
Sesuai janji Robin, ia berkujunjng ke rumah Elnaz demi menemui Elsa dan putranya. Robin datang pagi-pagi sekali dan itu membuat Elsa sangat senang.
"Baby Arjun dimana, Sayang?" Tanya Robin sembari mendaratkan kecupan hangat di pelipis Elsa.
"Lagi di mandi'ini sama Mama, soalnya aku belum bisa," jawab Elsa kemudian membawa Robin ke kamarnya dan ternyata Baby Arjun sudah di mandikan dan saat ini Bu Isna sedang mengeringkan tubuh baby Arjun.
"Selamat pagi. Tante," sapa Robin dengan ramah.
"Selamat pagi, Rob. Kok pagi sekali?" Tanya Bu Isna.
"Iya, Tante. Aku sudah rindu dengan Baby Arjun, setelah ini aku juga mau pergi ke kantor. Jadi rasanya aku tidak akan bisa fokus kalau bekerja sebelum bertemu baby Arjun," tukas Robin panjang lebar.
Bu Isna hanya tersenyum menanggapi apa yang di katakan Robin, karena dulu suaminya juga seperti itu saat Elsa baru di lahirkan.
Dari luar, terdengar suara Arfan dan Elnaz yang sepertinya sedang bercanda. Robin pun keluar dari kamar Elsa dan pergi ke ruang tengah.
Disana, Elnaz sedang memperhatikan Arfan yang saat ini sedang menyuapi anak mereka, sesekali mereka bergurau dan tertawa bersama.
Robin tersenyum, berharap pernikahannya dengan Elsa nanti akan bahagia seperti mereka. Apalagi kisah cinta Elnaz juga tak kalah sulitnya dengan kisah cinta Robin. Semuanya berawal dari rasa sakit, namun berakhir indah dan penuh kebahagiaan.
"Rob...." Robin menoleh saat Elsa tiba-tiba menepuk pundaknya. "Kamu pasti belum sarapan, mau sarapan di sini?" tawar Elsa namun Robin menggeleng.
"Aku harus ke kantor secepatnya, Els," jawab Robin, kemudian ia membawa Elsa untuk duduk di sofa, di hadapan Elnas dan Arfan. Robin mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan beberapa pasang cincin pernikahan pada Elsa.
"Kamu pilih, mau yang mana?" Tanya Elsa, Elsa tampak kebingungan memilih cincin itu dan bersamaan dengan itu, Elnaz langsung duduk di samping Elsa dan ia mengintip.
"Wah, cincinnya bagus semua!" pekik Elnaz.
Keduanya sama-sama memperhatikan beberapa cincin itu. "Bagus semua sih," kata Elnaz.
"Kalau kamu suka semua, kita beli aja semaunya, jadi nanti kamu bisa pilih mau pakai yang mana," kata Robin yang membuat Elnaz dan Elsa tertawa. Berfikir Robin bercanda, namun karena Robin hanya diam saja dan menampilkan wajah seriusnya, Elsa dan Elnaz langsung terdiam.
"Aku rasa cincin pernikahan itu cuma ada satu," sambung Arfan. "Pilih yang kalian sukai dan yang memiliki makna dan harapan bagi kalian." lanjutnya.
Elsa kembali melihat cincin itu satu persatu hingga akhirnya pilihannya jatuh pada cincin yang di kelilingi dengan berlian kecil.
"Yang ini, bagaimana?" Tanya Elsa pada Robin. "Ada mata berlian di sekelilingnya, semoga kita juga selalu di kelilingi keindahan, kebahagiaan, keberkahan." lanjutnya dan Robin pun tampak menyukai pilihan calon istrinya itu.
"Baiklah, berarti tinggal gaun pernikahannya. Kalau soal undangan dan yang lainnya, biar aku yang urus," tukasnya.
"Oooh, so sweet..." kata Elnaz sembari menatap kakaknya itu menggoda, membuat Elsa terkekeh.
"Apa sih, El." Elsa menoel pipi Elnaz yang masih sangat tembem sementara Robin yang tertawa kecil, beda halnya dengan Arfan yang justru mencebikan bibirnya.
"Memangnya Kaka selama ini kurang sweet sama kamu, Sayang?" Tanyanya kemudian.
"Kamu masih manggil suamimu kakak, El?" tanya Robin.
"Iya, sudah kebiasaan dari kecil. Kenapa, aneh ya?" tanya Elnaz sambil meringis.
"Kakakmu lebih aneh, El. Masak dia manggil aku bocah tengil?"
"huh?"