After Darkness

After Darkness
Episode 72



Mencoba mengenyahkan Elsa dari fikirannya dan mencoba mengabaikan perasaan khawatir pada Elsa ternyata bukan sesuatu yang mudah, apalagi Elsa pergi dari rumah Robin dalam keadaan yang sangat marah, kacau, terluka dan Elsa juga tidak memegang kartu identitasnya.


Hari ini Robin merasa sangat kacau, banyak pekerjaan yang tertunda, ia bahkan tidak selera makan sedikitpun, membuat ia merasa sedikit pusing.


"Bagaimana jika terjadi sesuatu sama dia?" Robin menggumam sembari melepaskan satu persatu pakaiannya kemudian melemparkannya dengan asal.


Robin bergegas ke kamar mandi, ia mengisi Bathtub dengan air hangat kemudian ia pun berendam didalam bathtub. Robin mengerang lirih saat merasakan air hangat yang membuat tubuhnya terasa lebih rileks.


Robin bersender dan menutup matanya, lagi-lagi yang terlintas dalam bayangannya hanyalah Elsa dan Elsa. Bagaimana wanita itu menangis dan menjerit di bawahnya.


Robin merasa bersalah, namun sebagai laki-laki, ia pun merasakan sebuah hasrat yang memuncak dalam jiwanya saat ia kembali teringat dengan dessahan dan erangan Elsa saat Robin memasuki inti tubuh Elsa, yang terasa begitu menjepit padahal Elsa bukan perawan. Ada sedikit perasaan cemburu yang menggelitik dalam hati Robin saat mengingat ia bukan pria pertama Elsa sedangkan Elsa adalah wanita pertamanya. Namun terlepas dari semua itu, Robin tak bisa menafikan rasa nikmat yang ia rasakan saat menyatu dengan Elsa.


"Ck, sialan. Aku harus mencari dia atau aku akan mati dalam perasaan resah ini." geram Robin dan ia langsung keluar dari bathub.


.........


Sementara itu, Elsa yang masih ada di apartement Olga saat ini juga 9sedang berendam dalam bathtub. Elsa masih tidak tahu bagaimana caranya ia pulang, bahkan terlintas dalam benak nya untuk meminta bantuan Arfan namun Elsa sangat malu.


"Oh Tuhan..." gumam Elsa frustasi, ia mengusap wajahnya dengan kasar. Setelah di rasa cukup lama berendam, Elsa pun keluar dari bathtub, ia membilas diri di bawah shower dan kembali menggosok tanda merah di leher dan di dadanya yang masih tak juga hilang.


Setelah mandi, Elsa menutupi tanda itu dengan pondation.


"Sialan, bocah tengil itu benar-benar sialan." geramnya.


Sementara itu, Olga yang sedang menyiapkan makan malam di kagetkan dengan suara bel pintu.


"Siapa ya?" gumam Olga kemudian ia segera bergegas membukakan pintu.


"Jimmy?" pekik Olga yang melihat Jimmy berdiri di depan apartementnya. Olga tentu sangat terkejut, apalagi di dalam apartement ada Elsa.


"Hai..." sapa Jimmy yang terlihat lesu dan kemudian ia masuk ke apartement Olga tanpa di persilahkan, membuat Olga tercengang.


"Ada apa? Tumben kamu kesini?" tanya Olga karena sejak tidak ada Elsa, Jimmy tidak pernah datang ke apartemennya lagi.


"Tadi malam aku melihat Elsa di jalan, apa dia ada datang kesini?" tanya Jimmy yang membuat pupil mata Olga langsung melebar, ia shock mendengar pertanyaan Jimmy dan Olga hanya membuka mulutnya tanpa tahu harus menjawab apa.


"Aku fikir dia ada di Surabaya, tapi ternyata dia ada di Jakarta, sama pria lagi," tukas Jimmy kemudian mendaratkan bokonngnya di sofa "Aku benar-benar merindukannya, Ga. Aku yakin dia akan menemuimu, karena itu lah aku datang kesini." lanjutnya.


