After Darkness

After Darkness
Episode 176



Robin menelusuri pundak Elsa dengan jarinya sambil tersenyum, kemudian memberikan kecupan-kecupan kecil disana, membuat sang istri merasa terganggu dari tidurnya.


"Bangun, Sayang. Sudah siang," tukas Robin sembari menyelipkan rambut Elsa ke belakang telinganya.


"Egghhh," Elsa mengerang lirih, ia menggeliat malas kemudian kembali menyembunyikan wajahnya di dada Robin, melingkarkan lengannya di pinggang sang suami.


"Sayang, kamu masih ngantuk, hm?" Robin bertanya dengan lembut dan kembali ia mengecup pundak Elsa yang terbuka itu.


"Hem, aku masih rindu aroma tubuh kamu," kata Elsa dengan suara serak, ia menghirup aroma Robin dalam-dalam.


"Iya, Sayang. Aku juga masih rindu, tapi Baby Arjun bagaimana?"


Mendengar kata baby Arjun seketika membuat Elsa membuka mata lebar dan ia langsung beranjak duduk, hal itu membuat selimut yang si pakai Elsa melorot yang pada akhirnya kembali menampilkan bagian tubuh Elsa yang tak tertutup apapun.


Robin menelan ludahnya dengan kasar, bagian bawah tubuhnya kembali menggeliat. Dahi Robin berkerut dalam, ia tampak meringis menahan denyutan di bawah sana.


Sementara Elsa, ia segera menarik selimutnya sambil cengengesan, malu. Apalagi saat Robin menatapnya dengan begitu intens, Robin terkekeh kemudian ia menarik Elsa ke dalam pelukannya dan kembali mencumbu bibir Elsa, Elsa tak menolak, ia menerima dengan senang hati.


Ciuman mereka pagi ini berbeda dari tadi malam, begitu lembut, memanjakan dan menggoda. Bahkan ketika mereka bermain dengan lidah panas mereka, mereka melakukannya sepenuh hati.


Dan saat Elsa merasa kehabisan napas, Elsa memukul dada Robin yang membuat Robin mengerang dan dengan sangat terpaksa ia melepaskan ciuman yang memabukan itu.


Napas keduanya memburu, dan keduanya menempelkan kening mereka. Robin tersenyum, begitu pula dengan Elsa.


Robin membelai bibir Elsa yang bengkak dan memerah, juga basah. "Aku tidak pernah tertarik pada wanita, karena dulu aku hidup dengan kebencian dan aku selalu menyendiri," tukas Robin.


"Kamu adalah wanita pertamaku, dan saat aku menyentuhmu saat itu, aku telah kehilangan jiwaku karena saat aku memasukimu, aku seperti melepaskan jiwaku untukmu," tukas Robin dengan tatapan yang begitu dalam, seolah menusuk hingga dasar jiwa Elsa.


"Setelah hari itu, kamu terus memenuhi hati dan fikiranku, Els. Kamu seperti hantu yang terus membayangiku, aku mulai merindukanmu, suaramu, tatapanmu. Aku menginginkanmu, hati, fikiran dan tubuhku hanya menginginkanmu, Sayang." Elsa terenyuh mendengar apa yang di katakan oleh Robin, entah apakah sebuah keberuntungan atau buka atas tragedi pemerkosaan itu, tapi yang pasti, tragedi itu mengantarkan Elsa dan Robin pada cinta mereka.


"Jadi, kamu tidak pernah punya wanita sebelumnya?" tanya Elsa, ia membeli pipi Robin dengan lembut.


"Tidak, dan tidak akan pernah kecuali kamu. Sekarang aku sudah mengenal yang namanya surga dunia, dan aku selalu menginginkannya darimu, Sayang." Elsa tersipu malu, ia sepertinya remaja yang sedang di rayu oleh pria yang ia taksir.


"Dan aku milikmu, kau boleh meminta surgamu kapan saja," tukasnya dengan pipi yang sudah semerah tomat.


Keduanya saling menatap, bibir keduanya saling mendekat, dan saat hampir bersentuhan, terdengar suara ketukan pintu yang membuat keduanya terkejut.


"Kalian sudah bangun belum? Anak kalian rewel, pasti lapar!" terdengar suara teriakan ibu mertua Elsa dari luar yang membuat Elsa terkekeh.


"Anak kita lapar," kata Elsa. "Tadi malam kamu sudah mengambil jatahnya, sekarang giliran dia."


Tbc....