
"Si Elsa kemana sih?" untuk yang kesekian kalinya pertanyaan itu meluncur dari bibir Bi Sum setelah ia mencari Elsa ke segala penjuru rumah, namun wanita itu tidak menampakkan batang hidungnya sedikitpun.
Hari sudah malam, di luar sana sudah gelap dan Bi Sum tidak tahu harus mencari Elsa kemana, apalagi ponsel Elsa yang masih ada dikamarnya.
"Kabur kali, Bi." Siti menimpali dengan enteng nya yang membuat Bi Sum langsung memelototinya. Tapi kemudian Bi Sum pun juga memikirkan hal yang sama mengingat Elsa sangat ingin pergi dari rumah ini sejak dulu.
.........
Selama beberapa jam, Robin masih tak bergeming di tempatnya semula, ia bahkan masih tetap memakai handuknya. Hingga akhirnya Robin merasakan pergerakan Elsa dan terdengar Erangan lirih dari mulut Elsa.
Perlahan Elsa membuka matanya, dan saat ia kembali teringat dengan apa yang terjadi, Elsa langsung menangis histeris sembari memeluk dirinya sendiri yang seketika membuat Robin langsung menoleh, Robin mencoba mendekap Elsa namun hal itu justru membuat Elsa semakin marah. Elsa mendorong Robin menjauh, ia merasa jijik di sentuh oleh pria yang telah melecehkannya.
"Aku benci kamu, aku benci!!!" teriak Elsa di tengah isak tangisnya yang semakin menjadi. Robin panik, ia takut ada yang mendengar teriakan Elsa.
"Els..." lirih Robin dan kembali ia mencoba mendekati Elsa yang kini memeluk lututnya, tubuhnya bergetar hebat, isak tangis Elsa terdengar begitu memilukan ditelinga Robin. Dengan perlahan, Robin duduk di sisi Elsa, tangannya terulur dan ia pun menyentuh pundak Elsa, Elsa langsung mendongak dan ia menarik lengan Robin kemudian Elsa langsung menggigitnya dengan kuat sambil terus menangis, Robin hanya meringis namun ia membiarkan Elsa terus menggigit lengannya, bahkan ke sepuluh jari Elsa juga menancap sempurna di lengan Robin, yang sudah pasti akan meninggalkan jejak disana.
Elsa tak perduli dengan lengan Robin yang kini terluka dan bahkan mengeluarkan darah, Elsa hanya butuh pelampiasan atas luka dan amarah yang membakar jiwanya. Air mata Elsa bahkan membasahi luka di lengan Robun dan bercampur dengan darah Robin.
Elsa berlari menuruni tangga tanpa perduli jika ada yang akan melihatnya, namun Elsa beruntung karena saat ini tidak ada siapapun di luar, para pelayan sedang sibuk menyiapkan makan malam, sementara Bu Anita sedang menonton tv di ruang tengah.
Elsa memasuki kamarnya dan ia langsung mengunci kamarnya, Elsa menatap kaos Robin yang menutupi tubuhnya, kemudian ia melepasnya dengan marah dan Elsa langsung melemparnya dengan asal.
"Aku membenci Robin!" geram Elsa sambil menghapus air matanya dengan kasar "Aku tidak akan pernah memaafkanmu, tidak akan!"
.........
"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa aku bisa bertindak seperti itu? Kenapa?" Robin bertanya pada pantulan dirinya sendiri di cermin.
"Agghh..." Robin meninju kaca dengan keras, membuat kaca itu retak bahkan pecah, dan tentu juga melukai punggung jari Robin, namun seolah tak merasakan sakit atas luka-luka itu, Robin kembali meninju dinding berkali-kali, melampiaskan segala perasaan yang berkecamuk di dadanya.
Robin teringat saat Elsa memintanya tidak 'mengeluarkannya di dalam', Robin memejamkan mata dan ia justru menyemburkan benihnya sangat banyak.
"Bagaiamana jika dia hamil?"