
"Tahu gini, seharusnya aku racun saja kue ulang tahun Mama mu itu. Biar kalian semua mati!"
Robin terperangah mendengar ucapan Elsa, ia menatap tajam wanita cantik di depannya yang saat ini sedang meringis sambil meniup lengannya.
"Kamu mau meracuni kami?" desis Robin.
"Iya, sayangnya di dapur tidak ada stok racun karena kamu sudah memakai racun itu untuk meracuni ayahmu" jawab Elsa santai yang membuat emosi Robin semakin menjadi.
"Jaga mulut mu, Els!" geram Robin "Ka..." ucapan Robin terhenti saat ponsel yang ada dalam saku nya bergetar. Ia menatap tajam Elsa sembari merogoh ponselnya itu, tertera nama Joanna di layar smartphone miliknya.
"Halo..." ketus Robin setelah ia menjawab panggilan Joanna namun tatapannya masih tertuju pada Elsa sementara Elsa hanya mendelik dan berkata...
"Ponselku di hancurin, tanganku di siram kopi panas. Dan tidak ada tanggung jawab sama sekali, laki laki apa bukan sih kamu ini, eh?" seru Elsa kesal.
"Sa..." bisik Bi Sum memberi isyarat agar Elsa tidak semakin memancing emosi Robin.
"Aku akan di sana satu jam lagi..." kata Robin pada Joanna kemudian ia memutuskan sambungan telfonnya.
"Kamu bilang apa tadi?" tanya Robin kemudian pada Elsa, ia melangkah mendekati Elsa namun Bi Sum langsung menghalanginya.
"Biar Bibi yang mengurus Elsa, Den Robin. Den Robin pergi saja bekerja" kata Bi Sum karena ia tak ingin mendengar keributan lagi antara dua anak muda ini.
"Siti, ambilkan salep" kata Robin dan Siti pun segera mengambil salep khusus untuk mengobati luka bakar maupun terkena air panas. Siti memberikan salep itu pada Robin, Robin pun menerimanya dan tatapannya masih tertuju tajam pada Elsa.
"Tidak usah, aku bisa sendiri" kata Elsa ketus yang berfikir Robin akan membantunya memberikan salep pada lengannya. Robin yang mendengar ucapan Elsa justru tersenyum miring, kemudian ia mengeluarkan isi salep itu dan membuangnya ke lantai. Membuat Elsa, Bi Sum dan kedua dayangnya menganga.
"Den Robin, itu stok terakhir" lirih Siti tak percaya.
"Bagus!" seru Robin tersenyum puas "Biar saja lengannya membusuk!" lanjutnya kemudian ia pergi meninggalkan dapur, meninggalkan para pelayan itu tercengang.
"Gila, kamu bener-bener gila!" seru Elsa dengan emosi yang meluap.
.........
Di tinggalkan sang istri tidak membuat hidup Jimmy hancur apalagi sedih, ia sudah punya pekerjaan yang mapan, apartement yang sangat nyaman dan juga ia masih bisa mencari pendamping hidup yang lain. Yah, itulah yang ia selalu fikirkan.
Saat ini Jimmy sedang melakukan pemotretan dengan model pendatang baru, yang masih polos dan sangat mudah di manipulasi oleh Jimmy apalagi model itu benar benar haus dengan popularitas. Hal itu mengingatkan Jimmy pada Elsa.
"Bagaiamana kabar dia sekarang ya?" gumam Jimmy, ia teringat dengan malam yang pernah ia habiskan dengan Elsa. Jimmy tak bisa melupakannya, baginya Elsa adalah wanita yang sangat cantik, menarik. Dan meskipun Elsa juga bisa di manipulasi, namun Elsa tidak murahan seperti wanita yang sering Jimmy goda.
"Kalau saja aku bisa bertemu dengan dia lagi, aku pasti akan mendapatkannya, aku akan menjadikan dia milikku. Pengganti Hannah, dia lebih cantik, lebih seksi, lebih menarik dan yang pasti di ranjang dia lebih menggairahkan"