
"Aku tidak mau tahu, aku mau janin itu tumbuh, aku mau bayi itu lahir dan kamu harus melahirkannya!"
Elsa yang mendengar ucapan Robin itu termangu, tentu ia terkejut, merasa di paksa dan merasa sangat tidak di hargai. Apalagi Robin berkata dengan begitu lantang, bahkan menarik perhatian orang-orang di sekitar mereka.
Elsa yang merasa marah sekaligus malu langsung berlari pergi dari sana yang tentu saja langsug mendapatkan teriakan dari Robin.
"Jangan lari, Els!"
"Ingat ada anakku di dalam perut kamu! Awas saja kalau sampai terjadi sesuatu dengan anakku!"
Elsa tak memperdulikan teriakan Robin sama sekali, ia terus berlari hingga ke parkiran dan tentu Robin mengejarnya.
"Elsa!" Geramnya saat ia berhasil menangkap Elsa, Robin menarik tangannya dan hati Robin terkesiap saat ia melihat Elsa yang sudah berderai air mata.
"Els..." lirih Robin.
"Aku harus bilang apa sama orang tuaku? Mereka akan marah, malu, dan pasti akan membenciku," ucapnya lirih.
"Kita bisa fikirkan semuanya dengan kepala dingin, Els. Kita bicarakan ini baik-baik dan cari solusinya bersama, aku mohon!"
"Solusi apa? Tidak ada solusi yang lebih baik selain menyingkirkan janin ini!" Robin menghela napas berat, berusaha tidak lagi terpancing emosi karena kelakuan Elsa.
"Sebaiknya kita bicara di tempat lain, jangan di sini!"
"Tidak ada yang perlu di bicarakan lagi, jadi sebaiknya kasih aku uang secepatnya supaya aku bisa menyingkirkan janin ini secepatnya juga!" Balas Elsa kemudian.
"Baik, kalau kamu masih bersikeras ingin menggugurkan kandunganmu, aku akan memberi tahu orang tuamu tentang kehamilanmu!" Gertak Robin yang tentu saja membuat Elsa langsung bungkam, karena ia tahu Robin tidak hanya akan menggertak.
"Bagaiamana?" Tanya Robin dengan senyum sinis di bibirnya, Elsa hanya bisa mengepalkan tangannya dan menggertakkan giginya.
"Sebenarnya mau kamu apa?" Tanya Elsa kemudian. "Kamu itu masih kecil, apa kamu mau punya anak?"
"Jalan, Pak!" Titah Robin pada sopir taksi dan perlahan mobil pun mulai berjalan. "Aku bukannya ingin anak, tapi anak ini sudah ada, jadi lebih baik aku merawatnya dari pada membunuhnya. Kalau kamu memang tidak mau anak ini, sama sekali tidak masalah. Aku hanya butuh kamu sampai anak ini lahir, setelah itu, terserah kamu, mau anak ini atau tidak." Elsa tertawa sinis saat mendengar apa yang di katakan Robin.
"Kamu fikir aku apa? Mesin pencetak anak?" Desisnya.
"Bukan, hanya kebetulan saja kamu jadi ibu dari anakku." Elsa yang mendengar ucapan Robin itu hanya bisa terdiam.
Menjadi ibu? Sebenarnya kata itu sangat indah, setiap perempuan memimpikan status itu dan dengan menjadi ibu akan membuat perempuan merasa sempurna. Namun, menjadi ibu dari anak hasil perkosaan? Dan pria yang menghamilinya adalah pria yang sangat ia benci, lalu bagaimana Elsa bisa bahagia?
Sepanjang perjalanan, tak ada lagi kata yang terucap baik dari Elsa maupun Robin. Keduanya bungkam dan saling memalingkan wajah, sibuk dengan fikiran dan perasaan masing-masing. Elsa bingung, memikirkan keinginan Robin yang menginginkan bayinya. Sementara Robin juga bingung, bagaimana ia memberi tahu mamanya akan hal ini?
"Kamu harus ikut aku ke Jakarta lagi!" Tegas Robin kemudian, Elsa hanya meliriknya sekilas tanpa mau bersuara. "Aku tahu, kamu tidak akan mau menikah denganku, aku pun tidak berfikir bisa menikah denganmu. Tapi aku menginginkan bayi itu, jadi kamu harus ikut aku, tinggal bersamaku sampai bayi itu lahir."
"Terus aku harus bilang apa sama orang tuaku?"
"Bilang saja kamu bekerja di perusahaanku, akan aku urus itu!"
"Kamu benar-benar bocah gila! Kamu masih kecil, bagaimana bisa kamu menjaga anak ini?"
"Kalau aku masih kecil, aku tidak akan berhasil membuahimu!"
"Robin!!!"
"Itu faktanya!"