
"Elsa kemana ya? Katanya lapar," gumam Bi Sum yang masih sibuk memperrsiapkan menu makan malam. Bi Sum yang mengira Elsa mungkin di kamarnya pun hendak menyusul namun ia berpapasan dengan Siti.
"Mau kemana, Bi?" tanya Siti.
"Mau panggil Elsa, dia belum makan dan katanya lapar," jawab Bi Sum.
"Tapi Elsa tidak ada kamarnya, Bi," ujar Siti yang membuat Bi Sum mengernyit bingung.
"Ati dimana?" tanya Bi Sum kemudian.
"Lagi mandi," jawab Siti kemudian ia berjalan melewati Bi Sum yang tampak semakin bingung. Bi Sum pun segera bergegas ke kamar Robin karena tadi Elsa pergi ke kamar Robin dan setelah itu Elsa tidak kembali. Bi Sum juga teringat tadi Robin tampak sangat kacau, Bi Sum khawatir Robin akan melampiaskannya pada Elsa.
Sesampainya di depan kamar Robin, Bi Sum pun mengetuk pintu kamar Robin.
"Den Robin!" seru Bi Sum.
Sementara di dalam, Robin yang baru saja melepas lelah akibat pergulatan ranjangnya sangat terkejut saat mendengar suara Bi Sum. Robin langsung menyingkir dari atas tubuh Elsa dan Robin pun langsung panik saat melihat Elsa yang memejamkan mata.
"Elsa!" lirih Robin sembari menepuk pelan pipi Elsa namun Elsa tak meresponnya, membuat Robin semakin cemas.
"Oh Tuhan, apa yang sudah aku lakukan," gumam Robin panik. Ia langsung menarik selimut dan menutupi tubuh polos Elsa, Robin melotot sempurna saat melihat tanda merah yang ia tinggalkan di sepanjang leher dan dada Elsa, bahkan sisa cairan kental Robin itu masih menempel di paha dalam Elsa.
"Den Robin..." kembali terdengar suara Bi Sum dari luar yang membuat Robin kembali terlonjak kaget.
"Ada apa?" teriak Robin yang kini mengedarkan pandangannya, mencari pakaian Elsa yang terkoyak dan tergelatak di lantai, Robin pun memungut pakaian Elsa satu persatu dengan tangannya yang gemetar. Robin tak pernah ingin melakukan hal seperti ini, bahkan tak pernah terbersit dalam benaknya sedikitpun.
"Tidak ada!" seru Robin membentak.
"Oh, baiklah, Den Robin," kata Bi Sum dan Robin mendengar langkah kaki yang kini menjauh dari depan kamarnya.
Robin menyimpan semua pakaian Elsa ke dalam lemarinya, kemudian ia menarik kaos secara asal untuk ia pakaikan pada Elsa.
"Ya Tuhan, apa yang sudah aku lakukan." Robin menggumam frustasi, ia duduk di sisi Elsa, menatap Elsa dengan begitu sendu.
"Maafkan aku, Els." Robin berkata penuh penyesalan, ia merapikan rambut Elsa yang berantakan di sekitar wajahnya, ia membekali pipi Elsa dengan lembut.
Robin bergegas ke kamar mandi, ia mengambil handuk, membasahinya kemudian ia membersihkan tubuh Elsa dengan handuk itu. Robin melakukannya dengan begitu teliti dan hati-hati, seolah ia takut Elsa terganggu dengan pergerakannya.
Robin membuka paha Elsa dan ia pun membersihkan cairan yang lengket disana, Robin menggeram saat tatapannya menatap sesuatu yang sangat indah dan menggoda, seolah memanggil Robin namun Robin mengenyahkan segala godaan hasrat itu.
Setelah memastikan tubuh Elsa bersih, Robin memakaikan kaos miliknya yang tentu kebesaran di tubuh mungil Elsa.
"Maafkan aku, Els." lirih Robin untuk yang kesekian kalinya kemudian ia kembali menyelimuti Elsa.
Robin duduk di tepi ranjang, membelakangi Elsa, ia menarik rambut nya dengan kasar saat ia kembali terbayang apa yang sudah ia lakukan beberapa menit yang lalu.
"Agh, sial!!!" geram Robin