
Elsa tidak tahu harus pergi kemana, kata Bi Sum, ia di suruh pergi ke halte bus namun Elsa tidak tahu. Sejak tadi ia menunggu taksi, namun tidak ada yang lewat, ia juga tidak bisa memanggil taksi online karena ternyata ponselnya lowbat. Elsa hanya terus berjalan lurus tanpa arah, yang ia fikirkan saat ini hanya menjauh dari Robin.
"Aku harus bagaimana?" gumam Elsa kebingungan, ia menetap ke selilingnya dan pandangannya tertuju pada dua pria asing yang sepertinya mabuk dan pria itu seperti menatap Elsa. Elsa pun memeprcepat langkahnya, dan benar saja, kedua pria itu berlari mengejar Elsa yang membuat Elsa langsung ikutan berlari sambil berteriak minta tolong.
"Tolong...!"
"Tolong aku!!!" teriak Elsa sambil terus berlari menjauh hingga tiba tiba ada sebuah mobil yang melaju cepat ke arahnya, Elsa sudah berteriak histeris sambil menutup matanya namun mobil itu terhenti tepat di depannya.
"Elsa!" Elsa langsung membuka mata saat lebar-lebar saat mendengar suara berat dari pria yang tak asing.
"Ka-kamu?" gumam Elsa saat ia melihat Rion turun dari mobilnya.
"Elsa, ada apa? Kamu dari mana? Mau kemana?" tanya Rion heran, namun alih-alih menjawab pertanyaan Rion, Elsa justru menoleh dan ia terlihat ketakutan.
"Ada apa, Sa? Hey..." seru Rion dan ia memberanikan diri memegang pundak Elsa.
"Tadi ... tadi ada yang ngejar aku, dua pria, mereka mabuk," ucap Elsa terbata-bata dan Rion pun memperhatikan sekelilingnya namun tidak ada siapa-siapa.
"Malam-malam begini memang tidak aman, Sa. Lagian kamu mau kemana? Biar aku antar," tawar Rion dan Elsa terdiam sejenak. Pertolongan Rion memang sangat ia butuhkan saat ini, namun Elsa juga tidak bisa percaya pada Rion begitu saja.
"Aku tidak akan macam-macam sama kamu, Sa," ujar Rion yang seolah bisa membaca fikiran Elsa "Kamu tahu aku, tahu tempat bekerjaku, jadi kamu bisa percaya sama aku." tukas Rion.
"Aku ... aku mau ke halte bus," jawab Elsa kemudian.
"Halte bus? Malam-malam begini?" tanya Rion dan ia memperhatikan penampilan Elsa dari atas sampai bawah "Kamu seperti remaja yang kabur dari rumah, Sa," ujar Rion sambil terkekeh yang membuat Elsa mendelik.
"Jadi mau mengantarkan aku atau tidak? Aku akan membayarmu," kata Elsa dengan sombongnya yang membuat Rion tersenyum samar. Berfikir sikap arogan Elsa masih sama bahkan di saat seperti ini.
"Baiklah, silakan masuk." Rion membuka pintu untuk Elsa dan Elsa pun masuk ke mobil Rion, Rion segera menyusulnya namun saat itu juga, ada Jimmy yang melewati jalan itu dari arah yang berbeda dan ia melihat Elsa yang masuk ke mobil Rion.
Rion melajukan mobilnya menuju halte bus sesuai permintaan Elsa, sesekali Rion melirik Elsa yang tampak pucat, matanya sembab dan pandangan Elsa seperti kosong.
Selama pejalan, suasana begitu hening karena keduanya tak ada yang buka suara, hingga akhirnya Rion berusaha memecah keheningan itu.
"Jadi, kamu kabur dari siapa?" tanya Rion yang membuat Elsa langsung melirik tajam, membuat Rion meringis karena sepertinya ia salah memilih topik pembuka.
"Em, apa kamu mau makan? Di sekitar sini ada warteg yang buka 24 jam dan makanannya enak," ujar Rion kemudian sekenanya karena ia tidak tahu harus berkata apa. Sementara Elsa, ia langsung memegang perutnya yang memang sangat lapar, sejak siang tadi ia belum makan apapun, sarapanpun hanya sedikit.
"Kamu lapar 'kan?" tanya Rion yang melihat gelagat Elsa memang seperti orang kelaparan, Elsa terdiam sejenak sebelum akhirnya ia mengangguk pelan, membuat senyum sumringah Rion langsung mengembang di bibirnya.
Sementara di belakang mereka, ada Jimmy yang mengikuti mereka karena Jimmy pun masih tak bisa melupakan Elsa. Jimmy memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi dan hendak menghalangi mobil Rion namun sayangnya usahanya sia-sia saat ada sebuah truck yang menghalangi jalan Jimmy.
"Agh, sial..." geram Jimmy dan ia memukul setir dengan keras.
Rion membawa Elsa ke sebuah warteg, ada beberapa pelanggan di sana yang sepertinya juga sedang dalam perjalanan.
"Kamu mau makan apa?" tanya Rion.
"Apa saja," jawab Elsa dingin.
"Nasi campurnya enak, mau?" tawar Rion basa-basi dan Elsa hanya mengangguk.
"Ck, sedingin itu gadis ini." batin Rion terkekeh sendiri.
"Bi, nasi campur dua, ya. Sama teh hangat satu dan..." Rion kembali menatap Elsa "Kamu mau minum apa, Sa?" tanyanya.
"Air putih," jawab Elsa singkat, ia sudah sangat lapar dan rasanya tidak sabar ingin segera melahap makanan yang ada di sana.
Rion pun meminta air mineral untuk Elsa dan tak lama kemudian Bibi penjual pun langsung mengantarkan teh hangat dan air mineral itu. Elsa langsung menyambar air itu dan meneguk nya hingga sisa setengah, membuat Rion tercengang.
"Astaga, Sa. Kamu seperti seorang yang melakukan perjalanan di padang pasir," ucapnya namun Elsa tak menanggapinya.
"Apa perjalan ke halte bus masih jauh?" tanya Elsa kemudian.
"Kamu tidak tahu daerah sini?" tanya Rion dengan dahi mengkerut dan Elsa pun menggeleng.
"Astaga, bagaimana bisa? Bukannya kamu sudah tinggal di sini dan bekerja di sini?" tanya Rion.
"Iya, tapi bukan berarti aku menjelajahi halte bus," jawab Elsa dingin yang kembali membuat Rion terkekeh.
"Ya, kau benar juga." gumam Rion dan tak lama kemudian makanan merekapun datang.
"Apa kamu juga kelap..." ucapan Rion terhenti saat Elsa langsung melahap makanannya namun Elsa terkejut karena ternyata nasinya masih panas.
'Agh, panas... "Elsa langsung mengambil air dan kembali meminumnya, sementara Rion kembali terkekeh.
"Tentu saja masih panas," kata Rion kemudian ia bergegas ke mobilnya, Rion mengambil kertas dari tas kerjanya setelah itu ia kembali pada Elsa. Rion mengipasi nasi Elsa menggunakan kertas itu.
"Kamus sangat lapar, ya?" tanya Rion dan sebenarnya ia sangat penasaran apa yang sebenarnya terjadi pada Elsa, namun Rion tahu, wanita seperti Elsa tidak akan mau menceritakan masalahnya.
"Hem," jawab Elsa dingin "Bisa tolong percepat? Supaya cepat dingin," ujarnya yang membuat Rion tertawa kecil.
"Iya, iya..." Rion semakin cepat mengipasi nasi Elsa, setelah di rasa mulai dingin, Rion mempersilahkan Elsa untuk makan.