
"Aku ingin bercerai baik-baik, aku tidak mau ada perebutan harta gono-gini maupun yang lainnya. Aku hanya ingin secerpatnya berpisah dan ingin segera memulai hidup baru bersama Robin. Alasan perceraianku sangat jelas, buktinya pun sangat kuat." Robin tersenyum senang karena Mamanya sudah bertekad kuat, bahkan ia sendiri yang berbicara dengan pengacara untuk mengurus perceraiannya.
"Aku mengerti, Bu Anita. Tapi berhubung Pak Andrew masih sakit, dan dia bahkan belum bisa bicara, tentu ini tidak akan menjadi perceraian yang mudah. Dan soal harta, sebagai putra tunggal, tentu sebagian besar harta itu akan menjadi milik Robin apalagi dia sudah dewasa,"
"Papa sebentar lagi pasti akan sembuh, Pak. Dan dia hanya harus menyetujui gugatan cerai Mama," sambung Robin.
"Secepatnya aku akan mengurus semua ini, Rob. Jangan khawatir,"
...
"Positif?" gumam Elsa yang melihat dua garis biru di tes peck yang ada di tangannya "Tidak mungkin, bagaimana ini?" gumamnya, ia begitu cemas, panik, memikirkan hidupnya yang akan hancur.
"Sa..."
"Elsa...!"
"Bangun, Sa!"
"Agghh!" Elsa terlonjak kaget dan langsung beranjak dari ranjangnya, Elsa menatap ke sekelilingnya. Dan baru menyadari apa yang terjadi sebelumnya adalah mimpi, Elsa bahkan memegang perutnya yang masih rata. Sementara Mamanya hanya bisa melongo melihat reaksi putrinya itu.
"Ada apa? Kamu kenapa?" tanya Bu Isna.
"Tidak apa-apa, Ma. Cuma emm tadi aku mimpi buruk," ucap Elsa sembari menekan perutnya.
"Ya Tuhan, semoga aku tidak hamil. Apa yang harus aku katakan pada orang tuaku nanti? Aku mohon, kali ini saja, lindungi aku,"
"Mungkin kamu kelelahan," kata Bu Isna kemudian.
"Iya, Ma. Mungkin saja," gumam Elsa.
"Ini sudah sore, kamu belum makan sejak tadi."
"Mama sudah masak?"
"Iya, aku cuci muka dulu, nanti aku nyusul." Bu Isna hanya mengangguk kemudian ia bergegas keluar dari kamar Elsa.
Elsa langsung menghela nafas panjang, ia mengusap dadanya yang berdebar. Ketakutan akan kehamilan setelah apa yang Robin lakukan memang sangat besar dalam dirinya, tentu karena Elsa tidak mau mengecewakan keluarganya untuk kedua kalinya.
...
"Dia sebenarnya tinggal dimana? Aku harus cari kemana?" gumam Rion sembari menatap layar ponselnya yang tertera kontak Elsa. Rion masih sangat penasaran dengan Elsa yang seperti orang misterius.
"Tunggu, dulu dia punya manager 'kan? Siapa namanya ya?" Rion segera membuka Internet dan mencari tahu foto Elsa yang tentu masih tersebar di internet. Namun sayangnya Rion tidak mendapatkan informasi apapun.
Rion melirik arlojinya, jam sudah menunjukan pukul 5 sore. Rion pun segera keluar dari ruangannya.
"Aku harus kembali ke hotel dan memeriksa cctv disana, siapa sebenarnya yang menjemput Elsa."
"Tidak ada yang menjemput Elsa!" Rion tersentak mendengar suara Robin yang tiba-tiba sudah ada di depannya.
"Pak Robin?" gumam Rion.
Setelah menemui pengacaranya, Robin dan Mamanya memang mampir ke restaurant, karena suda lama sekali Bu Anita tidak mampir ke restaurantnya yang dulu ia rintis bersama dengan sang suami.
"Pak Robin ada di sini?" tanya Rion kemudian.
"Aku mau kamu tidak perlu menghubungi Elsa lagi," ucap Robin kemudian yang tentu saja membuat Rion terkejut.
"Maksudnya?" tanya Rion.
"Aku bilang, jangan mencoba menghubungi Elsa lagi, Rion. Atau kamu akan berurusan denganku!" tegas Robin yang tentu saja membuat Rion hanya bisa melongo.
"Tapi apa hubungannya sama Pak Robin?" tanya nya kemudian.
"Karena dia calon istriku,"