After Darkness

After Darkness
Episode 127



Berkali-kali Robin menguap sambil menyetir, ia bukan hanya mengantuk namun juga benar-benar lelah. Jika saja Robin di suruh memilih, bekerja seharian atau menemani Elsa belanja, maka Robin akan memilih opsi pertama.


Bukan hanya fisiknya yang lelah, tapi juga mentalnya. Bagaimana tidak lelah? Setiap barang yang akan Elsa ambil akan selalu meminta pendapat pada Robin, namun saat Robin memberikan pendapatnya, Elsa akan menolak dengan alasan ini dan itu. Dan saat Robin mengatakan terserah Elsa, maka Elsa akan beranggapan kalau Robin tidak bisa di ajak kerja sama, bahkan tidak berguna katanya.


Setelah berbelanja, mereka makan dan sekarang mereka sedang dalam perjalanan pulang apalagi hari sudah sore. Sementara Robin fokus menyetir, Elsa justru tertidur nyenyak.


"Pasti capek nih anak," gumam Robin. Ia pun mempercepat laju mobilnya ke apartment karena ia pun sudah merasa sangat lelah dan juga mengantuk.


Sesampainya di apartement, Robin tidak membangunkan Elsa karena kasihan, ia menggendong Elsa dan membawanya ke kamar Elsa.


Robin memandangi wajah Elsa, jika ia tertidur seperti ini, Elsa terlihat sangat polos, seperti malaikat, tapi jika dia bangun dan sedang dalam mood buruk?


"Dia benar-benar bahaya di saat seperti itu," gumam Robin. Saat Robin hendak keluar dari kamar Elsa untuk mengangkut belanjaan wanita itu, tiba-tiba Elsa menarik tangan Robin.


"Rob..." lirih Elsa dengan mata yang setengah terbuka.


"Hm, ada apa? kamu butuh sesuatu?" Tanya Robin dengan lembut.


"Aku butuh kamu...."


Deg


Jantung Robin seperti berhenti berdetak sesaat kemudian berpacu dengan cepat, napasnya tertahan dengan mulut yang sedikit terbuka.


Apa Elsa mengigau?


Robin baru akan menarik tangannya namun Elsa justru lebih dulu menarik tangan Robin hingga Robin hampir menimpa tubuh Elsa, beruntung Robin dengan cepat meyangga tubuhnya dengan lengannya.


"Els...." lirih Robin lagi dengan suara yang tercekat di tenggorokannya, wajahnya begitu dekat dengan wajah Elsa yang kini memejamkan mata, Robin bahkan bisa merasakan hangatnya hembusan napas Elsa yang menerpa wajahnya.


"Elsa, lepaskan aku...." bibirnya berkata demikian namun Robin tidak berusaha melepaskan diri dari Elsa. Jantungnya berdetak sangat cepat, ia meremang apalagi saat Elsa justru melingkarkan lengannya di punggung Robin.


Robin laki-laki, dan posisi seperti ini sangat tidak sehat untuk jiwa lelakinya, apalagi tatapan Elsa yang begitu sayu, seolah memanggil Robin.


Lengan Elsa bergerak naik dari punggung Robin dan berhenti di leher Robin, kemudian Elsa menarik leher Robin dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Robin.


Jiwa Robin bergetar, tubuhnya panas dingin apalagi saat ia merasakan Elsa seolah menghirup aroma di lehernya itu.


"Aku suka sekali aromamu, Robin," kata Elsa setengah sadar yang membuat Robin termangu.


Apa ia sedang bermimpi?


Namun sepertinya tidak, karena kini Elsa semakin mengendus leher Robin yang memancing sensasi geli sekaligus nikmat di tubuh Robin. Namun kemudian Elsa sadar, mungkin Elsa tidak sadar dan saat sadar nanti, wanita itu pasti marah.


"Elsa, bangun....!" Robin berkata dengan suara yang sedikit lantang.


"Aku sudah bangun," jawab Elsa yang membuat Robin tercengang. Apa dia tidak salah dengar?


"Hey, ada apa denganmu, Elsa? Kamu tidak mabuk, kan?" Robin masih berusaha menyadarkan wanita itu namun Elsa justru tersenyum di ceruk leher Robin.


"Aku merindukanmu...."


Tbc...


*Kejadian engga ya? Hemmm?


Mampir sini dulu*....