After Darkness

After Darkness
Episode 162



Robin berlari di lorong rumah sakit seperti orang gila, ia menabrak siapa saja yang menghalangi jalannya. Napasnya memburu, dadanya berdebar, wajahnya sangat tegang.


Sambil terus berlari, Robin mengelap keringat yang mengucur di pelipisnya bahkan bajunya sampai basah karena keringat.


Beberapa menit yang lalu saat ia sedang melakukan rapat, ia mendapatkan kabar dari Bi Sum kalau Elsa di larikan ke rumah sakit karena jatuh di kamar mandi.


Tanpa fikir panjang, Robin meninggalkan rapat itu dan ia menyetir dengan kecepatan penuh namun ia harus terjebak macet. Karena tak mau menunggu lebih lama, Robin berlari ke rumah sakit dan di sinilah dia sekarang. Di depan ruang persalinan dimana operasi Elsa sedang berlangsung sekarang karena Elsa tidak mungkin melahirkan normal.


"Dimana Elsa, Bi?" Tanya Robin dengan napas yang putus-putus.


"Masih di dalam," jawab Bi Sum dengan lemah, Robin melihat baju Bi Sum yang terkena noda darah dan itu membuatnya takut.


"Kenapa dia bisa jatuh, Bi? Kenapa bisa? Dia ... dia...." Robin tidak tahu harus berkata apa, namun Bi Sum mencoba menenangkan Robin.


"Dia baik-baik saja, hanya saja dia harus melahirkan lebih cepat dari seharusnya," kata Bi Sum namun itu tidak cukup untuk membuat Robin tenang.


Beruntung Bi Sum mendengar saat Elsa berteriak memanggilnya dan Bi Sum pun langsung menghubungi rumah sakit agar segera menjemput Elsa.


Robin luruh ke lantai, ia tampak frustasi memikirkan keadaan Elsa sekarang. Robin menarik rambutnya sendiri dan tampak sebuah penyesalan serta rasa bersalah di matanya.


"Kenapa dia bisa jatuh?"


"Seharusnya aku bisa menjaganya!"


"Oh Tuhan, apa yang harus aku lakukan sekarang?"


"Jaga mereka! Aku mohon!"


"Aku benar-benar memohon!"


Bi Sum yang melihat keadaan Robin itu merasa prihatin, ia pun berjongkok di samping Robin dan menepuk pundak Robin dengan lembut.


"Elsa dan bayinya akan baik-baik saja, Den Robin. Kita berdo'a saja," tukas Bi Sum dengan lembut.


Robin menunduk dalam dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya, jika sampai terjadi sesuatu pada Elsa maupun bayinya, Robin merasa takkan bisa memaafkan dirinya sendiri.


Robin menunggu operasi Elsa sampai selesai dan ia masih dalam posisi yang sama, enggan mengangkat wajahnya dan ia berdo'a tanpa henti, memohon dengan segenap jiwa agar semuanya baik saja.


Bi Sum pun dengan setia menemani tuan mudanya itu dan tak lama kemudian Dokter datang dengan senyum di bibirnya dan tatapan yang tampak berbinar. Robin langsung berdiri, raut wajahnya masih tampak sangat tegang dan ia menatap Dokter itu dengan sendu, Robin mencecarnya dengan berbagai pertanyaan.


"Bagaiamana keadaan Elsa? Apakah dia baik-baik saja? Bayi kami? Dia selamat, kan? Dia sehat, kan? Dimana mereka sekarang? Apa Elsa sudah sadar? Dia baik-baik saja, kan? Mereka selamat, kan?"


"Tenang, Pak," kata Dokter itu akhirnya. "Istri Bapak kehilangan banyak darah tapi sudah kami atasi, semoga setelah ini dia baik-baik saja, dan putra bapak juga lahir dengan selamat, sehat dan tidak kekuarangan apapun!"


Robin tercengang, ia menahan napas dan matanya membulat. Dunia seolah berhenti berputar dalam beberapa saat, bibirnya terbuka namun lidahnya terasa kelu.


"Selamat ya, Pak...." Dokter itu mengulurkan tangannya pada Robin namun Robin masih mematung sempurna.


Bi Sum yang mendengar kabar itu pun ikut gembira, ia bernapas lega, mengelus dadanya dan mengucapkan puji syukur tiada henti.


"Putra...." gumam Robin merasa tak percaya.


Tbc....