elsa pun segera menyelesaikan mandinya saat perutnya mulai keroncongan, tidak heran, sekarang sudah hampir jam 11 siang.
"Sarapan anda, Nyonya..." seru pelayan itu sambil tersenyum.
"Kebetulan, aku sangat lapar," kata Elsa sembari menelan liurnya saat melihat makanan itu.
..........
Sementara di sisi lain, Robin saat ini sedang bersiap pergi ke kantor meskipun sebenarnya ia tidak yakin bisa fokus bekerja. Di satu sisi ia ingin mencari Elsa, namun di sisi lain, ia pun tahu bahwa apa yang di katakan Bi Sum ada benarnya. Elsa pasti sangat membencinya saat ini, dan mungkin juga mengalami trauma.
"Ma, aku berangkat dulu, ya," kata Robin pada sang Mama yang saat ini sedang menyiram bunga dari atas kursi-rodanya.
"Mama dengar, Elsa sudah keluar dari rumah ini, apa itu benar, Rob?" tanya Bu Anita dan Robin pun hanya bisa menganggukan kepalanya.
"Baguslah, kamu tidak perlu cari-cari dia lagi. Biarkan saja dia pergi," ujar Bu Anita dengan penuh kebencian.
"Ma, ada yang ingin aku bicarakan," tukas Robin kemudian ia berlutut di depan Bu Anita.
"Soal apa? Apa soal perusahaan?" tanya Bu Anita, Robin menggeleng.
"Ini soal Elsa, Ma." Bu Anita tampak semakin marah saat Robin kembali menyebutkan nama Elsa.
"Kenapa lagi? Dia sudah pergi 'kan? Jadi sebaiknya tidak perlu sebut nama dia lagi di rumah ini, wanita itu wanita murahan yang kurang ajar!" desis Bu Anita.
"Ma, kita salah faham selama ini!" tegas Robin kemudian "Elsa bukan wanita simpanan Papa." lanjutnya yang membuat Bu Anita tercengang namun kemudian ia justru tersenyum sinis.
"Apa dia sudah mempengaruhimu, Rob?" tanya Bu Anita dengan sinis.
"Astaga, Ma. Bukan begitu," ucap Robin, ia menggenggam tangan sang Mama dan menatap matanya dengan dalam "Aku mendengar sendiri dari Jimmy, kalau Elsa bukan simpanan Papa. Dan saat Elsa menjalin hubungan dengan Jimmy, itu karena Elsa tidak tahu Jimmy sudah menikah. Setelah Elsa tahu, Elsa langsung memutuskan hubungannya dengan Jimmy." tutur Robin panjang lebar yang membuat Bu Anita kembali tersenyum sinis.
"Wanita itu pasti sudah menggodamu, ya 'kan?" tanya Bu Anita yang kini terlihat kecewa pada Robin.
"Sama sekali tidak, Mak. Elsa tidak pernah menggodaku, dia juga tidak mempengaruhi, kita yang salah karena sudah menuduh Elsa yang karena beberapa lembar foto yang bahkan bisa saja hanyalah editan." tegas Robin berharap Mamanya itu mengerti, namun Bu Anita kembali tersenyum miring dan ia menarik tangannya dari tangan Robin.
"Mama kecewa sama kamu, Rob!" desis Bu Anita kemudian ia mendorong kursi-rodanya meninggalkan Robin yang hanya bisa terdiam. Ini memang salahnya, memupuk rasa sakit, rasa benci dan bahkan trauma di hati sang Mama, itu adalah salahnya.
.........
Setelah selesai sarapan sampai sangat kenyang, Elsa pun segera keluar dari hotel sebelum Rion datang menemuinya. Elsa sangat berharap setelah ini ia tidak akan lagi bertemu dengan Rion apalagi Robin.
"Aku tidak mungkin bisa melakukan penerbangan tanpa id card-ku." gumam Elsa lirih.
"Apa aku... Olga..." Elsa seketika teringat dengan teman sekaligus mantan managernya. Tanpa fikir panjang Elsa pun langsung menghubungi Elsa dan meminta Olga menjemputnya.