After Darkness

After Darkness
Episode 164



Satu minggu kemudian....


Elsa hanya bisa menahan sesak di dadanya sembari meremas undangan pernikahan di tangannya, ia meremasnya, bahkan kemudian merobeknya dengan kesal.


Elsa tidak mengerti apa yang ada dalam otak Robin yang justru mempercepat pernikahannya dengan Mayra sedangkan Elsa saat ini masih berada di rumah sakit hanya di temani kedua orang tuanya.


"Terima kasih, terima kasih sudah melahirkan putraku dan Mayra."


Kata-kata itu seperti kaset rusak yang terus berputar tanpa henti di benak Elsa, ia seolah terus mendengarnya dan Elsa ingin berteriak marah, namun pada siapa? Ia sendiri yang menyerahkan putranya pada perempuan lain bahkan sebelum dia lahir, tapi rasanya ternyata lebih menyakitkan dari yang Elsa bayangkan.


Dunianya hancur, dan jangan tanya lagi hati serta fikirannya. Benar-benar kacau, air mata Elsa bahkan seolah sudah mengering karena ia terus menangis sejak seminggu yang lalu.


Seminggu yang lalu ia melahirkan. Seminggu yang lalu ia kembali merasa jatuh cinta saat melihat wajah putranya namun itu adalah pertama dan terakhir kalinya ia melihat putranya karena setelah Elsa melihatnya, Robin membawanya pergi, memindahkannya ke rumah sakit lain dan tidak memberi tahu Elsa.


Elsa memohon agar ia melihat putranya, menyusuinya, namun Robin tidak memperdulikan hal itu.


Dan hari ini, sebuah undangan pernikahan datang padanya. Seolah Robin ingin menyelesaikan hidup Elsa, ingin menutup kisah hidup Elsa dengan kepedihan dan kehancuran yang bahkan tak pernah Elsa bayangkan.


"Sudahlah, semua sudah berakhir...." Bu Isna mengambil undangan pernikahan itu dari tangan Elsa kemudian ia melemparnya ke tempat sampah.


Bu Isna dan Pak Malik merasa begitu kasihan pada Elsa, apalagi mereka menyaksikan bagaimana Elsa menangis selama seminggu ini, bagaimana Elsa frustasi. Namun mereka tak tahu harus melakukan apa selain terus mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.


"Iya, Sa. Kamu yang sabar ya, Nak." Pak Malik mengusap pundak putrinya yang tampak benar-benar hancur itu. "Papa yakin kamu kuat, kamu pasti bisa melewati semua ini." lanjutnya. Elsa tak merespon, bibirnya terkatup rapat, matanya memerah dan tangannya mengepal kuat.


Sementara Bu Isna kini sibuk membereskan barang-barang Elsa karena hari ini Elsa sudah di perbolehkan pulang, mereka akan pulang ke rumah Elnaz, tinggal disana sampai Elsa benar-benar pulih baru setelah itu akan pulang ke kampung halamannya. Elnaz juga sudah tahu apa yang terjadi pada kakaknya itu, ia sangat terkejut, dan Elnaz berkata pada Elsa pantas saja selama ini Robin tak lagi mau berteman dengannya.


"Ayo, Sa. Sudah waktunya kita pulang," kata Bu Isna kemudian.


Elsa masih tak merespon, seolah ia tak mendengar suara apapun hingga akhirnya ayahnya kembali mengusap pundak Elsa.


Bu Isna yang melihat hal itu juga menangis, ia tahu bagaimana rasanya berpisah dari buah hati, ia tahu bagaimana sakitnya itu.


"Kamu pasti bisa melewati semua ini, Sayang. Kamu pasti bisa."


...... ...


Sementara itu, Robin kini berada di sebuah kamar hotel. Tempat dimana ia akan melangsungkan pernikahannya dengan Mayra, dan Robin juga membawa putranya ke hotel ini.


Ia menatap sang putra yang kini tertidur pulas di tengah ranjang setelah di beri susu oleh neneknya. Saat Robin merasa sedih, maka ia akan langsung menatap sang putra dan seketika kesedihannya lenyap begitu saja.


Putranya yang belum ia beri nama itu di tempatkan di inkubator hanya tiga hari, karena kondisinya berangsur membaik dengan sangat cepat. Dan setelah keluar dari rumah sakit, Bu Anita merawatnya dengan sangat baik.


"Rob...." Robin menoleh mendengar suara mamanya yang kini berjalan mendekatinya sembari membawa jas yang akan di pakai Robin nanti.


"Ini jasnya," Bu Anita meletakkan jas itu di ranjang dengan rapi. Kemudian ia juga menatap cucunya yang sangat tampan itu sambil tersenyum. "Astaga, setelah kenyang dia jadi nyenyak sekali," ucapnya.


"Iya, Ma. Untung saja tidak rewel," jawab Robin.


"Bayi itu hanya akan rewel kalau dia sakit atau popoknya penuh, Rob," tukas Bu Anita kemudian ia mengecup sang cucu dengan gemas.


"Ya udah, Mama keluar dulu. Kamu siap-siap ya."


"Hem."


Tbc....