After Darkness

After Darkness
Episode 29



Elsa yang melanjutkan perawatan wajahnya terngiang-ngiang pada apa yang di katakan Bi Sum, jika mendengar cerita tentang Robin dan keluarga stres nya, rasanya memang hal langka memberikan kejutan seperti ini.


"Aish, kenapa aku merasa kasihan ya. Biarin sajalah, mereka semua jahat kok sama aku" gerutu Elsa. Namun tak lama kemudian ia berdiri dari kasur lantai nya itu, mengambil karet gelang dan mengikat rambutnya dengan asal.


"Ya sudah lah ya, aku bantu saja. Seperti nya aku memang salah" lirih nya.


Elsa pun pergi ke dapur, dan ia mendengus mendengar gerutuan dua pembantu yang tampaknya memang tak pernah tak suka padanya.


"Ya sudah, biar aku saja..." seru Elsa akhirnya dengan malas.


"Beneran, Sa?" tanya Bi Sum antusias dan Elsa hanya mengangguk malas.


"Siapkan saja bahan bahan nya, sekalian sama racun kalau ada" tukas Elsa asal yang membuat Siti dan Ati yang melongo, sementara Bi Sum hanya menahan senyum.


"Kami tidak pernah membuat kue ulang tahun, Sa. Jadi mungkin bahan nya tidak lengkap" kata Bi Sum yang kini menyiapkan telur, tepung, gula, mentega dan pengembang kue.


"Kalau begitu kita buat donat saja" kata Elsa yang langsung membuat Bi Sum menghela nafas berat.


"Masak donat, Sa?" tanya nya.


"Ya bahan bahan nya tidak ada" kata Elsa ketus.


"Jadi bahan bahan ini saja tidak bisa ya?" tanya Bi Sum lagi.


"Ya tidak bisa, tidak enak. Lagian keluarga ini kaya beneran kan? Aku jadi curiga, mau bayar kue tidak mampu, bahan bahan kue saja tidak punya" kata Elsa kemudian panjang lebar.


"Pantas makin stres" tukas Elsa sekena nya yang membuat Bi Sum geleng geleng kepala.


Ia pun memeriksa isi kulkas dan menemukan cokelat juga susu di sana "Eh, cokelat itu punya kami" kata Siti dengan cepat.


"Aku pakai dulu, nanti kalian minta ganti saja sama bos kalian" jawab Elsa santai.


Kemudian ia mulai membuat adonan kue dengan bahan seadanya. Bi Sum dan kedua dayang dayang nya itu pun juga membantu Elsa walaupun mereka selalu cemberut, apalagi jika Elsa memerintah ini itu.


...


Sementara itu, setelah mandi dan berganti pakaian Robin langsung melemparkan diri ke ranjang nya, membuka laptop nya dan melakukan beberapa pekerjaan yang tadi belum selesai.


Robin tahu ia masih terlalu muda untuk mengambil alih semua usaha keluarga nya apalagi status nya masih mahasiswa meskipun sebentar lagi ia akan lulus. Namun Robin sudah bertekad akan membekukan semua kekuatan yang di miliki ayah nya, apalagi itu adalah alasan ayahnya bisa dengan mudah bermain wanita.


Robin melirik jam dinding yang kini menunjukan pukul setengah 12, tak terasa hari sudah akan memasuki tengah malam dan hal itu membuat Robin teringat dengan kue nya.


"Sialan, ini semua gara gara wanita murahan itu" desis Robin "Coba saja dia tidak kurang ajar, sebentar lagi aku akan kasih kejutan buat Mama. Pasti Mama senang" gumam Robin.


"Tapi ya sudah lah, dia yang bayar juga kan. Besok aku kasih kejutan yang lebih istimewa Mama" lanjut nya, Robin pun mematikan lampu nya dan ia hendak tidur namun tiba tiba terdengar suara ketukan pintu yang di susul suara Bi Sum, memanggil nya setengah berbisik. Membuat Robin mengernyit bingung. Robin pun segera membuka pintu.


"Bi, ada apa?" tanya Robin.


"Ssht..." Bi Sum meletakan jarinya di bibirnya membuat Robin semakin bingung "Ayo, Den Robin ikut Bibi. Kita kasih kejutan untuk Nyonya"