
"Kamu dari mana saja, Sa?" Tanya bu Isna pada Elsa yang baru saja pulang.
"Maaf, Ma. Tadi aku cuma cari udara segar," jawab Elsa sembari memaksakan bibirnya tersenyum.
"Terus, teman kamu yang tadi jawab telfon Mama itu dimana? Dia siapa?" Tanyanya lagi yang membuat Elsa terdiam sejenak. Robin memang tidak ikut masuk, dia lebih memilih langsung pergi ke hotel namun Robin meminta Elsa memutuskan secepatnya apakah Elsa akan ikut dengannya atau tidak.
"Dia sudah pulang, Ma," jawab Elsa akhirnya.
"Hem, baiklah. Sebaiknya kamu mandi dan setelah itu sarapan," ujar Mamanya dan Elsa hanya mengangguk. Ia pun bergegas ke kamarnya namun saat Elsa pergi, bu Isna baru menyadari sesuatu.
"Dia jogging? tapi kenapa bawa tas dan berpakaian rapi?" Gumamnya namun ia mencoba mengabaikan hal itu.
...... ...
Sesampainya di kamar hotelnya, Robin langsung mandi untuk menyegarkan diri sekaligus otaknya yang sepertinya selalu mendidih saat berdekatan dengan Elsa.
"Bagaiamana bisa dia benar-benar hamil?" Gumam Robin sembari mengusap wajahnya, ia pun juga frustasi dengan keadaan ini, namun membunuh janin itu? Robin tak sampai hati melakukannya, ia sudah melakukan kesalahan yang sangat besar dengan memperkosa Elsa dan ia tidak ingin melakukan kesalahan terbesar keduanya dengan membunuh janin itu.
"Tidak bisa, aku harus membiarkan janin itu hidup. Aku akan merawatnya sendiri, bagaimanapun juga dia darah dagingku."
Setelah selesai mandi, Robin segera menghubungi Joanna dan meminta Joanna membuatkan surat kontrak kerja.
.........
Elsa sering mendengar, orang hamil muda katanya sensitif terhadap segala hal, termasuk pada aroma. Dan seperti sekarang, saat ia memasuki dapur dan mencium aroma makanan disana, Elsa langsung merasa mual dan ia tak bisa menahannya. Elsa langsung muntah di wastafel dan saat mendengar suara langkah kaki ibunya mendekat, Elsa segera berkumur-kumur serta membersihkan wastafel dengan cepat.
Elsa segera mengambil roti itu kemudian Elsa mencium aromanya untuk mengetes apakah dia akan mual, dan Elsa tersenyum lebar saat tak merasakan mual.
Elsa langsung membawa roti itu ke kamarnya dan ia memakannya dengan lahap.
"Gila, dari semalam aku belum makan gara-gara anak bocah tengil ini," gumam Elsa di tengah-tengah ia mengunyah. Dan bersamaan dengan itu, ponsel Elsa berdering yang membuat ia sedikit terkejut. Elsa segera menyambar ponselnya yang ada di atas meja dan ia merengut saat melihat siapa yang menghubunginya. Elsa menjawabnya dengan malas.
"Apa?" Ketusnya.
"Aku akan ke rumahmu nanti sore untuk mengantarkan surat kontrak kerja."
"Surat kontrak kerja apa?" Pekik Elsa .
"Untuk meyakinkan orang tuamu kalau kamu memang bekerja di perusahaanku, jadi mereka tidak akan curiga kalau kamu menghilang saat perutmu buncit nanti."
"Kamu gila, ya?"
"Apa ada solusi yang lebih baik? Atau apa kamu mau aku bertanggung dengan mendatangi orang tuamu? Kamudian memberi tahu bahwa kamu mengandung anakku? Dan mereka mungkin akan memaksa kita menikah, jadi silahkan kamu pilih, mau yang mana?"
Dada Elsa bergemuruh hebat mendengar apa yang di ucapkan Robin, namun ia memang tidak punya pilihan lain. Sudah lama Elsa tidak bekerja dan ia tidak punya uang untuk menggugurkan kandungannya ke rumah sakit yang bagus supaya aman, dan sekarang Robin menolaknya memberi uang.
"Jadi, pastikan kamu ada di rumah sore ini, dan satu hal lagi, jangan pasang tampang wajah penuh kebencianmu itu saat aku datang atau orang tuamu akan curiga!" Elsa menganga lebar mendengar apa yang di perintahkan Robin, namun belum sempat ia bersuara, Robin sudah memutuskan sambungan telfonnya yang membuat Elsa sangat kesal bahkan ia hampir membanting ponselnya.