After Darkness

After Darkness
Episode 165



Elnaz meringis saat melihat keadaan kakaknya itu, kakak yang dulu arogan, sombong, kini terlihat tidak berdaya, matanya sayu, wajahnya pucat. Arfan juga terkejut melihat mantan tunangannya dalam keadaan yang tak pernah ia bayangkan itu.


Elnaz membawa Elsa ke kamar tamu, mempersilahkan kakaknya itu beristirahat, sementara orang tua mereka ada di kamar yang lain.


Setelah itu Elnaz kembali ke kamarnya dan ia melihat Arfan yang sedang bermain dengan Aurora. "Anak Papa sudah bisa apa, hm? Sudah bisa ketawa ya?" Arfan berbicara dengan bayinya yang masih berusia beberapa bulan it itu, sang bayi hanya merespon dengan terus menendang-nendangkan kakinya dan tangannya pun seolah meraba udara.


"Kak...." Elnaz duduk di tepi ranjang.


"Kenapa, Sayang?" Tanya Arfan kemudian ia pun duduk berhadapan dengan Elnaz.


"Kak Elsa kasihan sekali ya, Kak," kata Elnaz dengan lirih, Arfan terdiam sejenak sebelum akhirnya ia menyambar kunci mobilnya yang ada di atas di meja.


"Ini, kamu bisa nyetir mobil sampai hotel, kan?" Tanya Arfan sembari meletakkan kunci mobil itu di tangan Elnaz.


"Hotel tempat Robin akan melangsungkan pernikahan?" Tanya Elnaz dan Arfan mengangguk.


"Mau ngapain? Mau labrak Robin? Itu kan sudah pilihan dia, Kak," tukas Elnaz.


"Lupakan pilihan Robin dan fikirkan kakakmu sebelum dia mati pelan-pelan," jawab Arfan yang membuat Elsa mengernyit bingung.


"Kok Kak Arfan berbicara seperti itu?" Tanya Elnaz dengan alis yang mengkerut.


"Sayang...." Arfan menggenggam tangan Elnaz dengan lembut. "Kalau misalnya kakak pergi bersama wanita lain membawa Auroa, kamu gimana?"


"Mati di tempat kali aku, Kak."


"Tepat sekali, itu juga yang Elsa rasakan. Dia sangat mencintai Robin apalagi sekarang mereka punya anak, kehilangan mereka berdua sama seperti kehilangan jiwanya, Sayang."


Elnaz terdiam sejenak sambil menatap kunci mobil itu, baru sebulan yang lalu ia belajar menyetir.


"Sebenarnya aku bisa mengantar Elsa kesana tapi aku tidak mau nanti rumah berantakan kali karena istriku pasti cemburu," kata Arfan menggoda sang istri, mengingatkannya pada masa-masa awal penyatuan cinta mereka. Elnaz tersipu malu namun kemudian ia pun beranjak berdiri.


"Okay," jawab Elnaz kemudian ia mengecup sudut bibir suaminya. "Jaga Ara ya!" Arfan tersenyum kemudian mengangguk.


Elnaz menjemput Elsa ke kamarnya dan ia menemukan kakaknya itu duduk termenung dengan pandangan yang kosong.


"Kak...." Elsa mendongak. "Ikut yuk!"


"Kemana?" Tanya Elsa dengan suara serak.


"Kalian mau kemana?" Tanya Bu Isna yang menghentikan langkah mereka.


Elnaz menatap Elsa, ia tidak tahu bagaimana menjelaskan pada ibunya apalagi tak lama kemudian sang ayah juga datang.


Elsa mendekati mereka, dan tiba-tiba Elsa bersimpuh di depan kedua orang tuanya itu. Elsa kembali meneteskan air mata namun kali ini ia mencoba tegar.


"Ma, Pa...." Elsa menarik napas dalam, suaranya tercekat namun ia tetap berusaha berbicara pada orang tuanya, pak Malik dan Bu Isna pun hanya bisa diam dengan perasaan yang bercampur aduk.


"Aku minta maaf karena aku selalu gagal menjadi anak yang baik. Aku minta maaf, karena aku selalu menyakiti kalian, selalu membuat kalian malu, sedih, dan membawa aib untuk keluarga kita." Elsa menghapus air matanya dengan punggung tangannya.


"Dan aku tahu, hamil di luar nikah, memiliki anak sebelum menikah itu adalah aib terbesar bagi keluarga kita, pukulan dan beban yang begitu berat untuk kalian. Tapi..." sekali lagi Elsa menarik napas panjang. "Tapi bagaimanapun juga dia anakku, jika aku dan putraku memang aib untuk keluarga kita, maka aku tidak akan pernah menginjakan kaki di rumah kalian dan kalian boleh menganggapku sudah mati. Aku bisa hidup dengan pandangan sinis orang lain tapi aku tidak bisa hidup tanpa putraku."


.........


Robin melirik jam dinding di kamarnya, kemudian ia mengambil kemejanya dan memasang kemeja itu dengan tenang. Sementara sang bayi masih tertidur dengan pulas.


Tak lama kemudian Bu Anita datang dan Pak Andrew datang, mereka berdua sudah dalam pakaian yang sangat rapi.


Pak Andrew memang di minta datang oleh Robin, karena benar apa yang di katakan, sampai kapanpun pak Andrew akan jadi ayahnya dan sekarang ayahnya itu sudah berubah.


"Sudah siap, Rob?" Tanya Bu Anita.


"Iya, Ma," jawab Robin.


"Kami bawa si kecil keluar ya," kata Bu Anita namun Robin tak mengizinkannya.


"Biarkan saja, Ma. Biar nanti aku yang bawa."


"Tapi...."


"Sudahlah," sambung Pak Andrew menyela ucapan Bu Anita dan Bu Anita pun mengalah. Meraka berdua pun segera pergi dari sana, Robin hanya tersenyum samar dan saat ia hendak mengambil jasnya, tiba-tiba pintu kembali terbuka.


"Ma, sudah aku bilang ... Elsa?"


Tbc....