
Keesokan harinya, Robin sengaja meluangkan waktu untuk membelikan ponsel Elsa. Dan dengan bodohnya, Robin membelikan Elsa ponsel keluaran terbaru yang bahkan harganya lebih mahal dari ponsel Robin sendiri. Setelah membeli ponsel, Robin kembali ke kantornya karena masih ada banyak sekali pekerjaan yang harus ia lakukan.
"Aneh, kenapa aku harus belikan ponsel semahal ini?" Robin menggumam sendiri sambil memperhatikan ponsel yang akan ia berikan pada Elsa "Ini bahkan lebih mahal dari ponsel ku," gumam nya.
Saat Robin sibuk memperhatikan ponsel baru itu, tiba tiba Joanna datang yang membuat Robin sedikit terkejut.
"Jo, apa kamu tidak bisa ketuk pintu dulu?" tanya Robin kemudian ia men masukan ponsel itu ke dalam kotaknya.
"Oh,maafkan saya, Pak. Em kedatangan saya kesini mau menawarkan makan siang, apa Pak Robin mau di pesankan makanan atau kalau mau, saya bisa temani Pak Robin makan siang di luar," kata Joanna sambil tersenyum manis.
"Apalagi jadwal siang ini?" tanya Robin tanpa menjawab tawaran Joanna.
"Tidak ada, Pak. Nanti jam 3 ada meeting," jawab Joanna.
"Baiklah, kalau begitu aku mau pulang. Jam dua nanti aku akan kembali," ujar Robin sembari berdiri dari kursi nya. Ia mamasang kembali jasnya yang tadi ia sampirkan di kursi.
"Mau makan siang di rumah, Pak?" tanya Joanna.
"Hem," jawab Robin dan kini ia memasukan kotak ponsel Elsa kedalam paper bag.
"Pak Robin beli ponsel baru?" tanya Joanna yang membuat Robin langsung mengerutkan keningnya, ia menatap Joanna dengan tatapan aneh.
"Kamu selalu ingin tahu semua hal tentang ku ya, Jo? Aku rasa itu tidak sebaiknya kamu lakukan karena aku tidak suka di ajukan pertanyaan tidak penting seperti itu," ucap Robin yang membuat Joanna langsung merasa salah tingkah.
Joanna memang ingin dekat dengan Robin, apalagi Robin masih sangat muda dan tentu akan membuat wanita manapun sangat tertarik pada bos muda itu.
...
Sementara dirumah, Elsa memasak untuk khusus untuk Bu Anita dan kali ini ia tidak menanyakan adanya racun.
"Aku tidak menyangka kamu bisa memasak, Sa," kata Bi Sum saat ia mencicipi masakan Elsa dan rasanya sangat enak.
"Ini resep dari mendiang Nenek," kata Elsa "Aku sebenarnya tidak suka masak, jarang masak juga, tapi aku ingat sedikit resep ini," tukasnya sambil tersenyum.
"Mulai sekarang, aku yang bantuin Bi Sum masak ya. Tenang saja, tidak akan aku racun para bos mu itu, Bi." lanjutnya yang membuat Bi Sum tertawa.
"Sebenarnya apa yang terjadi, Sa? Kenapa Den Robin sampai menjadikan kamu pelayan begini? Bukannya kamu berasal dari keluarga yang berada?"
"Bukan cuma berada, Bi. Aku bahkan wanita berpendidikan yang baik, tapi mau bagaimana lagi? Ini permainan takdir, dan tentu juga Den Robin mu itu sangat bodoh, masih bocah, jadi tidak mengerti masalah orang dewasa," kata Elsa dan kini ia menyajikan makanan itu di piring.
"Kok dua piring, Sa?" tanya Bi Sum karena Elsa menyiapkan dua porsi.
"Ya buat Pak Andrew sekalain, Bi," jawab Elsa.
"Ya juga sih, sejak saat tuan sakit, dia hanya makan dua kali sehari. Itu juga atas perintah Nyonya dan Den Robin," ujar Bi Sum yang tampak sedih.
"Tenang saja, Bi. Sekarang Tuan dan Nyonya mu akan makan tiga kali sehari," ucap Elsa sambil tersenyum miring.