After Darkness

After Darkness
Episode 81



Bu Anita terlihat sangat senang setelah mengunjungi restaurant setelah cukup lama ia hanya bisa mengurung diri di rumahnya dengan segala keterbatasan yang ia miliki.


"Nyonya terlihat sangat senang hari ini," kata Bi Sum yang menyiapkan air hangat di baskom untuk merendah kaki Bu Anita.


"Ini juga aneh, Bi. Padahal aku keluar rumah untuk menemui pengacara dan mengurus perceraian, tapi entah kenapa aku merasa senang saat berkunjung ke restaurant, aku merasa kembali bisa menghirup udara bebas." Bi Sum tersenyum mendengar ucapan Nyonya besarnya itu.


"Saya juga ikut senang," ucapnya kemudian ia memasukan kaki Bu Anita ke dalam baskom.


"Oh ya, Bi. Menurut Bibi, Elsa itu tipe wanita yang bagaimana? Karena aku lihat, Elsa cukup dekat dengan Bibi," kata Bu Anita kemudian yang membuat Bi Sum terkekeh.


"Dia wanita yang arogan, sombong," jawab Bi Sum.


"Sudah ku duga," gumam Bu Anita.


"Tadi sebenarnya dia wanita yang baik, Nyonya. Buktinya saja, waktu itu dia bela-belain memmembuat kue tart untuk Nyonya padahal dia sudah mau tidur,"


"Kue tart?" tanya Bu Anita.


"Iya, kue ulang tahun yang kakata Den Robin sedikit jelek tapi rasanya lumayan."


"Jad itu buatan Elsa?"


"Iya."


"Tapi kenapa dia membuatkan aku kue? Bukannya dia membenciku?"


"Nyonya juga membencinya 'kan? Lalu kenapa Nyonya bertanya tentangnya?" Bu Anita langsung terdiam mendengar Bi Sum yang justru balik bertanya padanya.


" Saya juga yakin, Elsa tidak mungkin mau jadi selingkuhan, Nyonya. Dia pernah berkata, kalau laki-laki itu tidak ada yang baik, jika ada yang baik, maka itu hanya awalnya saja."


...


"Dia mau menikah sama Elsa?" gumam Rion yang saat ini sedang dalam perjalanan pulang. Rion masih merasa tak percaya dengan apa yang di katakan Robin, apalagi bagi Rion, Robin masih sangat muda sedangkan Elsa adalah wanita dewasa.


"Rasanya tidak mungkin wanita dewasa seperti Elsa mau menikah sama Robin yang masih kecil, sama aku saja yang sudah termasuk pria dewasa dia cuek, apalagi sama Robin?" Rion menggelengkan kepalanya, mencoba mengenyahkan segala pertanyaan yang berputar dalam benaknya itu.


"Padahal aku juga menyukai Elsa, kenapa malah terlambat?"


...


Sementara itu, Robin saat ini sedang berada di kantornya, tak perduli kantor yang sudah sepi dan semua orang sudah pulang. Robin masih harus mengurus banyak hal.


"Dan semua ini gara-gara Elsa, coba saja aku tidak ada niat balas dendam, mungkin sekarang aku menikmati hidupku sebagai mahasiswa dan bekerja part time." Robin menggerutu sendiri


"Memangnya aku menyuruhmu balas dendam?" Robin terkesiap mendengar suara Elsa yang tiba-tiba terdengar berbisik di telinganya, ia langsung menoleh dan mendapati sosok Elsa yang terkekeh, seolah mengejeknya. Robin mengucek matanya, dan seketika sosok itu hilang.


" Sialan, kenapa dia seperti hantu." geram Robin kemudian ia menutup laptopnya dengan kasar, Robin memasukan laptopnya ke dalam tas kemudian ia segera bergegas keluar dari ruangannya.


Saat di lift, Robib kembali melihat pantulan Elsa di dinding lift. Robin menoleh dan tak ada siapa-siapa.


'Sial, kenapa dia jadi gentayangan begini? "