"Dia..."


"Jimmy?" pekik Elsa saat melihat Jimmy ada disana.


"Elsa, jadi kamu benar-benar ada di sini..." seru Jimmy antusias, bahkan ia langsung melangkah lebar mendekati Elsa dan hendak memeluk Elsa, namun dengan cepat Elsa melangkah mundur dan ia menatap Jimmy dengan begitu sinis.


"Ga, kamu undang dia kesini?" tanya Elsa mendesis, tatapannya nyalang menatap Olga dan tentu saja Olga langsung menggeleng tegas.


"Sa, aku kangen banget sama Kamu. Kamu kemana saja?" tanya Jimmy yang tidak memperdulikan tatapan jijik Elsa padanya.


"Aku sama sekali tidak mengundang dia, Sa. Jimmy datang sendiri," kata Olga membela diri.


"Sa, kamu masih marah sama aku?" tanya Jimmy dengan memelas, yang bukannya menarik perhatian Elsa, justru membuat Elsa semakin merasa jijik dan risih pada pria di depannya ini.


"Aku itu bukan marah sama kamu, tapi aku marah sama diriku sendiri yang bisa terjebak sama pria menjijikan seperti kamu!" desis Elsa tepat di depan wajah Jimmy sebelum akhirnya Elsa bergegas keluar dari apartement Olga.


"Sa, jangan pergi. Kamu mau kemana?" teriak Olga namun Elsa tak mengindahkannya, ia melangkah cepat menjauhi keluar dari sana. Jimmy pun berlari mengejar Elsa dan mencoba menghentikan Elsa.


"Sa, aku mohon kasih aku satu kesempatan lagi, Sa. Aku tidak mau kehilangan kamu lagi, Sa!" ucap Jimmy yang mencoba mengekori langkah Elsa yang cepat.


"Balik sama istri kamu sana!" seru Elsa dan ia semakin mempercapt langkahnya menuju lift.


"Sa, aku sudah mau cerai sama istriku. Aku cinta sama kamu, aku ingin menikahi kamu," tukas Jimmy kemudian yang membuat langkah Elsa langsung terhenti, Elsa langsung menatap Jimmy dengan sangat tajam, tangannya terangkat ke udara dan...


Plakkkkk


Satu tamparan sempurna mendarat di pipi Jimmy membuat kedua bola mata Jimmy langsung melotot sempurna, tamparan itu sangat kerasa bahkan Elsa sendiri sampai merasakan perih dan panas di telapak tangannya.


"Apa sakit?" desis Elsa namun Jimmy masih melongo, ia masih tak menyangka akan ada yang menamparnya seperti ini.


"Kamu tahu? Kamu adalah pria paling menjijikan yang aku temui dalam hidupku, Jimmy. Jadi pergilah dari hidupku dan jangan pernah lagi muncul di depanku!" tegasnya kemudian Elsa segera masuk ke dalam lift dan menutup nya dengan cepat, namun Jimmy berhasil mengejarnya dan membuka lift kembali.


"Sa, apa benar kamu menikah sama Robin?" tanya Jimmy kemudian yang membuat Elsa melongo, ia mengernyit bingung dan tak mengerti bagaimana Jimmy bisa meluncurkan pertanyaan itu. Namun alih-alih menjawab, Elsa justru mendorong Jimmy keluar dari lift sebelum lift kembali tertutup.


"Elsa!" geram Jimmy dan sekarang lift sudah tertutup "Sial!" geram Jimmy, ia mencoba mengejar Elsa dengan lift lain.


Sementara Elsa, ia mengerutkan keningnya mengingat pertanyaan Jimmy yang terdengar sangat aneh di telinganya.


"Menikah sama bocah tengil itu? Astaga, yang benar saja. Lebih baik aku tidak punya jodoh dari pada berjodoh dengan bocah tengil seperti itu."