After Darkness

After Darkness
Episode 75



"Aku tidak tahu siapa yang tinggal di apartement itu, tapi ponsel Elsa terlacak disana, jadi cepat ambilkan barang-barang dia sekarang!" titah Robin pada seseorang yang saat ini sedang berbicara di telfon dengannya.


"Dan ingat, jangan sampai ada yang tertinggal!"


Setelah berbicara dengan orang itu, Robin melemparkan ponselnya ke tengah ranjang kemudian di susul dengan tubuhnya yang terasa begitu letih.


.........


Kini Pak Andrew bukan hanya bisa menggerakkan jari-jemarinya, namun ia juga mulai bisa menggerakkan tangan dan kakinya. Tentu saja hal itu membuatnya sangat senang karena beberapa hari ini Robin memang tak lagi memberinya obat yang dimana setiap kali meminum obat itu, Pak Andrew merasa lemas tak bertenaga.


Sementara Bu Anita kini justru terlihat sangat berbeda sejak Robin mengatakan Elsa bukanlah simpanan Pak Andrew, Bu Anita lebih sering merenung dan ia mengingat kembali masa-masa bahagia yang dulu pernah ia lewati bersama sang suami. Air mata Bu Anita seketika terjatuh membasahi pipinya dan isak tangis tak bisa lagi ia bendung. Dan hal itu menarik perhatian Pak Andrew, ia pun menoleh, menatap istrinya yang kini menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Perlahan tangan Pak Andrew terulur, ia menyentuh lengan sang istri yang membuat Bu Anita terkejut dan langsung menatap Pak Andrew dengan kedua mata yang terbuka lebar.


"Ma_ Mas?" lirih Bu Anita tak percaya, Pak Andrew menatap istrinya itu dengan begitu sayu, seolah ia ingin mengatakan sesuatu, bahkan Pak Andrew juga meneteskan air matanya.


"Bagaiamana bisa?" gumam Bu Anita.


"Aa..." Pak Andrew membuka mulutnya namun sayangnya ia masih tak mampu mengucapkan sepatah kata pun.


"Robin...!" teriak Bu Anita kemudian sambil menangis.


"Robin...!" teriaknya lagi, namun karena tak ada jawaban, Bu Anita pun segera menymbar ponselnya dan menghubungi Robin.


...


Robin yang saat ini rebahan di atas ranjangnya sembari terus memikirkan Elsa di kagetkan dengan dering ponselnya, ia mengernyit bingung saat tahu yang menelfon itu ternyata Mamanya. Robin dengan cepat menjawabnya karena ia khawatir dengan keadaannya.


"Halo, Ma. Ada apa?" tanya Robin dengan cemas.


"Ke kamar Mama sekarang, Rob. Papa mu sudah sembuh." Robin terkejut mendengar apa yang di katakan Mamanya itu, Robin teringat dengan obat yang seharusnya ia selalu berikan pada Papanya namun beberapa hari ini Robin lupa memberikannya, Robin pun segera mengambil obat itu yang ia simpan di dalam lemarinya dan tanpa berkata-kata lagi, Robin langsung bergegas ke kamar orang tuanya.


Sesampainya di sana, Robin tentu sangat terkejut melihat Papanya yang kini memegang lengan Mamanya.


"Papa?" gumam Robin, langsung naik ke atas ranjang dan hendak mencekoki ayahnya dengan obat namun Pak Andrew menutup mulutnya rapat-rapat dan ia menggelengkan kepalanya, Pak Andrew menatap Robin dengan memelas namun Robin hanya memperlihatkan kemarahannya pada sang ayah. Hingga tiba-tiba sebuah suara menghentikan aksinya.


"Robin...!" Robin langsung menoleh dan ia mendapati Elsa yang berdiri di ambang pintu. Robin sangat terkejut, begitu juga Elsa yang sangat terkejut dengan kelakuan Robin.


"Kamu? Bukannya kamu sudah pergi?" geram Bu Anita yang tak percaya melihat Elsa di rumahnya namun Elsa tak memperdulikan apa yang di katakan Bu Anita, Elsa berjalan masuk dan ia merebut obat yang dipegang Robin.


"Astaga, Robin. Kamu mau menjadi pembunuh ayahmu sendiri?" tanya Elsa "Kamu benar-benar mau jadi monster?" tanya lagi yang membuat Robin terhenyak. Apalagi ketika entah kenapa Elsa justru meneteskan air matanya, membuat hati Robin seperti tercubit.


"Jaga mulut kamu, Elsa!" seru Bu Anita yang tentu saja tak terima anaknya di panggil monster.


"Apanya yang harus di jaga, huh?" teriak Elsa "Kalian bilang aku wanita murahan, seolah kalian manusia yang suci. Tapi ternyata? Kalian seorang kriminal, kalian penjahat!" benak Elsa pada Bu Anita yang tentu saja membuat Robin terpancing emosinya.


"Jangan membentak mama, Elsa!" desisnya tajam.


"Kamu sama Mama kamu saja, Robin. Sama-sama jahat, sama-sama monster, dimana hati nurani kalian?" Elsa juga mendesis tajam.


"Ini urusan keluarga kami, kamu tidak berhak ikut campur!" benak Robin yang membuat Elsa terkesiap dan ia pun langsung mengatupkan mulutnya rapat-rapat "Sekarang serahkan obat itu..." Robin menadahkan tangannya pada Elsa, namun Elsa menggeleng dan menggenggam obat itu dengan kuat.


"Elsa, jangan sampai aku berlaku kasar lagi!" Robin kembali mendesis tajam.


"Bukan begini caranya menyelesaikan masalah keluarga, Rob," ucap Elsa dengan lembut. Ia menatap tepat di mata Robin, membuat jantung Robin langsung berdebar.


"Kamu hanya menambah masalah, bukan begini caranya," ucap Elsa lagi dan tanpa di sangka, tangannya terulur dan menyentuh lengan Robin, membuat Robin terkesiap, Elsa menarik tangan Robin agar Robin turun dari ranjang, Bu Anita yang melihat itu hanya tercengang, karena Robin seolah patuh pada Elsa. sementara Pak Andrew, ia kembali menangis, ia menatap Elsa dan menggerakan tangannya seolah meminta sesuatu.


"Kertas?" tebak Elsa dan Pak Andrew langsung mengangguk, Elsa pun dengan cepat membuka laci dan ia mengambil kertas yang ada di sana


'Apa yang kamu lakukan, Elsa? " geram Bu Anita yang melihat Elsa memberikan kertas dan pena pada Pak Andrew. Elsa tak menghiraukan ucaoan Bu Anita sedikitpun, sementara Robin yang tahu apa yang akan di lakukan ayahnya hanya diam saja, karena ia pun ingin tahu tentang kebenaran hubungan Elsa dan ayahnya. Dan benar saja, Pak Andrew menuliskan bahwa ia tidak ada hubungan apapun dengan Elsa.


"Lihat ini!" seru Elsa dan memperlihatkan kertas itu pada Bu Anita, Bu Anita pun sangat terkejut namun kemudian ia menggeleng, menolak fakta itu.


"Tidak mungkin, kalian pasti bohong!" seru nya.


"Memang apa untungnya aku bohong?" teriak Elsa marah dan ia juga memperlihatkan apa yang di tulis pak Andrew pada Robin.


"Kamu masih tidak percaya?" tanya Elsa dan Robin tak bisa menjawabnya.


"Sekarang kembalikan barang-barang ku dan pulangkan aku malam ini juga!"