
"Katanya, kau membayarkan makanannya dalam rangka modus alias modal dusta dan dia meminta saya menyampaikan pada Pak Rion kalau dia bukan korban yang tepat"
Rion menganga mendengarkan laporan dari bawahannya tentang Elsa yang menolak keras makanannya di bayarkan. Dan apa tadi dia bilang? dalam rangka modus alias modal dusta? dan Elsa bukan korban yang tepat?
Rion tak habis fikir kenapa bisa ada wanita yang berfikiran seperti itu saat ada yang berniat baik padanya.
"Jadi dia benar-benar membayarnya sendiri?" tanya Rion sekali lagi ingin memastikan.
"Iya, Pak" jawab bawahannya itu pasti.
"Aneh sekali, aku fikir setidaknya dia bisa mengucapkan terima kasih" gumam Rion yang kemudian justru tersenyum samar "Dia membuatku merasa penasaran"
.........
Sesampainya dirumah, Bi Sum langsung menanyakan keadaan Bu Anita pada Siti dan Ati.
"Dia marah karena kalian pergi tanpa izin" kata Ati berbohong yang tentu saja membuat Bi Sum langsung merasa bersalah. Padahal niat Ati ingin menyinggung Elsa yang menurutnya tidak tahu diri sebagai pembantu.
"Ck, Memangnya kalian tidak bilang kenapa kami pergi tanpa pamit? Dia sendiri masih ngorok tadi pagi, kalau di bangunin nanti ganggu tidurnya dan dia pasti marah" tukas Elsa kesal.
"Iya sih" gumam Ati membenarkan.
"Makanya, kalian kalau di marahin itu tidak usah sedih. Serba salah di mata bos itu hal biasa, jadi jangan baper. Tidak usah di bawa perasaan itu omelan Nyonya. Anggap saja angin lewat, kalau kalian baper ya jangan bekerja sama orang. Jadi bos saja sendiri" tukas Elsa panjang lebar dengan ketus nya kemudian ia bergegas ke kamarnya, meninggalkan Ati dan Siti menganga lebar.
"Benar, sombong sekali. Dia juga pembantu, bekerja sama orang" sambung Ati. Sementara Bi Sum sudah bergegas ke kamar Bu Anita untuk meminta maaf dan juga untuk memberi tahu alasan dia pergi tanpa pamit.
Sesampai nya di depan kamar Bu Anita, Bi Sum langsung mengetuk pintu dan tak lama kemudian pintu terbuka.
"Nyonya, saya..."
"Bagaimana keadaan Elsa?" pertanyaan Bu Anita itu berhasil membuat Bi Sum terperangah, ia merasa salah dengar namun kemudian Bu Anita bertanya "Tidak parah, kan? Sudah di obati?" tanya nya lagi yang membuat Bi Sum tercengang namun kemudian ia tersenyum samar.
Sekarang Bi Sum tahu, dua wanita ini memang terlihat penuh amarah, benci bahkan dendam. Namun ternyata masih ada kebaikan dan keperdulian di hati mereka.
" Tidak, Nyonya. Tadi Den Robin langsung menyiram lengan Elsa, jadi luka nya tidak terlalu parah" kata Bi Sum kemudian.
"Baiklah, aku mau turun. Bantuin ya, Bi" kata Bu Anita dan ia tidak terlihat marah sama sekali seperti yang di tuduhkan Ati, Bi Sum menduga dayangnya itu pasti bohong.
Bi Sum memanggil Ati dan Siti untuk membantu Nyonya mereka turun dari tangga, dan memang sepertilah setiap kali ia mau naik turun dari tangga. Selalu membutuhkan orang lain, membuat Bu Anita semakin merasa sedih karena ia merasa sangat lemah.
Sementara itu, Elsa menggunakan telfon rumah untuk menghubungi orang tua nya namun baik Mama maupun Papanya tetap tidak ada yang menjawab.
"Uff, mereka kemana ya?" gumam Elsa. Ia pun meletakkan kembali gagang telfon itu namun kemudian ia teringat dengan adiknya. Elsa sangat penasaran dengan kondisi Elnaz, tapi ia benar-benar merasa malu untuk berbicara dengan Elnaz.
"Coba deh" gumam Elsa sembari mencoba menghubungi nomor ponsel adik yang sempat ia benci itu.