After Darkness

After Darkness
Episode 189



Robin memeluk Elsa dengan begitu posesif, dan sesekali ia mengecup pundak sang istri yang tak tertutupi apapun itu.


Sementara Elsa sudah setengah tertidur, ia begitu lelah setelah melayani suaminya selama beberapa jam dan beberapa ronde, Elsa benar-benar kehabisan tenaga malam ini dan untungnya si kecil tidak bangun.


Hal itu adalah kesempatan emas bagi Robin, kapan lagi ia bisa bercinta dengan istrinya sampai benar-benar puas seperti sekarang?


Puas? Apakah ia benar-benar merasa puas? Atau hanya butuh sedikit istirahat?


" Aku rasa aku tidak akan pernah puas, aku hanya butuh sedikit waktu istirahat," gumam Robin sambil terkekeh dengan pemikiran liarnya itu.


Tangan Robin yang sejak tadi memeluk perut Elsa kini menggerangi perut bagian bawah Elsa, dan ia menahan napas saat ia menurunkan tangannya itu lebih ke bawah.


"Emmhhh...." Elsa menggeliat dan melenguh saat jari Robin kembali memasuki lembah yang hangat itu. "Apa, Sayang?" Tanya Elsa dengan suara seraknya dan matanya masih tertutup, pinggulnya mulai menggeliat dan bergerak tak karuan saat Robin memainkan jemarinya disana, menari erotis di tempat yang tepat.


"Achhh..." Elsa kembali mengerang lebih keras, ia membuka mata, Elsa menolehkan kepalanya dan Robin langsung mellumat bibir Elsa dengan rakus.


Elsa membalas ciuman sang suami, walaupun sebenarnya ia merasa lelah bahkan seluruh tubuhnya pegal, namun hasrat Elsa kembali terpancing hanya karena permainan jari sang suami.


Hasrat Robin semakin memuncak saat Elsa membalas ciumannya, dan ia menggesekan pusakanya itu yang telah kembali berdiri kokoh, keras dan besar ke bongkahan bokong Elsa.


Elsa meremang, darahnya berdesir panas dan jantungnya berdebar saat merasakan bukit gairah sang suami yang menggodanya itu, seolah ingin menerobos masuk.


"Lebih cepat, Sayang. Aku ... aku ...." Elsa mengejang saat sekali Robin mengantarkannya ke puncak hanya dengan dua jarinya, Robin berseringai puas saat Elsa melenguh panjang.


Napas Elsa memburu, gairahnya pun kian memuncak, ia berbalik badan dan menaiki tubuh Robin, sekali lagi Robin berseringai, entah kenapa gairahnya meningkat berkali-kali lipat saat Elsa yang memegang kendali di atas ranjang.


"Apa kau tidak lelah, hm?" Elsa bertanya sembari naik turun di atas tubuh sang suami. "Dia masih berdiri kokoh, oh.... Memenuhiku!" desahnya. Robin memegang pinggul Elsa dan membantu Elsa bergerak lebih cepat.


"Tidak, Sayang. Aku tidak lelah, emmmhhh"


"Yeah... Dia memang benar-benar.... Oh, memenuhiku, ahh, di dalam sana penuh sekali."


Keduanya terus bergerak seirama, dan mereka lupa dengan waktu yang semakin larut, lupa dengan kondisi kamar yang tak kedap suara, bahkan lupa dengan bayi mereka yang masih terlelap.


Suara *******, erangan, dan suara tubuh mereka yang menyatu berpacu dengan suara decitan ranjang. Bantal dan seprei sudah tak berbentuk lagi, kini Robin juga telah mengambil kendali.


Keduanya terus memacu diri, mengejar kenikmatan ternikamat yang termpapang jelas di depan mata meraka.


Suhu kamar itu terasa panas meskipun ac menyala, keringat membanjiri tubuh keduanya hingga tubuh mereka mengkilap.


Tak perduli dengan seluruh tubuh yang telah lengket karena keringat maupun ****** *****, keduanya terus berpacu hingga keduanya kembali lemas tak bertenaga.


Robin ambruk di atas tubuh sang istri dengan pusat tubuh meraka yang masih menyatu, dan di saat yang bersamaan, terdengar suara tangis baby Arjun.


Elsa dan Robin saling pandang sebelum akhirnya tertawa bersama. "Dia pintar sekali, bangun setelah kita selesai. Ahhh" Robin kembali mengerang saat sang suami menarik diri.


"Tunggu disini, biar aku yang mengurus si kecik," tukas Robin sambil berdiri, memakai celananya kembali. Elsa hanya mengangguk lemah, ia benar-benar lelah.


Robin ke kamar mandi untuk mencuci tangannya, setelah itu ia membuatkan susu untuk Baby Arjun, kemudian ia mengambil baby Arjun dari box bayinya, memangkunya dan memberikan susu dot itu padanya.


Elsa hanya bisa menatap mereka dengan senyum lemah, Robin memang bocah tengil, tapi ia ayah dan suami yang hebat.


"Tidur ya, Nak. Mama masih capek, jadi malam ini minum susu formula dulu ya. Susu aslinya bagian Papa malam ini."


"Dasar..." gumam Elsa.