After Darkness

After Darkness
Episode 98



"Iya, Ma. Aku sudah mulai bekerja, Mama jangan khawatir." Elsa tersenyum masam saat ia harus kembali berbohong pada orang tuanya.


Saat ini Elsa rebahan di sofa sembari memakan roti yang di belikan Robin dan ia benar-benar tidak memakan apapun selain roti itu.


"Oh ya, karena kamu ada di Jakarta, apa kamu tidak mau menemui Elnaz, Sa?" Tanya sang Mama.


"Mungkin nanti, Ma. Kalau aku ada waktu," jawabnya lemas. Elsa memegang kepalanya yang terasa sakit dan pusing, matanya bahkan berkunang-kunang. "Ma, sudah dulu ya, aku mau mandi," bohong Elsa kemudian karena rasanya ia sudah tidak punya tenaga untuk berbicara.


"Iya, besok Mama telfon lagi, ya"


"Hm," Elsa langsung meletakkan ponselnya di meja. Kemudian beranjak untuk pindah ke kamarnya namun baru satu langkah, Elsa langsung jatuh pingsan.


.........


Sepulangnya dari kantor, Robin tak sengaja melihat orang yang menjual mangga dan itu mengingatkannya pada Elsa, karena biasanya wanita yang hamil muda suka dengan mangga muda. Robin pun membeli mangga itu dengan antusias dan ia yakin Elsa akan suka.


Sesampainya di apartement, Robin mengernyit bingung karena lampu masih mati padahal hari sudah petang. Robin pun menyalakan lampunya dan Robin sangat terkejut melihat Elsa yang tergeletak tak sadarkan di lantai.


"Elsa..." Pekik Robin panik, ia melempar kresek yang berisi mangga itu dan ia langsung menggendong Elsa. "Astaga, kamu demam," gumam Robin cemas saat merasakan suhu tubuh Elsa yang sangat panas.


Robin segera membawa Elsa ke kamarnya, setelah itu ia langsung memanggil Dokter untuk memeriksa keadaan Elsa.


Sembari menunggu Dokter, Robin mengompres kening Elsa, berharap itu bisa menurunkan demam Elsa.


"Kenapa kamu jadi sakit begini sih, Els," gumam Robin, tatapannya menunjukkan kecemasannya yang mendalam, apalagi ia melihat Elsa yang sangat pucat. Elsa bergerak gelisah, kelopak matanya bergerak seolah Elsa ingin membuka mata namun tak bisa.


"Dingin..." lirih Elsa namun masih dengan mata yang terpejam.


"Dingin? Kamu dingin?" Tanya Robin, ia menarik selimut dan menutupi tubuh Elsa kemudian Robin merapikan rambut Elsa yang tampak menganggu wajahnya.


"Kepalaku sakit," rengek Elsa yang masih tak membuka mata. Keningnya berkerut dalam, seolah ia benar-benar merasakan sakit yang teramat sangat.


"Tahan sebentar, ya. Sebentar lagi Dokter datang," ucap Robin yang kini mulai memijat pelipis Elsa dengan lembut.


"Aku benar-benar pusing, kepalaku sakit," racau Elsa dan tanpa sadar ia meneteskan air matanya.


"Ssshht, jangan menangis, sebentar lagi Dokter sampai," ucap Robin yang berusaha menenangkan Elsa sembari menghapus air mata Elsa, kemudian ia kembali memijat pelipis dan kening Elsa, hingga perlahan kerutan di kening Elsa mulai menghilang.


Tak lama kemudian Dokter pun datang untuk memeriksa keadaan Elsa.


"Bagaiamana, Dok? Apa dia baik-baik saja?" Tanya Robin yang tak bisa menyembunyikan kecemasannya.


"Ini hanya demam biasa, Pak. Tidak ada yang serius, saya akan meresepkan obat untuk menurunkan demamnya," tukas Dokter itu setelah memeriksa keadaan Elsa.


"Dia juga mengeluh sakit kepala, Dok."


"Baik, Pak. Jangan terlalu cemas, istri Anda akan baik-baik saja," tukas dokter itu sambil menuliskan resep obat untuk Elsa, Robin menarik napas panjang untuk menenangkan hatinya yang memang begitu cemas


...... ...


Elsa mengerang lirih sembari memegang kepalanya yang terasa begitu sakit, seperti seseorang menghantamnya dengan benda tumpul. Kedua mata Elsa yang sayu itu perlahan terbuka, ia mengedarkan pandangannya dan menyadari kini ia berada di kamarnya.


"Apa bocah itu kesini lagi?" Gumam Elsa mengingat sebelumnya ia berada di lantai bawah. Elsa berusaha duduk dan bersamaan dengan itu pintu terbuka, menampilkan Robin yang datang dengan membawa air, roti dan tentu obat Elsa.


"Hey, bagaimana perasaanmu?" Tanya Robin dengan lembut.


"Kepalaku benar-benar sakit, pusing, mataku berkunang-kunang," jawab Elsa tanpa sedikitpun memperlihatkan tatapan permusuhannya pada Robin.