
Robin pulang ke rumah dengan terburu-buru, ia sudah tidak sabar ingin memberikan bunga mawar pesanan Elsa dan ia yakin wanitanya itu pasti akan sangat senang.
Dan sesampainya di apartement, Robin langsung bergegas ke ruang makan karena ia mendengar ada suara disana.
"Els...."
Elsa yang saat ini sedang menyusun makanan di meja makan langsung menghapus air mata yang sejak tadi mengalir tanpa bisa ia cegah, Elsa juga mengucek matanya, berharap tak ada air mata yang tersisa agar Robin tak tahu bahwa ia menangis. Elsa menarik napas sebelum akhirnya menoleh dan ia melemparkan senyum manisnya pada Robin.
"Hai, kapan kamu pulang? Aku tidak mendengar pintu yang terbuka tadi," kata Elsa seceria mungkin, namun Robin justru terlihat curiga dengan sikap Elsa yang tampak berbeda.
"Ada apa? Kamu ada masalah?" Tanya Robin sembari meletakkan sebuket bunga mawar di meja.
"Tidak ada," jawab Elsa dengan cepat. "Terima kasih bunganya." Elsa mengambil bunga itu dan menghirup aromanya yang segar.
"Kok ada banyak makanan?" Tanya Robin yang melihat ada beberapa jenis menu makan di meja makan.
"Iya, aku bingung mau makan apa jadi aku pesan saja semaunya," jawab Elsa berbohong, Robin hanya menganggukan kepala dan tentu ia percaya apa kata Elsa, karena memang seperti itulah Elsa selama ini.
"Tapi kok ada lilin juga?" Tanya Robin dengan kening berkerut saat ia melihat ada lilin tepat di tengah meja makan.
"Eh, iya. Tadi mati lampu." lagi-lagi Elsa berdusta dan Robin kembali percaya.
"Kamu sudah makan? Aku belum," kata Robin sembari menarik kursi dan duduk disana.
"Belum," jawab Elsa. Ia pun menyajikan makanan untuk Robin, setelah itu untuk dirinya sendiri. Robin semakin bingung melihat tingkah Elsa yang sangat berbeda, namun hatinya juga senang karena Elsa bersikap sangat manis malam ini, ia berharap ini pertanda bahwa Elsa mau menerima lamarannya.
"Oh ya, katanya kamu tadi dandan, mana?" Tanya Robin sembari memperhatikan wajah Elsa.
"Sudah aku hapus, tadi aku cuma bosan, tidak tahu harus melakukan apa." Elsa berkata dengan lirih.
Hatinya benar-benar hancur setelah mendengar apa yang di katakan Bu Anita padanya yang mengingatkan Elsa betapa hancurnya hidup Elsa, harga diri Elsa dan tentang masa lalunya yang begitu kelam.
"Sebagai ibu, aku ingin wanita baik-baik untuk putraku. Aku ingin memastikan dia bersanding dengan wanita yang tepat, bukan wanita yang penuh dengan masa lalu kelam. Aku tahu semua tentangmu, termasuk bagaimana egoisnya kamu meninggalkannya calon suamimu di malam pernikahan kalian hanya demi sebuah pemotretan dan aku takut Robin akan merasakan apa yang mantan tunanganmu rasakan, tidak di hargai."
Elsa menelan makanannya dengan susah payah, rasanya begitu sulit, bahkan makanan yang awalnya terlihat menggiurkan itu kini terasa pahit di tenggorokannya. Tentu saja karena ia sedang berada dalam keadaan yang begitu pahit.
"Els, akhir minggu nanti, kita ke Villa, yuk! Biar kamu tidak sumpek di sini terus, aku juga butuh menenangkan diri setelah bekerja setiap hari," tukas Robin dengan serius.
"Ide bagus," kata Elsa sambil tersenyum.
"Ide bagus, Rob. Aku memang ingin menghabiskan banyak waktu bersamamu sebelum anak ini lahir, karena setelah dia lahir, aku akan pergi dan tidak akan pernah kembali. Mungkin mamamu benar, aku wanita egois dan tidak pantas untukmu."
Tbc...
Emosi? Jangan dulu, janji deh, nanti bakal happy.
Btw, sambil nunggu eps happynya, mampir sini dulu ya.
Judul: Penjara Cinta Untuk Stella
Penulis: Rini Sya
Stella ditalak sang suami, usai dia melakukan malam pertama.
Keadaan ini membuat orang tua Stella tidak terima dan mengusir wanita cantik itu dari rumah.
Bukan hanya diusir, Stella juga dihajar hingga hampir kehilangan nyawa.
Beruntung, takdir baik masih berpihak padanya.
Dalam keadaan antara hidup dan mati itu, Stella dipertemukan dengan seorang pemuda baik hati yang diam-diam menaruh hati padanya.
Mungkinkah Stella mau menerima cinta pemuda tersebut? Ataukah dia masih mengharapkan cinta pertamanya🥰🥰