After Darkness

After Darkness
Promo Author JBLACK



Promo gaess... Hehe, punya othor sebelah. Yang suka, cus mampir.


Judul : The Billionaires Twins Baby


Penulis : JBLACK


Cuplikan bab...


Tepat pukul enam sore. Seorang pria tampan tengah memasuki rumah yang selalu mengingatkannya dengan sang istri. Matanya menatap sekeliling sampai suara lembut sang istri menyapa dirinya.


"Aku merindukanmu," katanya dengan mencium kening sang istri tanpa peduli raut wajah jengah sang mama yang berdiri tak jauh dari keduanya.


Galexia terkekeh pelan. Dia mencubit hidung sang suami dan segera mengambil alih tas kerjanya. "Gombal," ledek Sia membuat pria itu tertawa.


"Halo, Ma. Bagaimana kabar, Mama?" tanya pria itu lalu memeluk Pandora dengan erat.


"Mama baik-baik saja, Nak." Pandora mengelus kepala sang putra dan pelukan keduanya merenggang. 


"Kakak mau mandi?" tanya Galexia sambil berjalan mendekat ke arah sang suami dan mertuanya. 


Pria itu mengangguk. "Badanku sudah bau, Sayang. Pekerjaan di kantor juga padat."


"Ya udah. Sia siapin air hangat dulu yah?" Saat Sia hendak melangkahkan kakinya. Suara sang mertua membuatnya mau tak mau menoleh.


"Sia, apakah ini milikmu?" tanya Pandora dengan mengangkat salah satu tangannya yang memegang sebuah benda persegi panjang. 


Jantung Sia berhenti berdetak. Bahkan matanya melebar ketika menyadari apa yang tengah dipegang mertuanya. 


Bagaimana bisa benda itu ada pada, Mama, ucapnya dalam hati.


"Apa itu, Ma?" tanya pria itu lalu mengambil ahli benda itu.


Seketika raut wajah sang pria berubah. Dia tak bodoh dan tahu alat apa yang dipegang mamanya. Serta garis dua yang ada, membuatnya menatap sang istri dengan tatapan tak percaya.


"Siapa ayah dari anak itu!" tanyanya sambil memperlihatkan garis dua pada tespek di tangannya. 


"Ini anakmu, Kak," ucap suara perempuan dengan tangisan hebat di kedua matanya. 


"Jangan berbohong, Sia! Katakan! Anak siapa itu?" teriak sang pria dengan wajah memerah menahan kemarahan yang begitu besar. 


"Ini benar anakmu, Kak. Ini anakmu!" teriak Galexia dengan mata memerah karena terlalu banyak menangis.


Jujur ini sangat menyakitkan untuk Sia. Di saat semua pasangan di luar sana merasa bahagia ketika mendapati istrinya hamil. Namun, tidak dengannya, justru suami yang dia cintai meragukan buah hati yang baru saja dia kandung. 


"Dasar menantu tidak tahu diri. Anak haram siapa yang kau kandung itu, 'hah?" seru sang mertua dengan nada tinggi. 


"Aku berani bertaruh, Ma. Ini anak suamiku," lirih Galexia dengan suara parau.


"Masih saja berbohong. Dasar penipu. Cepat katakan! Siapa ayah dari anak itu?"  


"Hiks...aku berani bersumpah jika ini adalah anakmu, Kak," lirihnya dengan menatap wajah suaminya dengan lekat.


Memandang wajah suaminya tentu membuat Galexia mengingat bayangan ketika malam panas itu terjadi. Saat itu di luar rumah sedang turun hujan deras, hingga entah kenapa membuat Galexia merasa mengantuk. Dia menatap jam dinding di kamarnya yang menunjukkan pukul sebelas malam. 


Sudah selarut ini, tapi mama mertua dan suaminya belum pulang. Keduanya memang pamit keluar untuk menghadiri acara kolega mertuanya. Hingga dengan terpaksa, Galexia tak ikut acara tersebut.


Semakin lama kantuk itu menyerang hingga membuat Galexia tertidur. Terlalu lelah atau mungkin karena sudah mengantuk, ia tak menyadari jika pintu kamar terbuka dan masuklah seorang pria yang sedari tadi dia tunggu.


Perlahan Galexia merasakan sapuan hangat di wajahnya dan tak lama kecupan-kecupan ringan di wajah membuatnya terpaksa bangun. Matanya melebar saat mencium aroma alkohol dari tubuh suaminya. Dia segera duduk dan mendorong tubuh pria yang begitu dia cintai ini.


"Kakak minum yah?" tanya Galexia sambil menatap penampilan suaminya yang berantakan.


"Sedikit," sahutnya dengan kembali memajukan wajahnya di ceruk leher sang istri.


"Kak," lenguh Galexia saat merasakan lehernya dihisap kuat oleh sang suami.


Entah siapa yang memulai, akhirnya setelah hampir satu minggu menikah. Malam ini keduanya baru menghabiskan malam pertama yang begitu panas. Seakan dua tubuh itu saling mencari kenikmatan pada yang lain. Tak mau berhenti dan sikap liar sang suami tentu membuat Galexia tak bisa menolak. 


Hingga pagi harinya, ketika Galexia membuka mata, dia hanya sendirian di dalam kamar dan dengan keadaan ranjang yang berantakan. Namun, ada hal yang janggal yang ia lihat. Dia tak menemukan keberadaan sang suami sekaligus pakaiannya yang berantakan. 


"Kau!" tunjuk pria tampan itu lalu mendekat.


Suaranya yang kencang tentu menyadarkan Galexia dari lamunannya. Dia begitu ketakutan ketika melihat sosok yang berbeda dalam diri suaminya. Bahkan Sia bisa merasakan tubuhnya gemetaran ketika sang suami mendekatinya. 


Pria itu mengapit kedua pipi Galexia dengan kuat hingga wajah keduanya saling berhadapan. Bisa Sia lihat, di mata sang suami tak ada lagi cinta kasih seperti biasanya, melainkan kemarahan dan keraguan yang begitu besar hingga membuat Sia tak merasakan sakit di tubuhnya. Semua seakan kalah dengan perasaan hancur di hatinya. 


"Sampai kapanpun aku tak akan mengakui anak itu, ******!" Tangannya menghempaskan wajah Sia dengan kasar hingga meninggalkan bekas merah di kedua pipinya. "Aku talak kamu sekarang dan pergi dari rumahku!"