After Darkness

After Darkness
Episode 118



"Aku akan tinggal di sini mulai sekarang untuk menjagamu," kata Robin tiba-tiba yang membuat Elsa terkejut, bahkan ia sampai tersedak susu kotak yang ia sedang ia seruput itu.


"Tinggal disini menjagaku? Maksudnya gimana? Kamu kan punya rumah sendiri," ujar Elsa ketus. Namun, walaupun bibirnya berkata demikian, ada bagian tertentu di hatinya yang merasa senang karena ia akan di temani oleh Robin.


"Itu sudah keputusanku, aku cuma punya satu maksud, yaitu menjaga anakku," jawab Robin dengan tenang.


"Lalu bagaimana dengan mama kamu? Bisa-bisa dia marahnya sama aku dan menuduhku menggodamu," gerutu Elsa yang membuat Robin tersenyum samar.


Saat ini keduanya berada di ruang tengah, Elsa sibuk menonton tv sembari menikmati susu kotak yang baru saja di belikan oleh Robin setelah Elsa merengek seperti anak-anak, sementara Robin sibuk bekerja di temani secangkir kopi yang ia buat sendiri.


"Aku sudah minta izin secara baik-baik, dia mengizinkan kok," jawabnya dan Elsa hanya mengangguk-anggukan kepalanya .


"Oh ya, saat acara 7 bulanan Elnaz nanti, aku mau pulang ya, Elnaz mau 7 bulanan di Surabaya," tukas Elsa, seperti seorang istri yang meminta izin pada suaminya, sementara Robin tampak keberatan dengan permintaan Elsa.


"Tapi bagaimana kalau sampai mereka tahu kehamilan kamu?" Tanya Robin cemas.


"Aku rasa mereka tidak akan tahu, perutku pasti masih belum besar, boleh ya?" Bujuknya dengan tatapan memelas.


"Okey," jawab Robin akhirnya yang membuat Elsa tersenyum sumringah.


Robin melirik jam di ponselnya, jam 21.40. "Ini sudah malam, sebaiknya kamu tidur," tukas Robin pada Elsa dan Elsa pun menurut saja, ia melempar kotak susunya itu sembarangan kemudian ia bergegas ke kamar Robin yang kini menjadi kamarnya.


Elsa langsung merangkan naik ke tengah ranjang, ia menarik guling kemudian memeluknya, ia juga menarik selimut, Elsa menghirup aromanya yang benar-benar seperti aroma terapi untuknya .


Sambil memeluk guling Robin dan menghrup aroma Robin yang tertinggal, Elsa mulai memejamkan mata, dan entah mengapa, ia memabayangkan seolah Robin yang memeluknya.


Di luar, Robin masih berusaha menyelesaikan pekerjaannya yang sempat tertunda, tanpa terasa sadar hari ini sudah lewat tengah malam, namun pekerjaan Robin seolah tak ada selesainya, Robin bahkan kini sudah menghabiskan 2 gelas kopi.


"Astaga...." Robin menggeliat lelah, meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku. Matanya sudah terasa begitu berat, seluruh tubuhnya kaku dan pegal, mata Robin seolah tak mampu lagi terbuka meskipun ia sudah meminum kopi. Robin menjatuhkan dirinya di sofa, berniat ingin istirahat sejenak namun karena lelah, ia tertidur.


Keesokan paginya, Elsa terbangun lebih dulu. Dan saat keluar dari kamar, ia melihat Robin yang masih tertidur di sofa.


Elsa mendekati anak muda itu, Elsa berlutut di depannya, memandangi wajahnya yang ternyata sangat tampan saat di tatap dari dekat seperti ini, tanpa sadar sudut bibir Elsa tertarik, membentuk sebuah senyum samar bahkan senyum itu sampai ke matanya.


"Kalau anakmu cowok, mungkin bisa mewarisi wajah tampanmu kali ya," gumam Elsa.


Deru napas Robin begitu lembut, namun keningnya berkerut. Elsa pun memberanikan diri memijat kening Robin dengan sangat lembut hingga perlahan kerutan itu hilang. Robin mengerang lirih dalam tidurnya, ia bergerak tidak nyaman mungkin karena tidak memakai bantal.


Elsa pun mengambil bantal ke kamarnya, kemudian ia mengangkat kepala Robin dengan pelan namun tiba-tiba Robin membuka mata yang membuat Elsa terkejut. Tatapan keduanya bertemu, dengan tangan Elsa yang masih memegang belakang kepala Robin.


Posisi keduanya begitu intim saat ini, membuat detak jantung keduanya berpacu cepat.


Tbc...


Apa yang terjadi selanjutnya? Apakah...