After Darkness

After Darkness
Episode 45



"Belum mengalami bukan berarti tidak tahu," jawab Elsa.


"Aku tahu cinta itu perasaan yang sulit di kendalikan, tapi jangan bodoh juga. Otak itu harus di pakai untuk menjaga hati,"


Robin tersenyum miring mendengar ucapan Elsa, tak menyangka wanita ini bisa berfikiran demikian. Di tengah asyiknya mengintip Elsa, tiba-tiba Bi Sum datang mengangetkan Robn.


"Katanya mau ke kantor, Den,"


"Agh!" pekik Robin yang terdengar oleh Elsa dan Bu Anita.


"Hem, sepertinya Den Robin sudah pulang, Nyonya. Biar saya siapkan makan untuk dia dulu," kata Elsa sambil melemparkan senyum manisnya yang tentu saja membuat Bu Anita semakin merasa heran.


Elsa meninggalkan Bu Anita dan ia menghampiri, tak lupa masih dengan senyum manis di bibirnya.


"Selamat siang, Den Robin." sapa Elsa "Mau saya siapkan makan siang?" tanya Elsa masih mempertahankan senyumnya.


"Tidak!" jawab Robin tegas kemudian ia melangkah melewati Elsa, bahkan Robin dengan sengaja menyenggol bahu Elsa. Elsa hanya menahan senyum kemudian ia menatap Bi Sum sambil mengedikan bahunya.


"Oh ya, ini ponsel dari Den Robin," kata Bi Sum sembari memberikan paper bag nya pada Elsa. Dengan antusias menerimanya, ia langsung mengeluarkan paper bag itu dan Elsa melongo saat melihat isinya.


"Astaga, ini kan sangat mahal," gumam Elsa.


"Apa dia salah beli, atau jangan-jangan ini second," ia kembali menggumam sambil mengembungkan pipinya.


"Tidak mungkin second, Sa. Masak iya Den Robin beli hp second, bikin malu," kata Bi Sum sementara Elsa kini membuka kotak hp itu, dan benar saja, itu ponsel baru.


"Wah, bagus ya, Sa," kata Bi Sum namun Elsa tidak terlihat senang.


"Den Robin!" seru Elsa dan Robin pun menoleh "Ini, aku tidak mau menerima ponsel semahal ini," kata Elsa sembari meletakkan ponselnya di atas meja.


"Ponsel apa?" tanya Bu Anita menatap Robin penuh tanda tanya.


"Aku merusak ponsel Elsa, Ma. Jadi aku menggantinya," jawab Robin dengan tenang.


"Tapi aku tidak mau ponsel ini, aku mau ponsel yang sama seperti ponselku!" tegas Elsa yang membuat Robin langsung memelototinya.


"Apa kamu tidak bisa hanya mengucapkan 'terimakasih'?" desis Robin "Aku sudah buang waktu, uang dan tenaga untuk membeli ponsel jadi sebaiknya terima saja ponsel ini, Els!" seru Robin.


"Kamu fikir aku tidak tahu apa maksud kamu memberikan ponsel semahal ini untukku, eh?" geram Elsa "Kamu pasti punya niat terselubung," tukas Elsa yang membuat Robin tersenyum sinis.


"Aku berbuat baik, bukannya mengucapkan terima kasih malah di curigai, se-kotor itu otakmu ternyata," ujar Robin yang membuat Elsa teringat bahwa ia harus bersikap sangat baik dirumah ini.


Sudut bibir Elsa tertarik, membentuk sebuah senyum manis yang membuat hati Robin berdebar. Apalagi tatapan mata Elsa yang kini berubah seolah berbinar.


" Em, iya juga. Ponselnya bagus kok, terimakasih ya," kata Elsa yang membuat Robin langsung mengerutkan keningnya, merasa aneh dengan perubahan sikap Elsa dalam waktu yang sangat cepat.


"Ya sudah, saya permisi dulu, mau telpon orang rumah." lanjutnya kemudian Elsa meninggalkan Robin dan Bu Anita dengan cepat. Saat berbalik badan, senyum Elsa yang tadi mengembang manis kini langsung musnah, tatapan matanya yang tampak berbinar pun berubah menjadi tatapan yang tajam.


Yeah, Elsa tidak suka dengan ponsel baru ini, karena Elsa sangat yakin Robin sengaja membelikan ponsel mahal untuk menarik perhatian Elsa.


"Semua pria sama saja, mengira wanita bisa di beli dengan materi."