
Robin duduk di kursi kebesarannya sambil memainkan pensil di meja kerjanya, ia memikirkan apa yang tadi ia dengar dari Jimmy.
Tadinya Robin ingin menghampiri Jimmy dan Hannah namun Robin mengurungkan niatnya itu setelah mendengar ucapan Jimmy yang tak pernah ia sangka.
"Apa benar Elsa memang tidak tahu kalau Jimmy sudah punya istri?" gumam Robin yang kini mengetuk-ngetukan pensil ke mejanya, ia berfikir keras mencari jawaban dari segala pertanyaannya.
"Sebaiknya aku tanya Elnaz saja," ujar Robin kemudian ia pun beranjak dari kursinya.
Robin keluar dari ruangannya dan ia berpapasan dengan Joanna yang hendak menemui Robin.
"Pak, ada berkas yang harus di tanda tangani," kata Joanna.
"Apa penting?" tanya Robin
"Iya, Pak." jawab Joanna dan Robin pun menandatangani berkas itu dengan buru-buru "Em, memangnya Pak Robin mau kemana? Buru-buru sekali," ucap Joanna kemudian.
"Mau menemui temanku yang lagi sakit," jawab Robin kemudian ia menyerahkan berkas yang sudah ia tanda tangan itu.
"Mau saya temani, Pak?" tawar Joanna sambil tersenyum manis.
"Tidak usah," jawab Robin dingin kemudian ia bergegas pergi begitu saja membuat Joanna langsung mencebikan bibirnya.
"Pak Robin ketus amat sih, apa dia sama sekali tidak tertarik sama aku karena aku lebih tua dari dia?" gumam Joanna kesal.
.........
"Cuma Elnaz yang bisa memberi tahuku, aku yakin Elnaz tidak akan berbohong," gumam Robin. Ia pun segera turun dari mobilnya dan memasuki rumah sakit, namun pandangan Robin menangkap sosok Elnaz yang saat ini sedang duduk di kursi-roda dan ada Arfan di sampingnya.
"Ada suaminya lagi," gumam Robin kesal "Dia cemburuan, selalu ketus sama aku." monolognya.
Robin pun terpaksa mengurungkan niatnya, walaupun begitu, ia memerhatikan Elnaz sejenak. Robin bersyukur karena Elnaz baik-baik saja meskipun lukanya terlihat sangat parah.
Robin kembali masuk ke dalam mobilnya dan sekarang ia bertekad akan menemui Jimmy dan bertanya secara langsung.
.........
Pak Andrew mencoba menggerakkan jari jemarinya dan ia terlihat sangat senang karena ia bisa melakukan itu, selama dua hari ini Robin memang tak mencekokinya dengan obat lagi.
Pak Andrew melirik pintu, berharap ada yang segera masuk ke kamarnya dan benar saja, tak lama kemudian pintu kamar terbuka dan tanpa di duga justru Elsa lah yang muncul.
Elsa menutup pintu pelan pelan kemudian ia segera mendekati Pak Andrew.
"Maaf, Pak. Aku ada perlu sebentar," kata Elsa kemudian ia mengeluarkan silet dan melukai jari pak Andrew. Membuat Pak Andrew terkejut dan ia langsung menatap Elsa dengan bingung.
"Ini demi kebaikan Pak Andrew," kata Elsa yang kini mengambil sampel darah Pak Andrew "Aku ingin memastikan sebenarnya apa yang sudah Robin lakukan sama Pak Andrew, apa dia meracunimu, atau apapun lah itu." lanjutnya yang membuat Pak Andrew tercengang. Elsa pun kini membalut luka Pak Andrew dan setelah itu segera keluar kamar dengan perasaan was-was.
Namun Elsa bernafas lega karena tak ada siapa-siapa disana, Elsa pun dengan cepat kembali ke kamarnya. Elsa mengunci kamarnya dan ia memegang dadanya yang berdebar.
"Kalau Robin macam-macam sama Elnaz, aku juga bisa melakukan hal yang sama. Sekarang aku hanya harus memikirkan bagaimana caranya mengirim sampel darah ini ke rumah sakit supaya aku tahu apa yang sebenarnya terjadi sama Pak Andrew."