After Darkness

After Darkness
Episode 122



"Aku bisa menjaga diri," jawab Elsa singkat, ia menjatuhkan bokongnya di sofa kemudian bertanya. "Kenapa Jimmy bisa bilang aku mau menikah sama kamu?"


Robin langsung termangu mendengar pertanyaan Elsa, ia tampak gugup namun seperti biasa, Robin takkan mengakui hal itu, ia memasang wajah datarnya dan mengangkat dagunya.


"Mungkin dia hanya asal bicara," jawab Robin dingin.


"Tidak akan ada asap kalau tidak api," ucap Elsa sembari menjilati es krimnya dengan tenang. "Kamu pasti ngaku-ngaku ya...." ia menyipitkan matanya pada Robin yang justru membuat Robin merasa gemas.


"Asal tuduh saja, mungkin mantan pacarmu itu cemburu kali sama aku," elaknya yang membuat Elsa mencebikan bibirnya.


"Aku masih curiga dan tidak percaya dengan alasan kamu," tukas Elsa sambil memutar bola matanya.


"Terserah, aku tidak memaksa," balas Robin dan lagi-lagi Elsa hanya memutar bola mata. Robin menatap wajah Elsa yang terkadang terlihat begitu sadis namun terkadang juga terlihat polos, seperti saat ini, saat ia menikmati es krim seperti anak-anak.


"Oh ya, aku ... aku minta maaf ya," cicit Robin kemudian saat ia teringat dengan kejadian tadi pagi.


"Minta maaf kenapa? Karena sudah ngaku-ngaku?" Goda Elsa tanpa menatap Robin.


"Atas kejadian tadi pagi." Elsa langsung terdiam mematung saat mendengar ucapan Robin, ia melirik pria itu sekilas sebelum akhirnya ia kembali menikmati es krimnya kemudian beranjak dari sofa dan berjalan masuk ke kamarnya tanpa bersuara sedikitpun, membuat Robin hanya bisa melongo dan menatap punggung Elsa sebelum akhirnya menghilang di balik pintu.


"Sepertinya dia benar-benar marah," gumam Robin lesu.


Bu Anita menyiram bunga yang kini tumbuh dengan sangat indah, bahkan tak jarang ia sarapan di sana, suasana dan udaranya benar-benar Bu Anita sukai.


Setelah menyiram bunga, Bu Anita duduk di kursi untuk beristirahat dan tak lama kemudian Bi Sum datang dengan membawa secangkir teh beserta cookies untuk Bu Anita.


"Bunganya semakin banyak ya, Nyonya," kata Bi Sum dan Bu Anita hanya mengangguk sambil tersenyum. "Untung saja dulu Elsa menyarankan agar Nyonya keluar rumah," ucapnya lagi yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Bu Anita. Bi Sum hanya tersenyum samar, kemudian melanjutkan ucapannya. "Sebenarnya, Elsa itu baik, Nyonya. Maksud saya, dia itu akan bersikap tergantung dari siapa lawannya. Kalau lawannya ganas, dia akan lebih ganas. Kalau lawannya lembut, dia juga akan bersikap lembut.


" Aku heran sama kamu dan sama Robin, Bi. Kalian di kasih apa sih sama Elsa bisa sampai terus memuji wanita itu?" sinisnya.


"Tidak di kasih apa-apa sih, Nyonya. Kami begini hanya setelah kami mengenal Elsa lebih dekat, dia wanita yang cerdas dan pintar."


"Terserah kamu lah, Bi. Bagiku, dia tetap wanita yang menyebalkan," kata Bu Anita kemudian ia menikanti cookiesnya.


"Tapi, berkat Elsa juga 'kan Nyonya jadi punya kemajuan dalam segala hal? Termasuk bercerai dengan tuan...."


"Bi...." Geram Bu Anita yang membuat Bi Sum justru hanya cengengesan.


Namun ada bagian dari hati kecilnya yang membenarkan apa yang di katakan Bi Sum, Bu Anita memang lebih percaya diri dan lebih kuat setelah Elsa terus memanas-manasinya dengan berbagai hal, termasuk mengatainya wanita bodoh karena bertahan setelah di selingkuhi. Bahkan Bu Anita tidak berfikir hal itu sebelumnya padahal faktanya memang begitu.


"Dia wanita yang aneh,"