
Tiga minggu menjalani perawatan intensif berhasil memulihkan keadaan Pak Andrew yang selama ini secara diam-diam di racun oleh Robin, dan racun itu terdeteksi di darah pak Andrea namun pak Andrew meminta Dokter merahasiakan hal itu, karena ia tahu apa yang di lakukan Robin hanya sebagai bentuk ungkapan kekecewaannya sebagai anak terhadap ayahnya yang buruk.
Bahkan, kini pak Andrea keluar dari rumah utamanya dan memilih tinggal di apartementnya yang masih berada satu gedung dengan apartment Jimmy. Proses cerainya juga belum selesai, namun pak Andrew sudah ikhlas melepas istri dan putranya.
"Ma , hari ini aku akan pulang malam, Mama jangan menungguku, ya!" Robin berkata sembari mengecup pipi Mamanya yang saat ini sedang menikmati sarapannya.
"Hem, jangan lupa makan tepat waktu," ujar Mamanya dan Robin hanya mengangguk. Ia pun bergegas berangkat ke kampusnya karena hari ini adalah sidang skripsinya.
Robin menyetir dengan tenang, sembari memikirkan kesibukannya hari ini dan mungkin semakin hari ia akan semakin sibuk, karena setelah orangtuanya resmi bercerai, maka Robin pun akan resmi menjadi owner perusahaan ayahnya yang di wariskan padanya.
Saat fokos menyetir, tiba-tiba Robin seperti melihat Elsa di pinggir jalan, Elsa seperti menatapnya dan itu membuat Robin tidak fokus hingga tanpa sengaja ia menabrak mobil lain di depannya.
"Astaga!" pekik Robin.
...
"Ada apa? Kenapa kamu terlihat cemas?" tanya Arfan yang melihat istrinya itu tampak cemas.
"Dari semalam Kak Elsa tidak bisa di hubungi, Kak. Kata Mama, dia sakit." Arfan menghela nafas berat dan ia mengusap kepala istrinya itu dengan sayang.
"Berhenti mengkhawatirkan dia, dia sudah dewasa, Sayang," ujarnya dengan lembut.
"Entah kenapa aku khawatir sama dia, Kak."
"Sebaiknya kamu telfon Mama, biar kamu tenang," saran Arfan kemudian.
"Nah, itu sudah tahu, terus kenapa perlu di khawatirin?" Tanya Arfan yang membuat Elnaz cemberut.
"Kak Arfan masih benci Kak Elsa, ya?" tanyanya.
"Aku tidak tahu, tapi aku tidak bisa lupa bagaimana dia membuatmu celaka dan kita hampir saja kehilangan janin kita."
...
Mendapati dirinya positif hamil membuat dunia Elsa seolah runtuh seketika, bahkan ia hanya bisa menangis semalaman hingga pagi, membuat matanya bengkak, hidungnya tersumbat dan kepalanya semakin terasa pusing.
Saat ini, mentari sudah bersinar terang, dari luar, terdengar suara sang Ibu yang mulai beraktivitas dan juga terdengar suara sang ayah yang sedang menelepon seseorang.
Sementara di dalam, Elsa masuk ke kamar mandi dan ia berendam dalam buth tub yang di isi dengan air dingin. Masa lalu yang ia lewati kembali berputar dalam benaknya, bagaimana awal mula dari kehancuran hidupnya terjadi.
Elsa memejamkan mata, ia menenggelaman dirinya ke bath tub yang terisi penuh. Elsa seolah melihat dirinya saat meninggalkan Arfan dan keluarganya di malam pernikahannya, Elsa seolah ingin menghentikan waktu dan mengubah keputusannya saat itu, namun waktu terus berjalan, dan kini Elsa seolah melihat dirinya saat di tidur oleh Jimmy.
Elsa ingin berteriak, ia merasa jijik pada dirinya sendiri namun Elsa hanya bisa menggeram, air mata yang mengalir di pipinya bercampur dengan air, dan waktu kembali berputar, kini Elsa melihat bagaimana ia di lecehkan oleh Robin, air mata Elsa semakin deras, hingga perlahan kesadarannya pun mulai menghilang.
"Kapan aku bisa keluar dari kegelapan ini, Tuhan? Apakah hukuman ini memang pantas untukku? Apakah aku tidak akan melihat cahaya lagi? Apakah sepanjang hidup, aku hanya akan terus menderita?"
Tbc...